Oleh Julia 
( Blogger sekaligus penulis buku)

Mediaoposisi.com-Merantaulah agar kau tahu betapa mahalnya tiket mudik.  Ungkapan tersebut  biasanya baru muncul ketika lebaran tiba, namun hari -hari ini sudah mulai terasa meski musim mudik belumlah dimulai. Pasalnya, harga tiket pesawat sudah melambung tinggi meski bukan dalam waktu peak season atau lebaran.

Bagaimana tidak, harga normal tiket untuk penerbangan Surabaya ke Pangkalpinang yang biasanya dijual dengan harga 900 ribuan per orang, kini naik menjadi  1.7 jutaan rupiah. Anehnya harga tiket Internasional tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

Harga tiket pesawat Jakarta Kualalumpur hanya 365 ribuan. Jika memang operasional yang menjadi alasan kenaikan harga tiket, mengapa justru penerbangan domestik yang mengalami kenaikan harga?

Karena itu tak heran warga aceh beberapa waktu yang lalu berbondong-bondong membuat passport, karena harga tiket pesawat Banda Aceh menuju Jakarta melalui Kualalumpur jauh lebih murah dibandingkan Banda Aceh langsung ke Jakarta. (aceh.tribunnews.com/11/01/19)

Tentunya dengan kejadian ini banyak rakyat yang menjerit lantas merasa tercekik dengan kejadian ini. Tapi apa yang dilakukan pemerintah? Pemerintah malah meminta rakyat untuk ikhlas atas kenaikan tiket pesawat. (kabar.news/12/01/19)

Alih-alih membuat kebijakan yang melegakan rakyat, pemerintah malah menganggap kenaikan ini sebagai suatu yang wajar. "Saya pikir daya beli masyarakat masih masuk dalam harga pokok mereka. Jadi batas atas itu masih bisa menjangkau kebutuhan mereka," begitu ungkap Menhub seperti dilansir dari kumparan.com/ 12/01/19

Sebenarnya, kenaikan harga tiket penerbangan domestik ini berbanding terbalik dengan kebijakan yang dibuat sendiri oleh pemerintah, yaitu ingin memajukan wisata lokal atau domestik.

Jika harga tiket pesawat domestik lebih tinggi dibandingkan internasional, akankah rakyat memilih liburan ke dalam negeri? Bukannya malah mempermudah rakyat untuk mengunjungi negeri sendiri, hal ini malah menambah panjang deretan alasan masyarakat untuk enggan berwisata ke negeri sendiri.

Sebagai pengatur kebijakan, pemerintah diharapkan dapat membuat regulasi yang lebih berpihak pada rakyat, bukan malah sebaliknya. Bukankah pemerintah dipilih rakyat untuk mengatur kebijakan terkait persoalan rakyat sehingga dapat lebih baik?

Jika seperti ini yang terjadi, maka jelas sekali pemerintah telah lalai dalam menjalankan perannya sebagai pembuat kebijakan dan pengatur kemaslahatan umat.

Karena jelas sekali, hal ini  jauh dari kata pro rakyat. Meski ribuan rakyat menolak dengan kenaikan ini, melalui petisi yang telah ditanda tangani oleh hampir 300 ribu orang di change.org, pemerintah tetap mengatakan bahwa ini masih dalam kenaikan wajar.

Kemenhub menyebutkan bahwa tarif maskapai yang berlaku masih sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016. Artinya, harga tiket yang berlaku saat ini masih dalam batas wajar. (www.cnbcindonesia.com/12/01/19)

Tapi tentu polemik seperti ini akan selalu muncul pada sistem pemerintahan yang mengutamakan keuntungan atau materi di atas segala-galanya. Patokannya adalah untung rugi, bukan bisa mensejahterakan rakyat atau tidak.

Inilah bedanya aturan yang dibuat manusia, dengan aturan yang dibuat langsung oleh pencipta manusia, Allah SWT. Di dalam Islam, Allah memerintahkan pemimpin untuk bisa menjadi pemimpin yang adil, pemimpin yang kebijakannya dibuat semata untuk kepentingan rakyat.

Lihatlah bagaimana Khalifah Umar Ibn Khatab sering blusukan ke pasar untuk melakukan pengawasan langsung terhadap penyelewengan, salah satunya terkait harga pasar.

Dari Sa’id bin Al-Musayyib diriwayatkan, ‘Umar bertemu Hathib bin Abi Balta’ah yang sedang menjual kismis di pasar. ‘Umar berkata, “Kamu tambah harganya atau angkat dari pasar kami.”
Riwayat lain, dari Yahya bin Abdul Rahman bin Hathib.

Dia berkata, “Ayahku dan ‘Utsman bin ‘Affan adalah dua sekutu yang mengambil kurma dari Al-Aliyah ke pasar. Mereka kemudian bertemu dengan ‘Umar. “Wahai Ibnu Abi Balta’ah, tambahlah harganya, apabila tidak, maka keluarlah dari pasar kami,” kata Umar.

Sehingga bila pemerintah bisa mengontrol harga pasar, akan didapatkan harga yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu murah, yang tidak merugikan pedagang maupun rakyat sebagai pengguna.

Sudah saatnya kita beralih kepada pemerintahan yang menggunakan sistem Islam, yang pejabat negaranya melakukan kebijakan bukan hanya karena nafsu belaka, melainkan karena rasa takutnya kepada Allah. Sebagaimana tertuang dalam hadist,

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Tirmidzi)

Yang di dalam hatinya didasari keyakinan, bahwa semua yang ia lakukan semasa hidup, akan dipertanggung jawabkan di akhirat, sehingga akan kita dapatkan pemimpin yang adil dan tidak semena-mena kepada rakyat. Seperti yang telah dicontohkan para khalifah Islam di masa lalu.[MO/ad]

Posting Komentar