Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Ngoahahahaha, wkwkwkwk, gagagagaga, ada-ada saja usul usil dari TKN Jokowi. Katanya, penyampaian visi misi tidak perlu oleh paslon, cukup oleh Timses.

Lah, kita ini mau memilih paslon caPres caWapres atau milih Timses sich ? Kita ini mau memilih calon pemimpin atau memilih para botoh ?

Penyampaian visi misi itu tak sekedar apa yang mau dituju pada masa depan, tindakan dan kebijakan apa yang akan diambil untuk meraih tujuan masa depan yang telah ditetapkan. Tetapi juga terkait komunikasi. Terkait genuesitas. Terkait kapasitas.

Penyampaian visi dan misi oleh paslon setidaknya selain memaparkan substansi, juga menghadirkan komunikasi awal paslon sebelum akhirnya kelak Paslon ini dituntut terus berinteraksi dan tentu melalui sarana komunikasi dengan rakyat.

Pada tahap ini, rakyat akan mengetahui seberapa jauh komunikasi efektif yang mampu dihadirkan paslon. Komunikasi efektif setidaknya memuat :

Pertama, unsur pilihan kata dan bahasa. Komunikasi yang mampu menghasilkan bahasa yang komunikatif, menjiwai dan meresapi ide, serta kontekstual dan empatik terhadap calon pemilih -yang jika menang kelak menjadi rakyatnya- akan sangat menentukan keyakinan rakyat.

Lagipula kelak paslon akan dituntut terus berkomunikasi dengan rakyat sehubungan dengan berbagai kebijakan dan keputusan politik yang diambilnya, ketika menang Pilpres.

Kedua, unsur bahasa tubuh, suara dan mimik wajah. Bahasa tubuh yang tanang, tatapan yang menen-tramkan, menyemangati, suara yang khas dengan karakter calon akan mampu mengkonfirmasi :

Apakah visi misi itu benar keluar dari paslon -atau setidaknya sebagian besar adalah ide paslon- atau malah mengkonfirmasi ujaran visi misi dan yang disampaikan adalah produk copy paste.

Hal ini penting, agar publik bisa diyakinkan oleh calon bahwa calon mampu merancang visi, menentukan misi, mengontrol pelaksanaan dan eksekusi termasuk mampu melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan tata kelola pemerintahan. Akan ada kesulitan untuk melakukan komunikasi visi misi jika itu produk copy paste.

*Ketiga,* soal kapasitas. Dengan disampaikan secara langsung oleh paslon, tentu publik akan memiliki gambaran awal -meskipun bukan ukuran seutuhnya- tentang bagaimana kualitas dan kapasitas paslon.

Jika yang mengujar kata dan berbusa itu TKN, Timses, atau para botoh, memangnya mereka yang mau jadi Presiden dan wakil Presiden ?

Lagipula, Jokowi telah berpengalaman melakukan komunikasi dengan rakyat selama lebih dari 4 (empat) tahun selama masa jabatannya. Semestinya, TKN Jokowi tak perlu khawatir dengan kemampuan Jokowi.

Sekali lagi, saya katakan Jokowi berpengalaman lebih dari 4 (empat) tahun berkomunikasi. Bukan berarti Jokowi mahir melakukan komunikasi selama empat tahun menjabat sebagai Presiden.

Saya sendiri sedikit agak ragu, jika menampilkan Jokowi didepan panggung. Era saat ini berbeda jauh dengan era 2014. Saat itu, Jokowi dianggap solusi bangsa, dukungan psikologis rakyat membuat Jokowi 'pede' berdebat dan menyampaikan visi misi.

Namun saat ini, di benak Pak Presiden telah bergumul informasi banyaknya rakyat yang tidak puas atas pemerintahnya. Kritik bertubi disampaikan rakyat, sehingga sebelum naik panggung debat, Jokowi telah dihantui oleh 'teriakan dan sorak sorai' dari rakyat yang ingin ganti Presiden

Lagipula pasangan Jokowi sebagai Wapres, juga tak mungkin secara utuh bisa menyampaikan pidato yang menggugah atau menyentak semangat rakyat.

Salah-salah, cawapres Jokowi justru mengulang-ulang teriakan : budeg, buta, capresuna capresikum, mohon maaf telah menjadi saksi ahli yang memberatkan Ahok, sehinga bukannya meningkatkan elektabilitas justru penyampaian visi misi merontokkan suara pemilih.

Aduh...bingung, pusing, beban berat menjadi TKN Jokowi. Sebab, jika dipaksakan Jokowi bukannya tampil memukau, tapi malah berulang mengeja kata :

anu, apa ? Anu, apa ? Anu, apa ? Dan Diakhir penyampaian visi misi, Jokowi menutupnya dengan redaksi khatimah : BUKAN URUSAN SAYA. [MO/ge]

Posting Komentar