Oleh: Siti Masliha, S.Pd 
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Mediaoposisi.com- Partai Solidaritas Indonesia atau PSI baru-baru ini mengeluarkan pernyataan kontroversial. Grace Natali ketua DPP PSI mengeluarkan stetmen melolak terhadap perda syariah. Belum reda masalah perda syariah Grace membuat pernyataan penolakan terhadap poligami. Dari stetment ketua PSI ini tak ayal membuat anggota PSI menjadi resah. 

Ketua DPD PSI kab GOA M Ridwan mundur dari partainya karena tidak sependapat dengan pernyataan Ketua PSI Grace Natalie yang tidak mendukung Poligami dan perda Syariah. Pengunduran M Ridwan karena tidak se visi-misi dengan partai yang diusungnya. Menurut Ridwan Grace tidak memperhatikan kultur kedaerahan. "Setiap daerah punya kultur yang berbeda beda baik pemahaman agama dan lainya, Ridwan mempertanyakan kenapa PSI begitu". (TribunKaltim.com)

Penolakan terhadap perda syariah dan poligami sebenarnya sama dengan kita dilarang menggunakan agama dalam kehidupan sehari hari, hal inilah yang disebut sekulerisme. Para penganut sekelurisme gencar mengkampanyekan ide-idenya agar bisa diterima di masyarakat. Menurut paham sekelerisme agama dianggap hanya urusan ibadah saja sementara dalam urusan duniawi agama tidak boleh ikut campur.

Ketika agama hanya ditempatkan di ranah individu sedang ranah publik agama tidak boleh ikut campur maka kita bisa lihat kerusakannya. Sebagai contoh Allah telah mengharamkan khamr (baca:miras) dan LGBT tapi khamr dan LGBT diperbolehkan di indonesia. Pengharaman khamar dan LGBT ini terdapat dalam al quran surat:

"Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan syaitan".
(QS. Al Maidah 90)

"Dan kami telah mengutus nabi luth kepada kaumnya. Ingatlah tatkala mereka berkata kepada mereka:"mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina ini yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kalian" (Qs. Al A'raf:80)

Apa dampak dari diperbolehkan khamar dan LGBT? Tentu kita belum lupa terkait kasus yuyun seorang gadis umur 14 tahun yang dijadikan pelampiasan nafsu setan oleh pemuda setelah mereka mengkonsumsi miras. Begitu juga kasus Enno dengan mencabulinya ramai-ramai lalu menancapkan cangkul di bagian kewanitaannya. Ini juga pengaruh dari miras.

Tingginya angka HIV/AIDS hal ini disebabkan karena sex bebas melalui LGBT. Inilah dua kasus ketika aturan agama (baca: aturan Allah) tidak kita pakai di ranah publik. Pertanyaannya bagaimana jika agama dibuang jauh-jauh dari kehidupan kita??

Islam Adalah Agama yang Fitrah
Sebuah analogi, ketika kita membeli mesin cuci pasti pabriknya memberi kita aturan pakai supaya mesin cuci itu bisa kita pakai dan awet. Begitupula ketika kita membeli HP pabriknya akan memberi aturan terkait penggunaan HP supaya kita bisa menggunakannya dan HP kita awet. Bagaimana jika aturan mesin cuci dan HP tersebut ditukar? Pasti mesin cuci dan HP tersebut tidak bisa dipakai dan rusak.

Itulah sebuah analogi sederhana yang bisa kita pakai ketika kita hidup didunia ini tidak menggunakan agama (baca:aturan Allah). Aturan Allah diganti dengan aturan manusia.
Manusia tidak akan bisa membuat aturan yang bisa menyejahterakan dirinya,karena manusia adalah mahluk yang terbatas. Allah memberikan seperangkat aturan kepada manusia supaya manusia selamat hidup didunia dan di akhirat.

"Dan tidaklah Aku mengutus engkau Muhammad melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam". (QS. Al Anbiya 107).
Ya, jika kita ingin selamat dunia dan akhirat maka kita harus taat kepada aturan Allah.[MO/sr]

Posting Komentar