Oleh: Nani Hazkia
(Alumni UIN Antasari Banjarmasin, Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan)

Mediaoposisi.com- Pada era digital sekarang ini, internet bagai pisau bermata dua. Yang pertama untuk kebaikan. Yang kedua untuk kejahatan, termasuk prostitusi online yang sekarang menggemparkan media. Sebab artis ikut terlibat salah satunya VA. Bahkan Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menyebut jumlah artis yang terlibat prostitusi online mencapai 45 orang. "Ada 45 oknum artis yang terlibat langsung dengan dua muncikari ini. ES berhubungan langsung dengan si artis dan TN dengan selebgram," kata Luki saat rilis di Mapolda Jatim, Senin (7/1/2019). (detiknews.com)

Namun yang cukup menarik adalah tanggapan masyarakat terkait kasus prostitusi online ini. Salah satunya adalah tanggapan Afi Nihaya Faradisa  di sosmednya, yang akhirnya viral dan dibagikan masyarakat. Dan yang cukup menggelitik sekaligus miris adalah tanggapannya yang pertama.

Singkatnya sebagai berikut, “Saya justru penasaran bagaimana VA membangun value/nilai dirinya, sehingga orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. ..........Padahal, seorang istri saja diberi uang 10 juta sudah merangkap jadi koko, tukang bersih-bersih, babysitter, dll. Lalu yang murahan itu siapa?” (tribulkaltim.com, 9/1/19)

Akhirnya sebagian masyarakat heboh dan menganggap tulisan Afi merendahkan seorang istri. Tapi, dia pun mengklarifikasi bahwa tidak bermasud begitu dan itu hanya salah persepsi orang saja. Dia menulis seperti itu hanya untuk bertujuan menyinggung orang yang hanya menghakimi pihak VA saja(tribulkaltim.com, 9/1/19). Walaupun sebenarnya  yang diterima VA hanya 35 juta saja dari harga yang dipatok yaitu 80 juta. Sisanya dibagi-bagikan ke mucikari. (lumajangsatu.com, 9/1/19 )

Dalam sistem kapitalis-Sekuler sekarang yang memang tujuan hidup manusia yang awalnya beribadah kepada Allah berubah menjadi mengumpulkan materi alias uang. Tentunya bisa jadi harga seorang PSK lebih tinggi dari istri ataupun ibu. Namun, Adik Afi dan kita adalah sesama orang yang beragama Islam tidak seharusnya memandang perempuan hanya dari uang yang didapatkan. Tapi dari kacamata Islam sendiri.

Dalam Islam perempuan tidak murahan.  Perempuan itu dimuliakan dan dihormati. Tidak hanya dinilai dari segi fisik saja. Apalagi, dinilai hanya sekedar barang komoditas pasar yang diperjualbelikan. Dalam Islam juga perempuan itu mahal, mengalahkan semua perhiasan termahal di dunia. Segaiamana sabda Rasulullah SAW,”Dunia adalah perhiasaan dan sebaik-sebaik perhiasaan dunia adalah wanita shalihah.” (Hadis riwayat Muslim dari Abdullah Ibnu Umar).

Belum lagi dalam Islam seorang istri sekaligus ibu punya tugas yang mulia, yakni menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya dan menjadi pengurus rumah tangga. Lewat tangannya akan terlahir anak yang tidak hanya cerdas namun juga sholeh-sholihah serta berakhalkul karimah. Yang digadang memegang estafet kemimpinan selajutnya. Juga akan menjadi jembatan dia masuk ke surga. Sedangkan bagi yang masih bersatus sebagai anak. Anak yang sholihah juga merupakan perkara yang tidak akan putus ketika orang tuanya nanti meniggal dunia.

Masih membahas soal tulisan dari Adik Afi. Yang lebih menggelitik, dia mengkritik masyarkat sekarang ini kalau ada sesuatu sukanya menyalahkan perempuan. Walaupun akar masalah yang sebenarnya bukanlah kesetaraan gender. Tapi, akibat penerapan sistem kapitalis-sekuler yang justru mengakibatkan ketidakadilan bukan hanya kepada perempuan, namun juga kepada seluruh masyarakat di dalam segala bidang.

Termasuk pula kasus prostutusi online. Hanya mucikarinya saja yang ditangkap dan dihukum. Padahal sudah jelas, bahwa para artis salah satu VA tadi bersalah. Namun, memang tidak bisa dikenakan hukum ataupun sanksi. Sebab, tidak ada undang-undang yang bisa menjerat. Meskipun, ada kemungkinan jadi tersangka kalau terbukti menggunakan tindakan prostitusi itu sebagai penghasilan utama. Tetap saja hukumannya pun tidak menjerakan. (http://hipwee.com/tag/aturan-hukum-penangkapan-psk-dan-pelanggannya/)

Sedangkan bagi yang memakai jasa tersebut. Si pengguna jasa juga ternyata  bisa melenggang bebas dari hukum.  Mereka hanya bisa ditindak oleh hukum jika ada pasangan sahnya melapor ke polisi dengan aduan perzinahan atau perselingkuhan. Jika tidak ada pengaduan maka berarti stasus mereka hanya saksi bukan tersangka.

Sungguh sangat berbeda dengan Islam. Islam itu sempurna dan menyeluruh. Semua sudah ada aturannya. Berbeda dengan sistem sekarang karena buatan manusia yang terbatas. Maka terbatas pula hukumannya. Dalam Islam jika ada yang berzina akan dijilid atau cambuk 100 kali bila belum menikah. Sedangkan, bagi yang sudah menikah maka akan dikubur si pelaku tersebut sampai batas leher lalu dirajam (dilempari batu) sampai mati.

Namun, Islam bukan sembarang langsung menghukum tapi juga menghilangkan sebab-sebab terjadinya perzinahan. Karena perzinahan itu merupakan bagian dari naluri na’u (melestarikan jenis). Dan naluri itu bangkit bila ada faktor luar. Maka negara akan menghilangkan faktor luar tersebut. Misalnya saja dengan menghentingkan semua tayangan yang mengundang syahwat.

Belum lagi, ketika Islam diterapkan maka individu dan masyrakatpun terbentuk jadi individu dan masyrakat yang Islami dan bertawqa pada Allah. Tidak seperti sekarang yang jauh dari agama, pacaran, berduaan, membuka aurat dan lain sebagainya. Sudah itu pula masyrakat acuh tak acuh padahal semestinya saling mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Sehingga wajarlah terjadi perzinahan bahkan prostitusi.

Sanski jilid dan razam adalah gerbang terarkhir jika masyrakat tetap melakukan kejahatan. Dan  harus diketahui apa alasannya melakukan hal itu. Apakah terpaksa misalnya karena tidak bisa makan, atau tidak. Karena ketika mereka menjajakan diri demi makan, maka akan berbeda hukumannya.  Cuma yang perlu diingat syariah Islam itu sifatnyanya menjerakan dan menebus dosa. Sehingga mereka tidak lagi melakukan kejahatan termasuk berzina. Tidak seperti sekarang  prostitusi kian menggurita.

Bahkan pada masa kemimpinan Rasulullah SAW dahulu, ada seorang wanita yang meminta dirinya dirazam karena dia sudah menikah tetapi berzina. Namun, karena wanita sedang hamil Rasul menuruh kembali. Setelah melahirkan dia kembali lagi. Tetapi, Rasul  menyuruh wanita itu kembali dan menyusui anaknya sampai anaknya tidak memerlukan air susunya lagi. Dan ternyata kemudian wanita itu kembali lagi. Akhirnya wanitu itu pun dirazam sampai mati.

Semua ini karena penerapan dari Syari’ah Islam. Bahkan pada zaman sekarang orang tidak ingin mengakui kesalahan. Tapi pada saat itu justru mereka menawarkan diri untuk dihukum. Karena penerapan syariah Islam secara kaffah tadi membentuk pribadi yang takut akan dosa. Begitu pula masalah prostitusi akan tuntas hanya dengan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai daulah Khilafah Islamiyah ala mihanj an nubuwah.[MO/sr]

Posting Komentar