Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com- Saya masih bisa mengingat, bagaimana ungkapan kegalauan Gie ketika ia mampu menumbangkan satu tiran, ternyata muncul tiran-tiran yang lain. Catatan-catatannya, menunjukan satu kesimpulan : pejuang itu petarung. Tapi Gie, gagal meraih visi 'bertarung' untuk apa.

Senada dengan itu, Erros (Gitaris Shiela On Tujuh) membuat syair tentang kerinduan seorang pujangga memburu terang pada gubahan lagunya. Akhirnya muaranya juga sama: kebingungan mencari visi hidup.

Hakekat 'terang' dan 'gulita' itu bergantung pada persepsi dan posisi. PDIP, misalnya mengklaim sebagai partai wong cilik, berkoar menentang kenaikan harga BBM, berubah total setelah PDIP duduk ditampuk kekuasaan.

Mungkin itulah sebabnya, Golkar tidak lagi membuat garis pembatas 'pejuang' atau 'pecundang'. Golkar memosisikan diri 'sebagai pedagang politik' yang harus tetap untung dalam setiap perniagaannya, baik sebagai penguasa atau mitra penguasa.

Pada era Ichal Golkar sempat keluar dari pakem menjadi partai oposisi. Namun, akhirnya Golkar kembali pada tabiat dan karakter dasarnya sebagai pedagang politik, mencari benefit dengan menghimpunkan diri di kubu Jokowi. Lumayan, dua jabatan menteri dituai sebagai kompensasi merapatnya Golkar.

Kembali ke soal Gie, Erros, dan khususnya 'sastra politik'. Pertarungan politik tidak pernah sepi dari pertarungan gerbong sastra dan seni. Dahulu, PKI punya divisi sastra dan seni untuk menopang visi partai. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) didirikan atas inisiatif D.N. Aidit, Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta pada tanggal 17 Agustus 1950, Lekra mendorong seniman dan penulis untuk mengikuti doktrin realisme sosialis.

Kaum hedonis juga membuat arus sastra yang serba permisif. Taufik Ismail menyebutnya dengan sebutan 'sastra selangkangan'. Mahzab sastra ini merupakan kumpulan orang yang terdoktrin mitos-mitos warisan Sigmund Freud. Sigmund Freud adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi.

Sastra mahzab Sigmund Freud adalah sastra yang menitikberatkan 'seks' sebagai objek eksploitasi dan sumber inspirasi. Jadi, mahzab ini pintarnya cuma bikin novel porno, puisi jorok, lukisan wanita telanjang, yang semuanya diklaim sebagai 'kebebasan seni'.

Ditengah pertarungan dua arus utama, arus sosialis komunis dan arus hedonis kapitalis Munculah mahzab dengan apa yang saya sebut sebagai 'mahzab sastra politik Nasrudin Joha'. Mahzab yang dinisbatkan pada tokoh eksentrik pada era kejayaan keKhalifahan Islam, yang nama aslinya adalah Nasrudin Hoja.

Mahzab sastra Nasrudin Joha menitikberatkan pada unggahan sastra, yang pada pokoknya menampilkan keindahan ujaran kata dan kalimat, aksen, ungkapan, goresan kanfas, atau semua bentuk fisik (madaniyah) yang merupakan produk budaya (Tsqofah) yang tetap terikat dengan hukum syara'.

Karena itu, Anda akan dapati unggahan sastra Nasrudin Joha, betapapun menggunakan kalimat mendayu dan mengharu biru, atau cadas tegas melawan setiap inchi kezaliman, keduanya tetap dalam koridor syara'. Anda tidak akan dapati, ungkapan keindahan khususnya tentang asmara dan saling cinta antara dua insan yang berbeda, kecuali keduanya terikat hubungan perkawinan dalam rumah tangga.

Sastra Nasrudin Joha, tidak mengizinkan unggahan untuk mengharu-birukan suasana batin dan perasaan saling cinta antar lawan jenis, jika itu diluar tali hubungan pernikahan. Tentu saja, sastra Nasjo (akronim dari Nasrudin Joha) tidak akan mengunggah ungkapan apik untuk menggambarkan kedekatan dan rasa yang membara antar sesama jenis (LBGT).

Yang paling penting, sastra politik Nasjo diakadkan untuk melakukan tujuan politik sesuai dengan amanat Islam. Yakni, untuk melakukan riayah (pengaturan dan pelayanan) terhadap umat, menerapkan Islam secara kaffah sekaligus mengemban misi dakwah Islam keseluruh penjuru alam. Visi sejati sastra mahzab Nasjo, adalah untuk meraih ridlo Allah SWT dan surga-Nya.

Dengan demikian, pengusung sastra Nasjo tidak akan pernah galau seperti Shoe Hok Gie. Mereka, adalah para pemuda Islam yang telah tuntas menjawab pertanyaan hidup : darimana berasal ? Untuk apa hidup ? Akan kemana setelah ajal menjemput.

Akhirnya, ditengah arus sastra picisan, sastra komunis, sastra hedonis, kami sampaikan kepada khalayak penikmat seni dan sastra. Sastra Mahzab Nasrudin Joha. Anda juga dapat menjadi bagian penikmat sastra Nasrudin Joha yang lebih akrab disebut sebagai 'Bani Nasjo'. Selamat menikmati.[MO/sr]

Posting Komentar