Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt
(Pemerhati Kebijakan Publik)

Mediaoposisi.com- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan permintaan impor gula industri memang terus meningkat setiap tahunnya. Menurut dia, peningkatan volume impor gula industri dipicu oleh permintaan dari industri yang juga tumbuh. Namun, ia memastikan setiap kebijakan impor selalu didasari oleh kebutuhan industri dalam negeri. Menurut dia, produksi dalam negeri selain kuantitasnya tidak memenuhi kebutuhan, kualitasnya pun tidak bisa diterima oleh industri.(Jakarta, Tempo.co.2018).

Sebuah pernyataan yang sesuai fakta kekinian dan sesuai dengan teori suply-demand ekonomi. Akan tetapi Hal yang sangat menarik untuk dikritisi adalah manakala ada pernyataan dari seorang pejabat publik, bahwa kuantitas dan kualitas produksi dalam negeri adalah tidak bagus dan tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh kalangan industri.

Sangat miris, mengingat pejabat publik seharusnya membuat kebijakan dan pernyataan yang pro rakyat, tersebab pejabat publik tidak sama dengan makelar, apalagi pedagang.
Pejabat publik harusnya berprofesi untuk mengatur bagaimana agar seluruh kebijakan yang dibuatnya menjadi wasilah tercapainya kesejahteraan seluruh warga masyarakat yang dipimpinnya, tak terkecuali para petani dalam negeri.

Jika keran import dibuka lebar, apa jadinya nasib para petani tebu dan produsen gula dalam negeri ?. Semua pasti memiliki jawaban yang sama yaitu terjadi daya saing tinggi antara barang import dengan barang yang dihasilkan didalam negeri. Barang dalam negeri menjadi tidak laku. Karena branding yang dilakukan oleh barang import lebih kuat dibanding branding  produk dalam negeri, yang kadang-kadang dijatuhkan sendiri kualitasnya oleh para pemegang kebijakan, melalui pernyataan yang sebetulnya tidak layak keluar dari mulut pejabat publik.

Logika sederhananya adalah, jika keran impor ditutup untuk produk yang bisa dihasilkan didalam negeri, maka hal ini dapat menyelamatkan barang-barang yang dihasilkan oleh para petani dan industri lokal. Semisal tebu dan gula.

Masyarakat dan industri didalam negeri akan menggunakan gula produksi dalam negeri, dan ini sangat membantu para petani tebu lokal dan industri gula lokal.
Ada kepastian penjualan. Ketika produk berhasil dijual, maka hal ini dapat menekan angka kerugian dan mendatangkan keuntungan bagi petani dan industri lokal.

Maka memang dibutuhkan keberanian dari para pembuat kebijakan untuk menghentikan kebijakan impor bagi barang-barang yang bisa diproduksi didalam negeri, semisal gula. Jikapun produksi dalam negeri secara kuantitasnya tidak memenuhi jumlah permintaan didalam negeri, wajiblah bagi para pengatur urusan warga masyarakat untuk memikirkan dan melakukan berbagai macam inovasi-inovasi yang inovatif dalam upaya meningkatkan produksi gula dalam negeri. Sehingga kebutuhan gula dalam negeri bisa dipenuhi oleh produksi gula dalam negeri.

Pun begitu, jika kualitas gula dalam negeri dinilai kurang baik, maka sebaiknya para pembuat kebijakan tidak serta merta membuka keran impor. Akan tetapi yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kualitas gula dalam negeri, dengan mendatangkan para ahli dibidangnya untuk menuntun para petani dan industri gula  tentang bagaimana caranya menghasilkan produk gula yang baik kualitasnya.

Sehingga dengan upaya ini, kualitas gula dalam negeri akan meningkat. Pasar gula dalam negeri aman dari penjarahan oleh gula impor.
Adapun kebijakan yang bisa diambil untuk meningkatkan produksi gula guna memenuhi jumlah permintaan gula dipasar, baik untuk keperluan pribadi maupun keperluan industri antara lain sebagai berikut :

pertama, melarang pengalihfuangsian lahan pertanian, semisal lahan tanam tanaman tebu menjadi lahan perumahan atau industri.

kedua, melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman tebu, sehingga produksi tetap melimpah.

ketiga, meningkatkan riset dan teknologi terkait dengan pengembangan produksi tanaman tebu dan gula berkualitas.

keempat, menghilangkan seluruh kebijakan-kebijakan yang membuat semangat petani tebu menurun dalam proses produksi tanaman tebunya, juga yang dapat menurunkan semangat dan membuat bangkrut industri gula dalam negeri.

Keempat poin diatas terkait dengan upaya meningkatkan jumlah produksi tanaman tebu dan industri gula.

Adapun kebijakan yang dapat diambil terkait dengan meningkatkan kualitas gula, sehingga bisa bersaing dengan gula impor yang digadang-garang lebih baik kualitasnya, antara lain :

pertama, melakukan riset berkesinambungan terkait dengan peningkatan kualitas gula, bekerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian dalam negeri dan perguruan tinggi- perguruan tinggi.
kedua, melakukan upaya branding ditingkat pemerintah dan pengambilan kebijakan dengan branding positif terkait produk-produk dalam negeri, sehingga warga masyarakat dan industri percaya diri  dalam menggunakan gula produksi dalam negeri.

ketiga, menggunakan dan mengaplikasikan hasil riset yang ditemukan oleh para peneliti dari lembaga-lembaga penelitian terkait dengan cara meningkatkan kualitas gula. Hasil riset tidak disimpan dan dipetieskan.

Dengan ketiga langkah sederhana diatas, setidaknya mampu mendongkrak kualitas gula produksi dalam negeri, sehingga digunakan oleh pasar individu dan industri.

Sebetulnya langkah yang ditetapkan diatas tidaklah sempurna. Dan yang menyempurnakannya adalah penguasa yang benar-benar pro rakyat. Dan penguasa pro rakyat ini tidaklah ada kecuali dalam sistem Islam yang menerapkan syariat Islam kafah.

Karenanya, cukuplah sampai disini saja seharusnya penderitaan para petani tebu dan industri gula dalam negeri. Dan saatnya  petani tebu dan industri gula dalam negeri bahagia dengan adanya upaya sungguh-sungguh dalam penerapan syariat Islam kaffah dalam bingkai Khilafah. Karena  yang dapat menghentikan keran impor yang menyusahkan warga masyarakat hanyalah Islam dan Syariatnya.[MO/sr]




Posting Komentar