Oleh : Marwah 
(memberRevowriter) 

Mediaoposisi.com-Pertama kali dengar istilah FWB (Friends With Benefits) terus terang persepsi saya adalah berteman dengan mengambil keuntungan.  “Eh, jahat banget ya.  Memanfaatkan teman” begitu pikir saya, polos.  Yah menurut saya keuntungan berupa materi gitu.  Bisa langsung berupa uang, atau materi yang lain.  Begitu saya coba googling, astaghfirullah.  Ternyata apa yang menjadi persepsi saya tampak lebih polos lagi.

Penjelasan dari psikologi001.blogspot.com bahwa Friends With Benefits adalah budaya di kalangan muda yang sudah banyak merasa muak dengan relationship yang ‘konvensional’.  Maka beralihlah mereka pada sebuah hubungan Friends With Benefits yang biasa disingkat dengan FWB. 

Adalah sebuah hubungan “teman” yang sangat dekat tanpa melibatkan harapan satu sama lainnya.  Dalam hubungan ini jalinan yang dibangun meliputi berbagi suka duka, diskusi intelektual, atau sekedar main bersama.  Pada akhirnya membawa pada sebuah hubungan yang lebih intim dan berakhir pada hubungan seksual. 

Pada penjelasan lain, FWB tidaklah berbeda dengan TTM (Teman Tapi Mesra).  Mereka yang terlibat FWB bisa melakukan aktivitas fisik yang intim seperti berciuman, bercumbu, bahkan berhubungan seks berkali-kali dengan temannya tanpa ada status pacaran atau hubungan terikat lainnya.  Mereka berinteraksi saat ingin melampiaskan nafsu saja. 

Dan setelah selesai melakukannya, mereka bertingkah seperti teman biasa meski telah berkali-kali terlibat hubungan fisik yang intim. Dan bisa melakukan hubungan seksual lagi kapan pun mereka mau, sekali pun sama-sama punya pasangan.

Hubungan dalam Islam
Dalam Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan sangat rinci aturannya.  Bahwa laki-laki dan perempuan terpisah.  Kecuali untuk hal-hal yang memang diperbolehkan.  Misalnya dalam pendidikan.  Boleh murid perempuan belajar pada guru laki-laki. 

Demikian pula sebaliknya. Dalam kesehatan, boleh saja dokter  memberikan pertolongan kepada pasien meski berbeda jenis kelamin.  Juga pada aktivitas jual beli. 

Boleh saja penjual dan pembeli berinteraksi, meski satu pihak laki-laki dan pihak lain perempuan. 

Namun semuanya tetap dalam bingkai syariat Islam.  Masing-masing menetapi syariat Allah saat melakukan aktivitas keluar rumah dengan seijin mahram, menjaga aurat, sikap dan kehormatan, semua  sesuai tuntunan syariat. 

Adapun hubungan antara laki-laki dan perempuan lebih lanjut, berdasarkan aqad syar’i.  Yaitu dalam ikatan suci berupa pernikahan.

Munculnya istilah dan prilaku FWB di kalangan anak muda, tidak lain karena life style masyarakat yang serba bebas (liberal).  Termasuk dalam membangun relasi pertemanan.  Kebebasan telah banyak menciptakan kerusakan pada generasi kekinian. 

Kerusakan moral, menabrak nilai-nilai agama. Bahkan membuat mereka tak merasa perlu ikatan pernikahan, tanggung jawab, kesetiaan dan sebagainya.  Sungguh tak layak, dan mudah menular jika tak segera mencegahnya dengan penerapan Syariah Islam. 

Tak bisa mencegahnya hanya dengan nasehat kepada individu, tanpa dibarengi penerapan sistem sosial yang bersih seperti di atas dan sistem sanksi atas pergaulan bebas yang tegas.
FWB dengan Benefits Syar’i.

Berteman dengan mendapatkan benefits atau keuntungan, sangat dianjurkan dalam Islam.  Bukan dalam rangka memanfaatkan teman dengan niat dan cara yang salah.  Kita bisa mendapatkan banyak keuntungan karena kita berteman dengan orang-orang sholih. 

Allah memerintahkan kita agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allahdan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar “ (QS. At Taubah :119).

 Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda “Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memperhatikan siapa teman dekatnya” (HR Ahmad).

Abu Darda’ berkata, diantara bentuk kecerdasan seseorang adalah selektif dalam memilih teman berjalan, teman bersama dan teman duduknya. 

Teman yang dalam perjalanan hidup nanti akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir, watak, perilaku dan kebiasaan.  Jika teman kita baik, in syaa Allah kita akan mendapat keuntungan ikut menjadi baik.  Demikian pula sebaliknya.

Demikian pula nasehat dari Imam Hasan al Bashri :
“Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman.  Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat”.

Demikianlah ajaran Islam, mengajarkan kita untuk mendapatkan keuntungan di dunia hingga di akhirat dengan berteman dengan orang-orang yang shalih.  Sekaligus pentingnya membangun life style Islamy dengan sistem Islam yang mampu menjauhkan masyarakan dari kerusakan.[MO/ge]

Posting Komentar