Oleh :Qarnina 
(Mahasiswi UMK Kendari)

Mediaoposisi.com-Ikatan Dai aceh mengundang dua kandidat Capres-Cawapres RI untuk uji baca al-Quran.

Hal ini dianggap wajar dan demokratis sebab kedua kubu Joko Widodo-Prabowo Subianto  adalah seorang muslim.

Menjelang masa pilpres uji kemampuan membaca al-Quran ini akan menambah trust atau percaya diri masing-masing voter atau kelompok pemilih sebagaimana dinyatakan Ridwan yang dilansir dalam laman berita tribunnews.com, 2018/12/30.

Hal ini memungkinkan bagi kubu Jokowi mengingat banyaknya kritikan yang diperoleh, terdapat tiga hal yang menjadikan rapor merah selama empat tahun kepemimpinan Jokowi-JK. Pertama, membengkaknya utang hingga pelemahan rupiah.

Kedua, minimnya penyerapan tenaga kerja. Ketiga, penegakan hukum yang tebang pilih

Sistem Demokrasi-Sekulerisme, Memanfaatkan AlQuran Sebagai Penarik Simpati
Adanya uji kemampuan baca Quran ini menandakan bahwasanya ketaqwaan individu dalam kepemimpinan demokrasi sebagaimana pada syarat-syarat menjadi Capres-cawapres yang diatur dalam Peraturan KPU no.15 tahun 2014 pada poin pertama bukanlah syarat mutlak

Sebab agama hanyalah alat penarik simpati untuk mendapatkan suara rakyat dan hanya diperhitungkan pada masa pencalonan saja tanpa memperhatikan peran agama dalam menjalankan roda pemerintahan.

Demokrasi dengan dasar sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan akan melahirkan pemimpin berakhlak ganda. Di satu sisi ia melaksanakan ibadah ritualnya sebagai seorang hamba namun disisi lain ia tidak amanah dalam menjalankan kepemimpinannya.

Sistem Islam, Melahirkan Kepemimpinan yang Taat dan Amanah

Berbeda dengan sistem demokrasi saat ini dalam Islam ketaqwaan Individu adalah syarat mutlaq seorang pemimpin, sebab kepemimpinan adalah suatu amanah yang dibebankan kepadanya untuk menerapkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh sebagai bentuk ketaatannya kepada Allah swt.

Disamping itu tujuannya adalah semata-mata untuk kemashlahatan ummat, bukan untuk kepentingan golongan ataupun partai.

Dengan tujuan utamanya tersebut maka secara otomatis seorang pemimpin haruslah seorang muslim yang tidak diragukan ketaqwaannya, tidak hanya sekedar mampu membaca Al-Quranul Kariim sesuai dengan makhraj dan tajwidnya namun lebih dari itu adalah memahami isi alQuran, serta menerapkan hukum-hukumnya.

Allah begitu tegas memerintahkan kepada kita umat manusia untuk menjalankan aturan yang berada dalam Al-Quran sebagai jalan meraih keselamatan di dunia maupun di akhirat.

“Dan hendaklah kamu berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayaimu atas sebagian yang Allah turunkan kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang Allah turunkan) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka karena dosa-dosa mereka”. (TQS. Al-Maidah:49)

Karena Al-Quran adalah kitab yang diturunkan Allah swt  sebagai pedoman hidup yang menunjuki manusia pada jalan yang lurus sebagaimana Allah swt telah menjamin bahwa tidak ada keraguan di dalamnya. 

Sistem Islam merupakan sistem yang sepanjang sejarahnya melahirkan Pemimpin yang taat, berkepribadian Islam, serta amanah sebab sistem ini berasal dari Allah swt., telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah saw dan telah dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin yang berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah serta menerapkan syariat Islam secara totalitas.

Dengan demikian masyarakat sebagai pemberi amanah tak lagi berpeluang besar untuk merasakan kekecewaan dan kesengsaraan. Saatnya mencampakkan sistem Demokrasi-Sekulerisme yang melahirkan Pemimpin dzolim dan menempatkan hukum Allah secara tak selayaknya.[MO/AD]

Posting Komentar