Oleh: Cici Aprisa, S.Pd
(Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com- Peran Perempuan Sebagai Ibu
Perempuan sebagai seorang ibu diciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Fitrah yang melekat padanya merupakan pilar keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi. Namun sayang peradaban hari ini tak pernah bisa memuliakannya sehingga keberadaannya seolah tak berharga, dan perannya sebagai pendidik generasi terabaikan.

Dalam era kapitalisme hari ini peran perempuan sebagai ibu baik peran dalam menjaga ketahanan keluarga, maupun dalam mendidik generasi sangat sulit diwujudkan, karena dalam sistem kapitalis hari ini perempuan tak lebih hanya dijadikan sebagai komoditas ekonomi dan objek pemuas.

Ikut Sertanya Ibu dalam Pencapaian Ekonomi Nasional
Berdasarkan fakta Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo didampingi oleh menteri pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise membuka acara Rapat Kerja Nasional Ikatan Wanita Indonesia (Rakernas IWAPI ) ke- 28 di kota Padang, Sumatera Barat.

Rakernas dengan tema “ IWAPI 43 tahun Konsisten Berperan Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Menuju Indonesia Sejahtera” ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pemberdayaan ekonomi perempuan dibidang pembangunan. ( Dilansir dari Publikasi dan Media Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 8/ Oktober-2018)


Kita butuh banyak pengusaha, jika pengusaha perempuan semakin maju maka ekonomi Indonesia juga akan semakin maju “ujar Presiden Republik Indonesia Joko Widodo saat membuka Rakernas IWAPI ke-28 yang dihadiri oleh sekitar 1.200 perempuan anggota IWAPI di seluruh Indonesia. Berdasarkan data BPS pada 2014, sekitar 60% usaha kecil  dan mikro di Indonesia digerakkan oleh perempuan.

Pemerintah melalui Kemen PPPA terus berupaya menjawab persoalan tersebut dengan berbagai kebijakan yang mendukung peningkatan ekonomi perempuan. Selain itu juga meningkatkan kapasitas perempuan dalam pelaku usaha dalam menghadapi tantangan ekonomi global seperti Masyarakat Ekonomi Asean.

 Selain itu salah satu cara efektif dalam meningkatkan produktifitas Indonesia menurut Dedek Prayudi calon legislator dari partai solidaritas Indonesia itu adalah melalui pemberdayaan perempuan. Sebab pemberdayaan perempuan bukan sekedar permasalahan perempuan melainkan juga permasalahan nasional. Jika perempuan diberdayakan maka, pembangunan nasional di masa depan akan turut sukses. (dilansir dari Kompas.com, 8 Maret 2018)

Mengapa itu Bisa Terjadi?
Berdasarkan fakta diatas maka yang menjadi pertanyaannya yaitu benarkah kemerosotan ekonomi Indonesia yang merupakan negara kaya
Karena kurangnya partisipasi perempuan dalam hal ekonomi?  Dan benarkah kiprah perempuan dalam ekonomi merupakan salah satu cara dalam meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia? Bagaimana akibatnya jika wanita disibukkan dengan karir demi tuntutan ekonomi.

Sekuler Kapitalis Menghilangkan Peran Perempuan sebagai Sentral Pendidikan
Sebenarnya penyebab permasalah ekonomi Indonesia merosot hari ini bukanlah disebakan tidak ikutnya perempuan dalam dunia kerja, namun karena sistem kapitalisme yang diusungkan barat tadilah yang telah merampas seluruh kekayaan Indonesia, sumber daya alam seluruhnya sudah dikapitalisasi sehingga ekonomi Indonesia semakin carut marut, dan kemiskinan menjadi semakin merajalela. Seharusnya negaralah yang harus berusaha bagaimana supaya ekonomi dan sumber daya alam Indonesia tidak dikuasai asing dengan menberikan sumber daya alam itu dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara.

Dalam sistem kapitalisme sekuler ini materi sebagai ukuran kebahagiaan dan filsafat politik liberalisme yang kemudian melahirkan kapitalisme yang menitikberatkan masalah kehidupan pada produksi (menghasilkan materi). Kapitalisme telah mengembangkan kehidupan yang materialistis sehingga menjadikan materi sebagai tolak ukur segala sesuatu dan sebagai standar dalam menilai semua persoalan. Orang yang hidup dalam sistem yang dilandasi sekulerisasi dipaksa “untuk mengenal satu jenis ukuran kebahagiaan yaitu terpenuhinya secara optimal kebutuhan materi atau fisik.

Sistem kapitalis sekuler dengan ide feminisme yang mengatakan bahwa keberhasilan seorang wanita jika mereka bisa menghasilkan uang, mempunyai kedudukan tinggi, mempunyai posisi yang tinggi dan kuat. dan kesetaraan gender bagi laki-laki dan perempuan sebagai tolak ukur keberhasilan seorang wanita.



Sistem ekonomi sekulerisme menyajikan bahwa model perempuan berdaya itu adalah mereka yang sukses secara materi, karier dan mampu menyeimbangkan dengan tanggung jawab keluarga. Di era modern ini makna sukses seorang perempuan sangatlah sempit dan individual hanya ditentukan oleh capaian materi, status atau sekedar gelar artificial. Masyarakat semakin kehilangan gambaran bagaimana berdayanya perempuan dalam merangkai kesuksesan dan kemajuan kolektif masyarakat dan peradabannya.

Sistem ekonomi kapitalisme sekuler yang menjadikan perempuan sebagai aset dalam pembangunan ekonomi merupakan salah satu cara dalam merusak peran perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, karena perempuan merupakan tiang dalam mencetak generasi yang akan membangun peradaban yang cemerlang, sehingga jika ibunya sudah disibukkan dengan karir dan mencari nafkah maka perannya sebagai pendidik bagi anak-anaknya akan terabaikan, dan keutuhan keluarga juga terancam sehingga tingginya  angka perceraian.

Menjadikan perempuan sebagai aset untuk pembangunan ekonomi nasional negara sebenarnya bukanlah sebuah solusi, karena itu bukanlah tugas sentral seorang perempuan, tugas utama seorang perempuan adalah ibu dan pengatur rumah tangga dan sekaligus pendidik generasi, bukan sebagai pencari nafkah apalagi untuk ketahanan ekonomi.

Cobalah lihat hari ini betapa banyak perempuan yang bekerja demi membantu ketahanan ekonomi keluarga, perempuan menjadi wanita karir, dan akhirnya malah menjadi anak-anaknya terabaikan, dititipkan kepada pengasuhnya sehingga anak tak lagi mendapatkan kasih sayang, pendidikan, dan perhatian dari orangtua sehingga menyebakan banyaknya kerusakan moral terjadi pada anak-anak dan remaja, tawuran, narkoba, seks bebas dan lain sebagainya.

Karena Sistem ekonomi kapitalisme hari inilah yang telah menyebabkan dan memaksa peran ibu berganti yang mana seharusnya adalah pendidik generasi dan pengatur rumah tangga, namun hari ini berubah menjadi pencari nafkah dan dipaksa keluar rumah, sibuk berjibaku bekerja demi sesuap nasi. Hal ini disebabkan karena himpitan ekonomi yang memaksa harus berperan serta dalam mencari nafkah demi kebutuhan keluarga.


Wajarlah kemudian model perempuan sukses ala Barat sekuler tersebut mulai dipertanyakan seiring keruntuhan bangunan keluarga, isu eksploitasi perempuan, depopulasi peradaban, dan tingginya angka perceraian di negeri-negeri tersebut yang disebut sebagai negara maju dengan nilai sekluer yang mereka emban. Kemajuan ekonomi hari ini senantiasa diiringi dengan krisis sosial, keruntuhan institusi keluarga, meluasnya kriminalitas, kekerasan terhadap perempuan dan anak, tingginya angka bunuh diri, hingga anjloknya angka kelahiran dan pernikahan akibat massifnya pelibatan perempuan sebagai angkatan kerja.

Remaja merupakan aset bangsa di masa depan, jika remaja sudah rusak moralnya maka juga akan menyebabkan rusaknya  bangsa. Padahal kita butuh generasi yang berkualitas pemimpin umat dan bangsa yang tidak hanya memiliki keahlian tapi juga kepribadian yang istimewa yang ditunjukkannya melalui integritasnya pada nilai- nilai kebenaran yang merupakan pancaran dari kesatuan pola pikir dan pola sikap yang benar dan luhur.

Generasi inilah yang bisa diharapkan untuk bisa memimpin umat yang akan membawa negerinya menjadi negeri besar, kuat, dan terdepan. Namun itulah yang tidak pernah disadari hari ini, banyak orang yang hanyaa melihat bahwa remaja hari ini sangat krisis moral namun tak pernah mengakaji apa yang menjadi penyebab rusaknya moral tersebut, yaitu karena pudarnya peran ibu dalam rumah tanggah sebagai ibu pendidik generasi, dan pengatur rumah tangga suaminya.


Maka sudah sepatutnya seorang perempuan dikembalikan kepada fitrahnya sebagai seorang ibu dan pengatur rumah tangga suaminya, karena pada dasarnya pada seorang perempuan itu tidak ada kewajiban dalam mencari nafkah, apalagi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi negara, membiarkan wanita berkiprah sesuai dengan perannya itulah yang akan membuat wanita bisa mendidik generasi yang akan melanjutkan peradaban yang Mulia. Karena kesuksesan seorang perempuan sejati itu bukan hanya kesuksesan yang bersifat material semata, namun juga kesuksesan generasi dan masyarakatnya.

Namun untuk bisanya seorang perempuan mengoptimalkan peran ini adalah butuh dukungan dari sistem yang mendukung, adanya peran negara yang merupakan pengurus urusan umat dan bangsa, dan juga  peran dari individu dan masyarakat yang sama-sama saling melakukan perbaikan ditengah sulitnya optimalisasi peran perempuan hari ini.

Namun selagi sistem kapitalisme hari ini masih diterapkan, maka peran individu, masyarakat atau pun negara akan sulit dilakukan dalam membantu perempuan untuk bisa berkiprah sesuai dengan fitrahnya sebagai ibu pendidik generasi, maka  akibatnya  wanita akan terus di eksploitasi dalam pemenuhan ekonomi, sehingga akhirnya akan berdampak besar pada generasi yang semakin hari krisis moral generasi semakin tak terbendung.

Sudah sepatutnya kita kembali kepada sistem aturan hidup yang telah diberikan sang pencipta, karena hanya aturan sang penciptalah yang mampu memuliakan manusia sesuai dengan fitrahnya. Begitupun peran perempuan yang mulia sebagai ibu pendidik generasi dan pengatur rumah tangga suaminya.[MO/sr]

Posting Komentar