Oleh: Dina Dwi Nurcahyani

Mediaoposisi.com- Di tengah hiruk pikuknya suasana perpolitikan menjelang Pemilu 2019 yang berdinamika dengan cepat, muncul usulan untuk mengadakan tes membaca Al-Qur’an.  Usulan ini dicetuskan oleh ketua Dewan Ikatan Dai Aceh, Tgk Marsyuddin dalam konferensi pers bertemakan Akhiri Polemik Keislaman Capres dan Cawapres dengan Uji Baca Al Quran, di Banda Aceh pada 29 Desember 2018 lalu.

Diharapkan tes ini bisa mengakhiri polemik keislaman para capres dan cawapresnya. Karena sebagaimana yang diketahui, banyak sekali beredar di berbagai media, khususnya media sosial, berita, meme, opini atau broadcast yang saling mempertanyakan keislaman para calon presiden dan calon wakil presiden.

Hal ini biasa di masa menjelang Pemilu Presiden. Dimana kedua kubu akan berkampanye tentang keunggulan jagoannya dan kelemahan pasangan lawan. Terkadang bahkan berlebihan, sampai menyerang pada personal. Sehingga kemudian muncullah ide ini.  Namun, bisakah tes baca Qur’an ini membuktikan keislaman kedua pasangan calon ? Mampukah tes baca Qur’an ini menjadi tolok ukur kualitas seorang muslim yang mukmin?

Sebenarnya untuk melakukan tes baca Qur’an bagi kedua pasangan capres dan cawapres kurang tinggi level kesulitannya. Ini yang dites adalah para calon pemimpin Negara besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Masak iya, mencari pemimpin berkualitas tesnya ‘hanya’ baca Qur’an saja.

Kalau untuk mengetes bisa baca Qur’an atau tidak, apa bedanya dengan tes masuk sekolah setingkat sekolah dasar. Sekolah-sekolah sekarang banyak yang menerapkan tes baca Qur’an bagi calon peserta didiknya, bahkan sudah dimulai sejak SD. Tak hanya calon siswa, kepala sekolahnya pun harus bisa membaca Qur’an.

Juga ada beberapa instansi lain di daerah seperti pegawai satpol PP di Aceh, misalnya harus bisa mengaji. Termasuk juga para caleg dan calon pejabat pemerintah di Aceh wajib mengikuti tes baca Qur’an. Jika tak lolos tes, maka para calon itu dinyatakan gugur dan tak bisa melanjutkan lagi ke tahap berikutnya.

Ini adalah sesuatu yang positif dan menggembirakan bagi semangat keberIslaman. Dengan ini berarti menunjukkan kesadaran umat akan keislaman semakin tumbuh. Diharapkan tidak hanya sekedar bisa membaca Qur’an saja, melainkan yang terutama lagi adalah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh. Melaksanakan Islam secara menyeluruh, secara kaffah.

Sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa jalla dalam surat Al-Baqarah ayat 208 berikut ini:

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [Al-Baqarah : 208]

Ini adalah perintah Allah bagi seluruh mukmin apapun jabatan dan profesinya. Dimanapun dan kapanpun saja. Bagi muslim yang mengaku beriman kepadaNya, wajib untuk mengamalkan Islam seluruhnya tanpa terkecuali.

Terlebih lagi bagi para calon pemimpin yang sedang bertarung dalam Pilpres 2019 ini.  Harusnya, sebelum maju mencalonkan diri sudah mampu meyakinkan masyarakat tentang kualitas individu mereka yang diatas rata-rata orang kebanyakan. Apalagi sebagai seorang muslim sejati, harusnya tidak hanya bisa lancar mengaji, tetapi juga mengkaji isinya, memahaminya secara benar untuk kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya teori saja tetapi juga prakteknya secara nyata. Sehingga dalam setiap aktivitasnya senantiasa berlandaskan Al-Qur’an. Dalam diri muslim sejati hendaknya bisa memancarkan nilai-nilai Qur’ani.

Jadi, kalau bagi para capres dan cawapres itu yang lebih tepat dan penting adalah komitmen untuk mau menerapkan aturan yang ada dalam Al-Qur’an.  Ini akan menjadi ujian yang sangat berat bagi mereka dalam sistem sekuler-kapitalisme sekarang ini. Umat sungguh menantikan kesanggupan mereka untuk menerapkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Nyali mereka akan benar-benar diuji. Beranikah mereka berkomitmen untuk meninggalkan sistem kufur ini untuk beralih ke sistem Illahi? Di tengah derasnya arus sistem rusak sekarang ini, beranikah mereka melawan arus tersebut? Sanggupkah mereka meninggalkan segala embel-embel semu dari sistem kapitalisme sekarang?

Dan lagipula, bisa membaca Qur’an, tidak menjadi jaminan seorang muslim itu juga memiliki ketakwaan dan kesholehan. Banyak juga yang bisa mengaji, bahkan fasih dan hafal qur’an, namun kelakuannya bertentangan dengan Al-Qur’an.

Yang lebih parah lagi bergelar ulama, kyai, hafidz, ustadz dan tokoh umat namun berani menolak dan menentang Al-Qur’an demi jabatan dan kekuasaan. Karena takut kehilangan dunia, mereka tak ragu meninggalkan aturanNya. Menggadaikan aqidah demi sejumput kekuasaan dunia yang semu. 

Sebaliknya, banyak juga yang masih belum lancar membaca Qur’an, ternyata sudah menerapkan apa yang diajarkan di dalamnya pada kehidupan sehari-harinya. Bersemangat dalam belajar mengaji sekaligus mengkaji isinya agar paham secara mendalam untuk kemudian diaplikasikan secara nyata.

Terus memperbaiki diri seperti apa yang diperintahkan dalam Al-Qur’an. Sembari juga menyampaikannya di tengah umat agar semakin memahami ajaran Islam dan mencintai Al-Qur’an. Sehingga bersama-sama umat mampu menerapkan isi Al-Qur’an dalam setiap aspek kehidupan.

Termasuk juga dalam memilih pemimpin yang bertugas mengurusi setiap urusan umat, sehingga tak kan mau memilih calon yang tak punya nyali untuk menerapkan isi Al Qur’an. Betul?[MO/sr]

Posting Komentar