Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt
(Pemerhati Sosial Masyarakat)

Mediaoposisi.com- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjanjikan fasilitas keuangan untuk perumahan agar generasi milenial juga dapat memiliki rumah sendiri. Menurut Presiden, pemerintah menyediakan fasilitas uang muka dan fasilitas bunga yang berbeda untuk perumahan. (Jakarta, Republika.co.id, 2018).

Adalah hal yang patut diapresiasi ketika pemimpin negeri memikirkan nasib rakyatnya, yaitu agar memiliki tempat tinggal. Sehingga dikeluarkan berbagai macam kebijakan agar apa yang menjadi pemikiran pemimpin negeri terealisasi dilapangan.

Akan tetapi, tetap saja banyak hal yang patut dikritisi terkait dengan kebijakan pemerintah dalam memberikan fasilitas keuangan untuk perumahan bagi publik utamanya bagi generasi milenial. Mengingat fasilitas keuangan yang dijanjikan berbasis bunga.

Jika ditinjau lebih dalam, fasilitas keuangan yang berkaitan dengan bunga, sesungguhnya bukan solusi mumpuni atas masalah ketiadaan kemampuan membeli atau kredit rumah. Tersebab memberikan pinjaman berbunga akan menimbulkan masalah baru. Artinya menyelesaikan masalah dengan masalah hanya akan menimbulkan masalah.

Sebagai gambaran, masalahnya adalah tidak punya rumah. Solusinya diberi pinjaman uang berbunga. Terlepas dari besar kecilnya bunga yang diberikan. Timbul masalah baru ketika ada kenaikan suku bunga, sehingga peminjam uang tidak mampu mengembalikan pinjaman karena ada perubahan nilai utang yang harus dibayar. Kena denda atau malah rumah yang dibeli dengan cara kredit berbunga malah disita bank.Bukannya menyelesaikan masalah. Malah menimbulkan masalah. Uang hilang, rumah melayang.

Pemenuhan Tempat Tinggal Dalam Pandangan Islam
Sebetulnya, jika rakyat membutuhkan sesuatu terkait kebutuhan utama kehidupannya berupa tempat tinggal. Maka pemimpin harus memenuhinya dengan mekanisme yang tidak bersifat spekulasi. Dengan mekanisme sebagai pengurus urusan masyarakat, bukan sebagai makelar atau pedagang dan konsumennya adalah rakyat.

Maka hal yang wajar dan kerap terjadi jika pemimpin negeri dalam Islam akan memberikan tempat tinggal gratis tanpa harus bayar, kepada rakyatnya. Atau kalaupun akan memberikan pinjaman uang agar rakyat bisa membeli atau kredit rumah.  Pinjaman yang diberikan tidak berbunga. Karena nilai bunga sangat bersifat spekulatif, tidak bersifat pasti.

Lebih jauh lagi, urusan bunga berbunga ini masuk dalam kategori riba yang diharamkan dan memiliki nilai dosa.  Sedangkan urusan pinjam meminjam ataupun kredit adalah urusan yang bersifat pasti nilai dan waktu pengembaliannya.

Sedangkan, saat ini, saat kehidupan diatur didalam sistem sekuler kapitalis, sudah dapat diprediksi bahwa pemimpin negeri tidak akan mampu memberikan tempat tinggal gratis kepada rakyatnya, atau memberikan kredit tanpa bunga pada rakyatnya. Tersebab cara pengurusan urusan warga masyarakatnya adalah cara dagang yang diatur oleh para kapital.

Karena dizaman yang diatur dengan sistem rusak sekuler kapitalis, muamalah ekonominya adalah ekonomi kapitalis yang berbasis bunga berbunga atau riba. Dan hubungan pemimpin dengan rakyatnya tidak ubahnya bagaikan hubungan pedagang dengan konsumen.

Hal ini dikarenakan sistem hidup yang mengatur kehidupan saat ini adalah sistem hidup yang diatur oleh hawa nafsu manusia belaka dan menjadikan uang dan keuntungan materi sebagai setir kehidupan. Inilah yang disebut dengan sistem hidup sekuler kapitalis.

Karenanya wajar saja jika pemimpin negeri dalam sistem sekuler kapitalis akan memberikan pinjaman uang berbunga kepada rakyatnya. Tak peduli hal ini sangat memberatkan dan memusingkan rakyat.

Kalaupun ada rakyat yang mampu mengembalikan kredit berbunga tepat waktu. Tetaplah mereka dipaksa ikhlas menjalani proses kepemilikan rumah yang sangat bersifat  spekulatif ini.
Pemikiran dan kebijakan seperti ini sungguh sudah harus dihentikan. Mengingat tidak ada nilai kebaikan dan keberkahannya sama sekali. Menjebak manusia dalam perbuatan dosa yang tidak disadarinya yaitu  bermain bunga atau riba.

Dan yang dapat menghentikan sistem ekonomi kapitalis berbasis riba yang telah melilit seluruh sektor kehidupan yang sangat rusak ini, hanyalah Islam dan syariatnya dalam bingkai Khilafah.
Tersebab hanya sistem Islam saja yang tidak mengenal istilah bunga dan riba. Hanya sistem Islam saja yang mengenal kewajiban pemimpin sebagai pengurus urusan warga masyarakat yang dipimpinnya, baik muslim maupun non muslim.

Hanya sistem Islam saja yang memberikan hak pengelolaan sumber daya alam yang melimpah ruah milik masyarakat kepada pemimpin negara, untuk dikelola, sebagai modal untuk menyejahterakan warga masyarakatnya, termasuk dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal.

Sehingga hanya sistem Islam saja yang mampu memberikan tempat tinggal dengan sistem yang sangat sederhana bagi warga masyarakatnya. Tersebab sistem Islam saja yang dapat memberikan peluang negara menjadi kaya dan kuat serta memiliki kemampuan untuk mendistribusikan kekayaannya dengan adil kepada seluruh warga masyarakat. Kekayaannya pasti akan melebihi kekayaan yang dimiliki oleh orang terkaya sekalipun.

Kekuatanya akan melebihi kekuatan orang paling kuat sekalipun. Itulah sistem Islam atau Khilafah, pemilik kewenangan yang mengatur seluruh urusan hidup manusia, berdasarkan hukum syariat.
Karenanya, saatnya para pemimpin zaman now merubah paradigma pemikirannya ketika mencari solusi atas seluruh permasalahan hidup warga negaranya.

Dengan mengambil paradigma pemikiran Islam kaffah. Karena hanya Islam kaffah sajalah yang mampu memberikan solusi atas seluruh permasalahan umat manusia dengan solusi yang menentramkan hati, memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia.

Juga saatnya para pemimpin negeri berpaling dan pergi meninggalkan sistem rusak sekuler kapitalis yang hanya  menyumbangkan banyak masalah dan kesempitan hidup. Membuat para pemimpin negeri dalam sistem sekuler kapitalis banyak membual dan melakukan aksi pencitraan.

Saatnya pemimpin negeri kembali kepada Islam dan syariatnya, karena  hanya inilah satu-satunya solusi atas seluruh permasalahan manusia, satu diantaranya adalah masalah penyediaan tempat tinggal bagi rakyat, diantaranya adalah bagi generasi milenial.[MOsr]



Posting Komentar