Oleh:Rita Novita

Mediaoposisi.com- Tahun 2018 yang lalu  seperti jadi tahun penuh duka bagi bangsa indonesia.  Banyak berita duka,  berbagai cerita sedih dan pilu, mengingat banyaknya bencana masif mencangkupkecelakaantransportasi udara  dan laut yang menjadi catatan kelam sekaligus peristiwa yang sangat  mematikan.

Pada 5 agustus gempa berkekuatan 6,9  menghantam pulau lombok dan menelan 462  korban jiwa. Selanjutnya, gempa berkekuatan  7,7 dan tsunami setinggi 1,5 - 3 meter di donggala palu yang membawa kehancuran pada akhir september hingga membuat lebih dari 300 ribu orang kehilangan tempat tinggal.  Kemudian menjelang tutup tahun,  kembali lagi terjadi tsunami pada 22 desember yang meneerjang daerah banten dan lampung sebanyak 222 meninggal dunia, 843 luka dan 28  orang hilang.

Begitu sangat terasa di tahun-tahun itu kehidupan begitu jauh dari keberkahan, alam seakan marah karena bangsa ini sudah  begitu melewati batas. Dimana tahun 2018 itu,  merupakan tahun kedzaliman bagi umat islam,kedzaliman demi kedzaliman,  kedurhakaan demi kedurhakaan terjadi dengan telanjang hingga mengundang berbagai peringatan dari Allah Swt.

Dalam menyikapi fakta tersebut maka sudah saatnya kita sadar, dan berfikir secara cemerlang apa yang terjadi itu, merupakan teguran untuk kita terlebih untuk para penguasa.  Dimana kezaliman terhadap penguassa kepada rakyatnya.

Mulai dari hukum dan aturan Allah yang mereka campakan, umat seakan dijauhkan dari hakikat islam, serta banyak hal lain terkait buruknya pertumbuhan ekonomi, yang dirasa semakin sulit, kebutuhan hidup semakin mahal,  dan kebijakan-kebijkan dzalim pemerintah yang terus memperberat beban kehidupan rakyatnya.

Dan masih bnyak lagi. Sedangkan, mereka pihak penguasa nampak berusaha keras meyakinkan bahwa sepanjang tahun itu kondisi baik-baik saja. Mereka merilis laporan prestasi kerja mereka sepanjang tahun 2018. Namun nyatanya, rakyat justru merasakan bahwa yang disebut sebagai prestasi itu adalah bohong besar. Itulah bukti-bukti kedzaliman penguasa. Dan tentu saja semua problematika ini juga berakar pada buah dari penerapan sistem sekuler demokrasi yang menafikan peran Allah dalam kehidupan.

Oleh karena itu, sudah saatnya sistem batil ini dicampakan,  serta selayaknya umat pokus dan lebih giat berjuang mewujudkan perubahan hakiki dengan mengajak umat menerapkan hukum Allah dalam naungan khilafah yang dijamin akan mengundang kebaikan dan kebarkahan. Yakni dengan berjuang menegakan instusi penerapan syariat islam, yaitu khilafah islamiyyah. [MO/sr]

Posting Komentar