Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Sungguh Keji! Ulama', yang merupakan pewaris para nabi karena keilmuannya tentang agama, tidak dihargai dan dihormati, tetapi dipermainkan dan dijadikan alat untuk mendongkrak perolehan suara di pilpres 2019.

Ulama' harusnya didengar dan ditaati perkataannya karena membawa kebenaran dari ajaran agama yang lurus. Tetapi, mereka dipermainkan agar mau menjadi corong dan stempel penguasa yang ingin memimpin kembali negeri ini walaupun banyak dosa terhadap umat terlihat depan mata.

Sebagian ulama' yang lurus dan berani menyampaikan kebenaran dimusuhi dan dipersekusi bahkan ada yang dikriminalkan dan dipenjarakan agar bungkam dan tidak bersuara lagi. Mereka ditakutkan akan menurunkan nama dan pamornya sebagai pemimpin yang ideal yang dicoba dibangun dalam pencitraan yang menipu namun dihancurkan oleh dirinya sendiri selama dalam kepemimpinannya.

Ulama' yang kurang bersih menyambut tawaran dengan senang hati menjadi Tameng dan alat penguasa untuk membersihkan namanya yang terlanjur kotor dengan imbalan uang atau jabatan. Sungguh keji ulama' yang harusnya dihormati dijadikan tumbal kekuasaan. Ada empat ulama' besar yang dijadikan target sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaannya.

Ulama' pertama adalah Said Agil Sirat, ketua umum PBNU. Setiap perkataannya selalu mendukung penguasa, Jokowi, walaupun harus menyakiti umat Islam. Seorang ulama' besar yang seharusnya membela umat, malah membela penguasa yang anti Islam. Tentunya, ulama' seperti ini tidak lagi mampu menggunakan akal sehatnya. Dia tidak lagi bisa berfikir cerdas dengan ilmu yang dimilikinya.

Banyak ulama' sepuh yang masih mukhlis sering bersebrangan dengan pemikirannya yang liberal. Dia menolak khilafah sebagai ajaran Islam yang harus diperjuangkan. Pamornya sebagai seorang ulama' dan kyai dikalangan NU memudar dan tidak karismatik lagi. Umat tidak lagi hormat dan percaya dengan kata-katanya lagi. Dia telah menumbalkan dirinya sendiri untuk materi duniawi yang tidak kekal.

Kedua, Ma'ruf Amin adalah seorang kyai karismatik yang sangat dihormati dikalangan NU. Namun, disaat dia memutuskan untuk menjadi pembantunya Jokowi, namanya tidak seharum dulu. Kiprahnya tidak lagi berdakwah untuk Islam. Dia jadi pendukung setia Jokowi. Dia rela namanya rusak hanya untuk membela jokowi. Bahkan dia berani menghubungkan ajaran Jihad dengan terorisme.

Ketiga, Arifin Ilham adalah tokoh karismatik yang memiliki banyak masa pendukung. Beliau sudah tidak tertarik dengan materi duniawi atau jabatan. Sakitnya yang menimpanya telah membuatnya menuliskan pelajaran tentang kematian. Namun, dalan sebuah unggahan foto pencitraan yang menipu, Jokowi sedang menjenguk beliau dan terlihat berbicara mendekat dan menunduk padanya, seolah-olah beliau memberi dukungannya pada Jokowi. Banyak muncul penafsiran atas unggahan foto ini bahwa jokowi terasa dekat dengan Arifin Ilham.

Keempat, Abu Bakar Baasyir yang dijanjikan akan dilepas dari penjara atas saran Yusril karena alasan kemanusiaan walaupun faktanya adalah pencitraan yang menipu. Namun, tidak berselang lama, Wiranto menyatakan pembatalan karena beberapa alasan. Ulama' dipermainkan dengan memberikan harapan pembebasan tapi bersyarat yakni mau dijadikan alat untuk menaikkan elektabilitas Jokowi menjelang Pilpres  2019.

Ulama' yang potensial dan bisa dimanfaatkan didekati untuk dijadikan tameng kekuasaannya agar aman dan menjadi pengikut setianya dengan imbalan uang atau jabatan yang menggiurkan bagi siapa saja yang berfikir pragmatis dengan meniggalkan idealismenya sebagai ulama'. [MO/sr]

Posting Komentar