Oleh: Novida Balqis Fitria Alfiani

Mediaoposisi.com- Betapa mengerikan dampak sistem kapitalisme demokrasi yang mencengkram negeri ini. Bagaimana tidak? Jika dahulu, ketika zaman jahilliyah, manusia mungkin masih bisa dimaklumi melakukan aktifitas-aktifitas biadab seperti pembunuhan. Wajar, sa'at itu Islam belum datang. Namun kini, sa’at islam sebagai aturan yang sempurna sudah ada bahkan lebih dari 1.400 tahun lalu, seorang bayi dikubur hidup-hidup oleh kedua orang tuanya sendiri. Sungguh biadab! Sungguh mereka lebih jahilliyah dari manusia jahilliyah dahulu.

Seperti dilansir dari tribunnews.com (3/1/2019), terkuak kasus pembunuhan bayi yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri dengan mengubur bayi hidup-hidup. Kasus tersebut terbongkar ketika RM hendak memindahkan lokasi penguburan bayinya. Ironisnya, orang tua bayi tersebut masih berstatus pelajar. Yaitu RM, pelajar SMK berusia 18 tahun asal Kwangsan, dan adik kelasnya LV berusia 16 tahun asal Desa Pepe, Kecamatan Sedati, Sidoarjo.

Kami masih dalami kasus tersebut. Penyidik harus lebih hati-hati karena diduga pelakunya adalah anak dibawah umur,” ujar Kapolresta Sidoarjo Kombespol Zain Dwi Nugroho, Rabu (2/1/2019). (tribunnews.com, 3/1/2019).

Fakta diatas adalah salah satu kerusakan akidah dan sosial teramat parah di negeri ini. Bagaimana tidak, sudahlah zina dengan hubungan gelapnya, ditambah lagi, tega mengubur anak kandungnya sendiri hidup-hidup. Jangan tanya perkara iman. Nampaknya mereka bahkan sudah mati hati dan perasaannya. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Itulah sedikit contoh kebobrokan dalam sistem kapitalisme demokrasi yang diterapkan di negeri ini. Masih sangat banyak sekali kerusakan dan kebobrokan lainnya pada generasi muda negeri ini. Sungguh tak bisa dibiarkan! Kita harus mencari tahu apa akar permasalahannya agar tak ada lagi kejadian biadab yang lainnya. Maka berikut beberapa faktor yang perlu untuk diperhatikan. Diantaranya :

Pertama, kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang agama pada generasi muda negeri ini. Jika pemahaman dan pengetahuan agamanya baik, maka kemungkinannya kecil dia akan melakukan kemaksiatan.

Kedua, lingkungan keluarga yang kurang kondusif. Dalam arti, orang tua kurang mendidik terkait akhlak dan pengetahuan agama anak sejak dia kecil. Bahkan, kebanyakan orang tua terutama ibu lebih memilih karir daripada mendidik anak, sehingga anak merasa tidak diperhatikan dan mencari kesenangan lain yang merusak. Kembali lagi, karena ia tidak mengetahui baik dan buruk bagi dirinya sebab ia tidak dididik orang tuanya dan awam pengetahuan agamanya.

Ketiga, lingkungan masyarakat yang tidak kondusif. Hal ini bukan tanpa alasan. Berbagai fasilitas kemaksiatan tersedia, berbagai media yang menjurus pada kemaksiatan mudah diakses. Terlebih pada lingkungan masyarakat sekarang cenderung tak paham norma dan aturan bergaul antara laki-laki dan wanita, sehingga berpengaruh pada kepribadian seseorang.

Bayangkan saja, lingkungan masyarakat kini, kemaksiatan adalah hal biasa. Bagaimana mungkin, ia tidak terjerumus. Apalagi, ia awam pengetahuan agama dan akidahnya. Seperti adanya film dan sinetron pacaran, selingkuh, dan berbagai kemaksiatan lain yang selalu dikonsumsi masyarakat, sadar ataupun tidak.

Namun,  ketiga faktor diatas tidak terlepas dari sistem yang berjalan saat ini. Sistem demokrasi yang berasaskan sekulerisme menganggap agama harus dipisahkan dari kehidupan. Maka inilah akar permasalahannya. Karena kita tidak mungkin memisahkan agama dari kehidupan. Contohnya, dalam agama Islam seluruh aktivitas yang kita lakukan dapat bernilai ibadah apabila kita meniatkan seluruh aktivitas kita untuk ibadah dan sesuai dengan syari’ahNya.

Perkara apapun, dari bangun tidur hingga bangun negara, Islam mempunyai konsep aturan yang sempurna dan mampu menyelesaikan semua problematika masyarakat hingga tuntas. Bisa kita lihat pada saat diterapkannya khilafah yang bertahan selama 13 abad lebih. Ketika khilafah tegak, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pada zamannya. Tidak hanya ilmu pengetahuan, akan tetapi seluruh bidang berjalan baik dan menyejahterahkan.

Hukum sanksi yang diterapkan juga adil. Baik penguasa maupun rakyat sama dimata hukum Islam. Tidak dibedakan sama sekali. Begitu pula dalam sistem pendidikannya, sangat berkualitas karena akidah islam sebagai asasnya, sehingga setiap peserta didik akan dipastikan memiliki akidah agama yang kuat. Kemudian masyarakat dalam khilafah akan selalu berlomba lomba dalam kebaikan dan saling mengingatkan untuk menjauhi kemaksiatan.

Maka saatnya, segera terapkan sistem Islam secara keseluruhan. Buang dan campakkan sistem demokrasi yang merusak ini. Kita butuh penerapan Islam segera. Kita butuh penegakan khilafah untuk mengubah kondisi masyarakat yang terpuruk saat ini. Mari bersegera kita berjuang menerapkan sistem Islam dalam negeri ini. Wallahu A’lam[MO/sr]

Posting Komentar