Oleh: Sri Wahyuni

Mediaoposisi.com- Al-Qur’an bagi seorang muslim tak hanya sekedar sebuah kitab yang rutin dibaca setiap hari. Lebih dari itu, memahami kandungan isinya jauh lebih penting.

Sebab  di dalamnya terdapat petunjuk kehidupan yang harus bahkan wajib untuk diamalkan secara kaffah, tanpa memilah mana yang sesuai dengan kebutuhan. Terlebih lagi bagi seorang pemimpin, memahami kandungan isinya menjadi suatu hal yang sangat penting. Sebab layaknya sebagai petunjuk, Al-Qur’an merupakan solusi untuk berbagai problem yang kini membelenggu umat.

Namun dalam alam demokrasi Al-Qur’an tak ubahnya hanya sebagai alat permainan politik untuk menang dalam persaingan di satu sisi dan keberadaannya dianggap tidak penting disisi lain, bahkan cenderung diabaikan dan ditelantarkan. Sebagaimana yang sempat heboh akhir-akhir ini yakni terkait tantangan lomba baca Al-qur’an yang dicetuskan oleh koalisi Jokowi kepada Prabowo-Sandi. “Kami tantang mereka lomba ngaji,” kata Juru Bicara Koalisi Indonesia Kerja Irma Suryani Chaniago kepada awak media (CNN Indonesia 24/08/18). 

Hal senada juga disampaikan oleh Ikatan Da’i Aceh. Dilansir dari laman tribunnews.com 30/12/18, Ikatan Da’i Aceh mengundang dua kandidat calon presiden RI untuk uji baca Al-Qur’an. Salah satu alasannya karena dua capres sama-sama beragama Islam dan penting bagi umat Islam untuk tahu kualitas calon presidennya.

Bisakah dengan tes baca Qur’an dijadikan sebagai tolak ukur untuk menilai kualitas seorang calon pemimpin? Tentu jika demikian hampir setiap muslim pun dapat melakukannya. Oleh karena itu seharusnya yang dikadar adalah bukan perihal bisa atau tidak bisa membaca Al-Qur’an, melainkan adakah diantara calon pemimpin tersebut yang berani menerapkan Al-Qur’an secara sempurna. 
Demokrasi tentu tak akan menempatkan hukum Allah secara layak.

Sebab antara keduanya terdapat jurang pemisah. Sehingga berharap diterapkan Al-Qur’an secara sempurna sementara demokrasi masih bercokol di dalamnya tentu menjadi hal yang sangat mustahil. Maka dari itu sudah saatnya bagi umat untuk mencampakkan demokrasi dan menggantinya dengan sistem yang lebih baik, yang bersumber dari pemilik semesta yaitu Islam.

Sebagaimana firman Allah “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya).” (TQS. Al-A’raf : 3).[MO/sr]


Posting Komentar