Oleh : Sania Nabila Afifah 
( Muslimah Rindu Jannah )

Mediaoposisi.com- Yogyakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) Giwo Rubianto Wiyogo menolak istilah "the power of emak-emak" (kekuatan emak-emak) .

"Sory, tak ada power of emak-emak', yang ada  'the power of ibu Bangsa'," kata Giwo saat menyampaikan laporan pada upacara pembukaan resmi Sidang Umum ke-35 International Council Of Women (ICW) dan Temu Nasioonal 1000 Organisasi Perempuan Indonesia di Yogyakarta.

Apa Sih Bedanya?

Kata Emak , Ibu, Mama, Mami, Bunda, Ummi, Mother itu hanya sebutan bagi seorang wanita yang telah menikah dan melahirkan. Semua wanita yang di panggil dengan panggilan tersebut memiliki peran yang sama dalam keluarga.

Yaitu menjadi seorang Ibu, yang mana banyak berperan dalam segala hal. Yang perlu kita ketahui bahwa Ibu dalam devinisinya adalah wanita yang telah melahirkan anaknya, seorang yang memberikan waktu 24 jam sehari tanpa bayaran, seorang yang mencintai tanpa syarat. Itulah arti dari kata Ibu dalam  bentuk (kata benda).

Dan Ibu dalam bentuk (kata kerja) adalah mengayomi, mencintai, melindungi, membimbing, memberi kenyamanan, memelihara, mendukung, merangkul, menghargai, menyemangati dan lain-lain.

Di dunia maya bergema istilah barisan emak-emak militan (BEM) . Istilah ini muncul untuk kaum yang menyindir kaum mahasiswa (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang sebagian besar mlempem menyikapi situasi kekinian bangsa. Tidak seperti dulu yang gigih berada di garda terdepan membela rakyat, kaum muda ini disindir-sindir telah kehilangan idealismenya. Betapa banyak isu-isu kekinian tanpa peran serta kaum muda untuk mengkritisinya, kecuali segelintir aktivis. Mereka kehilangan sensitivitasnya dalam permasalahan yang terjadi saat ini.

Itulah awal dari munculnya istilah emak-emak militan.
Tak bisa dipugkiri karena emak-emak adalah korban daripada kebijakan pemerintah yang berulang kali menaikkan kebutuhan pokok dan yang lainnya yang berurusan dengan dunianya emak-emak.

Emak-emak sejati atau ibu bangsa sejati yaitu ibu yang banyak berperan dalam mendidik anak-anaknya dan juga menjadi ibu bagi anak-anak yang lain. Dimana Islam memberikan status terhormat bagi kaum perempuan yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

 Berkaitan dengan status ini berlaku kaidah ;
" Al Aslu fi al-mar'ah annaha umm (un) wa rabbatu bayt (in) wahiya 'irdh (un) yajibu an yushana" .

" Hukum asal perempuan adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dan dia adalah kehormatan yang harus di jaga" .

Khalifah juga memastikan peran penting ibu terlaksana dengan optimal. Dengan menjadi benteng pertama dan utama sebagai pengemban besar menjaga masyarakat, keluarga dan Individu. Sebab penguasa kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

" Imam (kepala negara) adalah pemimpin bagi rakyatnya yang kelak akan di mintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya ".  ( HR Al -Bukhari  Muslim )

Bukan malah menciptakan perempuan yang di paksa untuk terjun kedalam kerasnya Dunia kerja dengan iming-iming gelar penyelamat ekonomi atau pahlawan devisa, sehingga mereka kehilangan peran utama nan mulia sebagai ibu pendidik generasi, istri sholihah serta pendamping suami.

Itulah peran yang  di inginkan kaum kapitalis, sehingga tak heran jika menolak istilah " The Power Of emak-emak" .

Emak-emak Pejuang Bangsa
Saat ini emak-emak tidak hanya dituntut mampu urusan rumah tangga, diluaran, emak-emak juga dituntut pula membereskan urusan ummat. Tentunya tidak sendiri, tetapi melalui komunitas, organisasi, partai politik atau jamaah.

Sebab, meski kewajiban utamanya di ranah domestik, namun ada bagian ranah publik yang membutuhkan sentuhan perjuangan emak-emak. Seperti mengedukasi kalangan sesama emak-emak, anak-anak dan remaja. Hebatnya lagi di dunia nyata dan dunia maya.

Perjuangan secara fisik sebagai perempuan di Suriah, Palestina, di Indonesia dan yang lainnya intinya adalah  sama. Yaitu  berusaha dengan segenap kekuatan untuk keluar dari kungkungan sistem kapitalisme. Yang selama ini mencengkram pemikiran kaum muslimin. Dengan ide-ide nya yang menjerumuskan kedalam jurang pemisahan Agama dari kehidupan.

 Saatnya bangkit dan mengajak para perempuan agar terbebas dari isu-isu yang gaungkan kaum feminis yang telah membuat para emak bak benang kusut dengan berdakwah mengembalikan kembali kehidupan Islam.

Itulah kekuatan ibu bangsa yang sejati.[MO/sr]



Posting Komentar