Oleh : Neng Nur (Katapang)

Mediaoposisi.com-Sepanjang tahun 2018, sedih, pedih, perih, mungkin itulah kata-kata yang bisa mewakili ragam duka, luka, dan nestapa bangsa ini akibat musibah yang bertubi-tubi.

Ada berbagai musibah yang menimpa negri ini. Ada musibah fisik, musibah ekonomi, hukum, sosial dan moral. Semua itu adalah PR memasuki tahun 2019.

Kita tak ingin semua musibah tersebut terjadi lagi di tahun 2019. Akhir-akhir ini, musibah yang  menonjol di negri ini adalah bencana alam.

 Disisi lain terjadi pemanfaatan sumber daya alam yang tidak semestinya, yang tidak diperuntukkan bagi rakyat malah dikuasai asing dan aseng. Hal makin memperjelas rezim adalah antek asing dan aseng.

Tidak terciptanya stabilisasi politik, padahal penting untuk menentukan opsi-opsi kebijakan yang akan datang sehingga memberi solusi yang bernilai tinggi bagi perbaikan kesejahteraan, keadilan dan keamanan nasional.

Dalam dimensi sosial, tantangan terbesar yang dihadapai selama 2018 adalah recovery terhadap banyaknya bencana alam, seperti gempa bumi, dan tsunami yang merenggut nyawa ribuan orang.

Tahun ini menjadi tahun penuh duka bagi bangsa Indonesia. Bencana massif mencakup kecelakaan transportasi udara dan laut yang menjadi catatan kelam sekaligus peristiwa yang sangat mematikan.

Namun sekali lagi nampaknya rezim gagal dalam antisipasi dan prioritas penanggulangan bencana, terbukti masih banyak janji-janji yang belum tertunaikan.

Memang kita sebagai manusia tak bisa mengelak dari bencana, semua merupakan kehendak Allah pemilik bumi.

Maka upaya kita manusia hanya bisa menghindar sekaligus menjaga kelestarian alam dan mengembangkan teknologi untuk mengantisipasi apabila bencana akan terjadi lagi. Tentu yang paling bertanggung jawab, khusunya terkait teknologi adalah negara.

Apa yang harus kita lakukan? Khususnya kita sebagai seorang muslim? tentu semua ini harus disikapi secara benar sesuai dengan tuntutan syariah.

Secara umum musibah ada dua macam. Pertama: musibah karena faktor alam yang merupakan bagian dari sunnatullah atau merupakan qadha (ketetapan) dari Allah swt yang tak mungkin ditolak.

Misalnya musibah gempa bumi, gunung meletus, tsunami dll. Bagi kaum mukmin qadha ini merupakan ujian dari Allah swt, sebagai mana firman-Nya:

Sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan, juga berkekurangan nya harta, jiwa dan buah-buahan. Sampaikan lah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (TQS. Al baqarah :155).

Kedua: musibah yang merupakan akibat dari berbagai maksiat manusia dan pelanggaran mereka terhadap syariah Allah swt. Terutama yang dilakukan oleh para penguasa dalam wujud berbagai tindakan zalim yang mereka lakukan.

Dalam hal ini Allah swt berfirman : Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan)mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya)(TQS, ar Rum:41).

Namun jangan lupa bahwa bencana alam pun tidak semata-mata faktor alam, namun bisa jadi sebagai akibat dosa-dosa manusia karena berpaling dari syariat Nya (QS 5: 49).

Fakta yang terjadi di tengah rezim sekuler ini menunjukkan betapa banyak tipu daya dan kedustaan pun terkuak, haus kekuasaan, keangkuhan, harta, pembangkangan kepada Allah swt, pemberangusan terhadap pembela Wahyu Allah, kezaliman, kedustaan /hoax dan operasi intelijen saat itu terjadi menimpa rakyat.

Akbatnya pun tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang berbuat zalim saja, orang-orang sholeh pun dapat terkena dampaknya. Sebab itulah sunnatullah ketika tidak ada lagi amar ma'ruf nahi munkar

Kini, kondisi seperti itu jelas terlihat, mereka yang brdakwah para ulama, kiai dan ustadz dipersekusi, dilarang, pengajian dibubarkan, ormas islam yang berdakwah tanpa kekerasan pun dicabut badan hukumnya.

Kalimat tauhid dikriminalisasi dan distigma berbahaya, teroris, radikal, intoleran. Sikap sok kuasa dan angkuh terhadap lawan politik kian terang-terangan. Di bidang ekonomi harta kekayaan menumpuk pada segelintir orang.

Saat semua ini terjadi, tak salah bila petaka, baik yang menimpa orang zalim maupun orang shalih, harus dipandang sebagai teguran dan peringatan keras dari Allah swt. "Mungkin alam mulai bosan, bersahabat dengan kita...(begitu kata Ebiet G Ade).

Saatnya negri ini harus berubah, bencana dan musibah harus menjadi pelajaran, memberi hikmah. kita tak ingin bencana dan musibah ini terjadi di tahun 2019 dan tahun-tahun selanjutnya.

Agar keberkahan menaungi negri ini tak ada cara lain selain kembali kepada syariat Nya, menerapkan hukum-hukum Alloh SWT secara kaaffah. (QS 30:41, QS Al A'rof : 96). Wallohu 'alam bish showab.[MO/AD]

Posting Komentar