Oleh: Nira Syamil

Mediaoposisi.com- Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat melontarkan   ide akan membuat sekolah ibu. Dilatarbelakangi kekhawatiran akan tingginya angka perceraian di KBB, ide ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan para ibu melaksanakan perannya sebagai ibu dan istri.
Sekolah Ibu merupakan program yang pada awalnya dicetuskan oleh Pemerintah Kota Bogor.

Tujuannya adalah untuk pemberdayaan perempuan, terutama ibu rumah tangga. Keberhasilan program inovasi dari Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor itu dipuji Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, yang berencana untuk menerapkannya di seluruh daerah di Jabar. Pada peresmiannya, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto juga sempat mengatakan bahwa Sekolah Ibu merupakan langkah awal mewujudkan kota ramah keluarga dan kota ramah anak, juga sebagai penguatan ketahanan keluarga di Kota Bogor.(/beritagar.id/)

Mengadopsi sekolah ibu kota Bogor, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menggulirkan program yang dikhususkan bagi kaum perempuan itu diberi nama Sekolah Perempuan Mencapai Impian dan Cita-cita (Sekoper Cinta).

Ridwan Kamil mengatakan program tersebut berawal dari tingginya angka perceraian akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan potensi stunting di Jabar. "Oleh karena itu ada satu upaya yang dilakukan yaitu penguatan ibu-ibu yang sudah menikah. Kan keluarga ini tidak ada sekolahnya, maka kita bikin sekolah perempuan," ujar pria yang karib disapa Emil itu.

Emil menjelaskan dalam program tersebut sebagian besar diisi oleh ilmu mengenai ketahanan keluarga. Di dalamnya 50 persen modul soal keluarga, 50 persen lainnya apa-apa saja yang berkaitan dengan ekonomi, sosial hingga agama. (news.detik.com)

Mencermati program Sekolah Ibu atau Sekoper Cinta setidaknya dapat kita temukan tiga hal, pertama untuk menjalankan peran apapun dibutuhkan ilmu dan pemahaman, tak terkecuali peran sebagai ibu dan istri. Kedua, kurikulum pendidikan di negeri kita tidak menyediakan ilmu dan pemahaman bagi perempuan untuk menjalankan perannya sebagai ibu dan istri. Ketiga, lembaga keluarga tengah menghadapi ancaman.

Laki-laki dan perempuan adalah pasangan manusia yang seharusnya bekerjasama dalam kehidupan. Keduanya memiliki peran masing-masing dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bernegara. Untuk menjalankan peran dengan benarlah pendidikan seharusnya memberikan bekal ilmu dan pemahaman.

Sayangnya pendidikan saat ini tidak mampu membekali setiap individu menjalankan perannya dengan optimal. Secara kasat mata kita bisa melihat perempuan  yang gagap menunaikan tugasnya sebagai ibu dan istri semudah kita menemukan laki-laki yang gagal menunaikan tugasnya sebagai ayah dan suami. Jika ditarik ke area yang lebih luas ketidakmampuan manusia menjalankan tugas atau perannya juga dapat kita temukan di tengah masyarakat, lingkungan kerja, lingkungan sosial dan sebagainya.

Kegagalan seseorang melaksanakan perannya dipengaruhi oleh ilmu dan pemahaman yang dimilikinya. Seorang ibu yang memiliki ilmu namun tidak paham tugas dan fungsinya akan mengabaikan tugas dan fungsinya sehingga tidak terlaksana dengan baik. Begitupun seseorang yang paham namun tidak memiliki ilmu akan gagal menunaikantugas dan fungsinya karena kurangnya bekal ilmu.

Ilmu dan pemahaman diperoleh dari pendidikan. Jelas di sini bahwa sistem pendidikan seharusnya mampu menyiapkan setiap individu untuk melaksanakan peran atau menunaikan tugas dan fungsinya dengan benar. Lalu mengapa pendidikan kita saat ini tidak mampu melakukan itu?

Pendidikan yang dijalankan saat ini masih berasaskan sekularisme. Meskipun dalam revisi kurikulum terbaru (kur13) telah dicantumkan kompetensi inti sikap spiritual sebagai kompetensi inti pertama namun asasnya memisahkan agama dari kehidupan. Asas ini kemudian menjadi landasan pengembangan kurikulum sekuler dan segenap turunannya termasuk kompetensi-kompetensi yang diajarkan.

Pemisahan ini menghasilkan individu berilmu namun tak paham tugasnya sebagai manusia. Ketika ketidakpahaman ini menimbulkan maslah dalam kehidupan, munculah ide pragmatis menyelenggarakan sekolah ibu atau sekolah perempuan.

Dalam catatan sejarah terukir peradaban Islam yang pernah berhasil menyelenggarakan pendidikan gemilang. Pendidikan dasar dan menengahnya berhasil mencetak manusia berkepribadian  Islam dan memiliki kemampuan mengarungi kehidupan.

Pendidikan tingginya berhasil menjadi pendidikan tinggi kelas satu, mendorong riset, penemuan dan inovasi yang mengantarkan umat pada satu peradaban gemilang, dengan intelektual polymath dan berkepribadian islam yang tangguh.

Asas pendidikan Islam adalah aqidah. Tujuan pendidikan Islam adalah membangun kepribadian islami dengan cara menanamkan tsaqafah Islam berupa akidah, pemikiran, dan perilaku islami. Dengan asas dan tujuan ini disusun sistem dan kurikulum yang memastikan setiap insan senantiasa berpikir dan bertindak sesuai pemahaman Islam.

Tidak terkecuali seorang perempuan yang berperan sebagai ibu dan istri. Abu Yasin dalam buku Strategi Pendidikan Negara Khilafah mencantumkan kurikulum khusus kerumahtanggaan yang bisa diambil khusus oleh siswa perempuan pada saat usia mereka 14 atau 15 tahun. Materi pokok di dalamnya mencakup tsaqafah Islam, Bahasa Arab, komputer, matematika umum, ilmu pengetahuan umum, kesehatan  di rumah,  perawatan anak, sosial kemasyarakatan dan materi lain yang ditetapkan oleh pakar.

Tentu ini tidak berarti hanya ilmu itulah yang diperoleh perempuan, namun ini menggambarkan bahwa kurikulum dalam sistem pendidikan Islam mencakup hal-hal yang diperlukan perempuan untuk menjadi seorang ibu dan istri. Menjadi perempuan tangguh pendamping suami dan pendidikan generasi terbaik yang mengantarkan Islam ke puncak peradaban.

Sejatinya penyediaan pendidikan bagi ibu saja tidak memadai untuk menekan angka perceraian. Terlebih lagi permasalahan yang dihadapi keluarga Indonesia dan Jawa Barat khususnya bukan semata tingginya perceraian. Rendahnya penghargaan terhadap tugas mulai seorang istri dan ibu, pertukaran peran suami dan istri dalam fungsi nafkah, menurunnya sopan santun anak-anak, pergaulan bebas dan kesulitan ekonomi adalah beberapa masalah yang menimpa keluarga Indonesia.

Solusinya tentu bukan hanya sekolah ibu, namun harus menyeluruh. Sistem pendidikan yang ideal, ketersediaan lapangan kerja bagi para ayah, kepedulian masyarakat untuk saling mengingatkan, mengembalikan rasa percaya diri perempuan sebagai ibu dan istri hanya sebagian dari upaya yang harus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah.

Menengok kembali keberhasilan sistem Islam menjaga keutuhan keluarga sekaligus mencetak generasi terbaik dengan sistem pendidikannya, tak bisa tidak kita harus kembali mengupayakan tegaknya kembali sistem Islam.[MO/sr]


Posting Komentar