Oleh : Husain Matla

Mediaoposisi.com-Apakah orang Jawa memang biasa mensakralkan hal yang sebenarnya "biasa-biasa aja", atau memistiskan yang sebenarnya empirik ?

Saya pernah terpikir hal ini ketika melihat acara Berjanjen (membaca surat Al- Barzanji). Ungkapan kerinduan kepada Rasulullah saw dilakukan sebagai ritual sebagaimana shalat. Itulah mengapa sebagian mengharamkan penyelenggaraannya dengan alasan bid'ah.

Saya sendiri lebih cenderung ikut pendapat yang membolehkannya, dengan catatan jangan menganggapnya sebagai ibadah ritual. Yaah, anggap saja seperti Opick atau Nisa Sabyan bersenandung

Sekarang saya ketemu fakta satu lagi. Yaitu ketika orang sibuk mengamati "Ramalan Ronggo Warsito" (RRW). Dengan mengatakan bahwa Pak Jokowi adalah satria ketujuh yang akan muncul menyelamatkan Nusantara dengan gelar "Satria Pinandita Sinisihan Wahyu" (ksatria/tokoh/aktivis/pejuang/petarung berjiwa pengajar dan bersahaja [laksana pendeta] yang terlimpahi wahyu).

Alasannya, berdasar RRW satria piningit (ksatria yang awalnya tersembunyikan) akan ada tujuh, semuanya satria penyelamat Nusantara, dan yang enam sudah muncul. Berikut yang mereka maksud:

1. Satria Kinunjara Murwa Kuncara (pejuang yang semula dipenjara kemudian terkenal) Bung Karno

2. Satria Mukti Wibawa Kesandung Kesampar (pejuang yang gagah dan tampak sejahtera serta berwibawa, tetapi akhirnya bernasip apes (tersandung dan tertabrak) Pak Harto

3. Satria Jinumput Sumela Atur (pejuang yang tiba-tiba termunculkan, datang sebentar memberi sambutan) B.J Habibie

4. Satria Lelana Tapa Ngrame (pejuang yang banyak pergi, tetapi bertapa dengan cara meramaikan) Gus Dur

5. Satria Hamong Tuwuh (pejuang yang membawa nama keturunan) Megawati

6. Saria Boyong Pembukaning Gapura (pejuang yang membawa perpindahan menuju terbukanya pintu gerbang) SBY

7. Satria Pinandita Sinisihan Wahyu (pejuang yang berjiwa pengajar dan bersahaja, serta terlimpahi wahtu) Jokowi ?

Tapi tanggapan juga macam-macam. Banyak yang menyimpulkan kok sepertinya no 1 sampai 5 seakan benar, sementara yang no 6 dan 7 apa betul begitu?

Saya sendiri kok melihat "ramalan" KRMT Ronggo Warsito abad XIX M  itu bukan seperti ramalan dukun atau petunjuk dari jin yang terasa sakral dan berbau gaib.

Justru nampak tak jauh beda dengan "ramalan" tokoh intelektual muslim abad XIV M, Abdurrahman Ibnu Khaldun, dalam kitabnya Al-Muqaddimah (yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin, Prolegolema).

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa negara terdiri dari lima generasi yaitu generasi perintis, generasi pembangun, generasi penjaga tradisi, generasi penikmat, generasi penghancur.

Maksud saya, keberadaaan pemimpin-pemimpin sebagaimana ungkapan Ronggo Warsito adalah konsekuensi dari kondisi zaman sebagaimana ungkapan Ibnu Khaldun Atau RW terpapar virus Khaldunisme?

Saya cenderung melihat demikian karena ungkapan Ronggo Warsito itu disebutkan sebagai suatu hal yang "cakra manggilingan", alias roda berputar, alias siklus. Sementara kita mengenal pemikiran Ibnu Khaldun selama ini sebagai siklus.

Dan itu adalah hal yang biasa saja, empirik, dan justru berlebihan jika kita terlalu mencari tokohnya dan menisbatkannya bahwa "satria-nya itu adalah". Pertanyaan juga, apakah satria-nya itu harus pemimpin negara ?

Jika kita melihat Indonesia menjelang kemerdekaan, maka kita lihat bahwa "satria kinunjara murwa kuncara" itu bejibun jumlahnya.

Yang namanya ingin bebas dari penjajah, memang mengharuskan pejuang yang semacam itu. Syahrir, Hatta, Tan Malaka, semuanya begitu, tak hanya Bung Karno. Berapa ratus pejuang yang ditangkap Belanda. Dan andai mereka nanti jadi pemimpin, bukankah nanti juga terkenal? Lihat pula Nelson Mandela di Afrika Selatan dulu.

Bahkan para satria baja hijau pendiri AS tak hanya kinunjara (terpenjara), bahkan kinembak mati atau setidaknya kinejar nejar tentara Inggris di hutan. Para sahabat Nabi dulu kinampleng (dipukul), kinampluk (ditampar), bahkan kinombak mati.
"Satria Kinunjara Murwa Kuncara adalah konsekuensi logis para pendiri negara"
Dari Bung Karno menuju Pak Harto, banyak sekali jendral atau menteri yang gagah dan nampak makmur serta berwibawa. Paduan suasana perjuangan dan suasana menuju "suasana bisa cari makan". Jendral Nasution, Jendral Ahmad Yani, Marskal Omar Dhani, Bang Ali Sadikin, semuanya begitu. Tidak hanya Pak Harto.

Di masa lalu, khalifah kedua Bani Abbasiyah, sekaligus penggagas Kota Baghdad, adalah "sangat begitu", Abu Ja'far Al-Manshur. Dan potensi kesandung kesampar memang sangat tinggi.
Khalifah Umar bin Khaththab, Pati Unus, Andrew Johnson di AS, Raja Faishal di Saudi, bahkan menemui ajal.
Pihak yang terkalahkan, baik dalam negeri atau luar negeri, biasanya tidak puas dengan "satria mukti wibawa" dalam masa pembangunan atau ekspansi  ini.

Dari generasi kedua ke generasi ketiga sering menyisakan masalah. Yaitu banyaknya calon penerus dan kondisi yang kaget, berubah dari masa kemapanan. Maka bisa memerintah sebentar itu biasa. Jika saat itu bukan Habibie, apa bisa bertahan lama.

Di Uni Soviet, Nikita Kruschev juga hanya sebentar. Di Demak dulu, Sunan Prawoto juga hanya sebentar. Di Abbasiyah, Khalifah Musa Al-Hadi juga hanya sebentar.

Masih di generasi ketiga, jika masalah beres, maka negara sedikit kembali stabil. Maka yang dilakukan adalah cerita ke banyak pihak, "Ini lho negara kembali stabil, siapa mau terlibat?"
Ini sebagaimana Hayam Wuruk berjalan keliling Jatim Timur, Khalifah Harun Ar Rasyid dengan perjalanan segitiga Baghdad - Mekah - Romawi.
Lelana (perjalanan) dengan tapa ngrame (fokus pada visi misi dengan disampaikan via sosialisasi/diplomasi) adalah konsekuensi zaman ini. Jika Bukan Gus Dur, apa pemimpin yang lain tidak begitu?

Dari generasi ketiga ke keempat adalah dari penjaga tradisi ke penikmat, biasanya yang muncul suasana 'undzur man qola, wala tandzur ma qola" (lihat siapa yang mengatakan, jangan lihat apa yang dikatakan).

Mau Pramono Anung itu teknokrat cerdas lulusan ITB, dia bukan siapa-siapa. Dia harus di bawah Megawati, anak Bung Karno gitu loh. Mau Bhre Wirabhumi itu panglima, cerdas, pahlawan, dia hanya anak selir dan blok Blambangan.

Lain dengan Kusuma Wardhani, walau dia wanita, tapi anak Hayam Wuruk dari permaisuri, trah Girindra Wardhana (keturunan Jenggala sekaligus Kediri), blok ibu kota. Mau Al Makmun itu santun seperti SBY, tapi dia setengah Persia.

Lain dengan Al -Amin, yang anak Harun Ar Rasyid dengan model Abbasiyah tulen dari dua jalur. Hamong tuwuh memang model zaman itu. Gus Dur tak hanya tapa ngrame, tapi juga hamong tuwuh. SBY juga masih bau-bau Sarwo Edhie, sahabat dan penerus Ahmad Yani.

Justru yang menjadi masalah adalah saat muncul Satria Boyong Pambukaning Gapura. Jika melihat gambaran negara-negara sebelumnya, maksud boyong pembukaning gapura adalah perpindahan orientasi dari pusat ke daerah.
Maksudnya, setelah pusat sudah, berikutnya daerah yang dibangun dan dimajukan. Tampaknya di Indonesia justru tokoh utamanya bukan SBY. Tapi Pak Amien Rais dan Prof Ryas Rasyid.

Mereka yang cukup aktif terkait otonomi daerah. SBY juga lah, paling tidak meresmikan.  Kalo Jokowi, katanya tol laut ke seluruh Indonesia, ternyata tol Jawa. Ini boyong balik kanan gapura.

Lah, yang Satria Pinandita Sinisihan wahyu inilah yang tidak tepat dilekatkan ke Jokowi. Karena yang ada hanya zaman penikmat dan penghancur.

Suasana konsumtif dan senang kemewahan, sebagaimana dinyatakan Ibnu Khaldun, ibarat gravitasi yang membawa jatuhnya bola pemerintahan menuju kehancuran. Dan di masa Jokowi, itu nampak dengan besarnya utang.

Katanya sih korupsi ditekan. Maksudnya yang banyak ngambil bukan pribumi (via korupsi) tetapi aseng (via hutang dan bunganya). Pembangunan daerah dengan cacat di sana-sini justru akan menjadikan rakyat rindu akan "ruh kehidupan".

Zaman dua generasi, entah keempat atau kelima, sama-sama merindukan akan adanya Satria Pinandita Sinisihan Wahyu (SPSW). Zaman akhir Majapahit, muncul Wali Songo.

Zaman mendekati kemerdekaan Indonesia, tengoklah HOS Tjokroaminoto, A. Hassan, KH. Akhmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari, semuanya nampak khas Satria Pinandita Sinisihan Wahyu. Para Ahli Badar dulu, bahkan lebih dari SPSW.

Maka jangan heran penggembala domba yang kecil pendek cacat telinga seperti Abdullah bin Mas'ud nantinya sanggup menjadi Gubernur Iraq. Jangan heran jika orang sangat miskin khas rakyat jelata semacam Amru bin Jamuh Ad-Dausy, menjadi bupati Suriah (suriah kok kabupaten ya) yang sukses, yang memilih tetap miskin tapi rakyatnya kaya. Ini karena mereka sinisihan wahyu (Al-Qur'an).

Sehingga mereka sepenuhnya loyal kepada Allah SWT dan optimal menyumbangkan kemampuan mereka. Ini sebagaimana disampaikan Allah SWT dalam surat Al-Adhiyat (kuda perang yang berlari kencang).

Ustadz Hafidz Abdurrahman, mengatakan kuda perang itu nyatanya tidak takabbur (fokus untuk dirinya) dan tidak kikir (sedikit memberikan apa yang dipunyai). Sebaliknya mereka loyal (fokus kepada tuannya) dan optimal (banyak memberikan apa yang dipunyai).

Manusia ideal seperti Al-Adhiyat itu. Dan karena cenderung bersahaja mengambil untuk dirinya, kalau orang Jawa menyebutnya dengan istilah pinandita (laksana begawan/pendeta tapi sebenarnya yang dimaksud adalah zuhud).

Sayangnya, saat menjelang kemerdekaan juga muncul satria pinandita yang tidak sinisihan wahyu, yaitu Trio Dowwes Dekker, KH. Dewantoro, dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo. Mereka merebut Bung Karno dari HOS Tjokro Aminoto.

Dan begitulah akhirnya imbasnya pada berdirinya negeri ini. Yang terlepas dari "sinisihan wahyu". Ini karena selain wahyu, menjelang kemerdekaan juga muncul hoax, semacam sekulerisme/kapitalisme dan sosialisme/komunisme.

Justru kalau kita menengok pada zaman sekarang, rakyat kembali kehilangan oreintasi. Negara ini tampak oleng. Maka keberadaan SPSW adalah konsekuensi.

Peurteunyeueunnyeu, siapa yang siap? Modelnya sudah sangat banyak. Ulama visioner, yang surbannya seakan menasehati ucapannya dari bicara  buruk, sebagaimana Wali Songo dulu. Nampaknya sudah banyak. Tentang orang? Habib Rizieq insyaallah siap. Sandiaga Uno, pindanditanya bagus, sayangnya belum sinisihan wahyu. Prabowo, sama.

Tapi kalau kita bicara konstruksi jangka panjang, "padepokan" yang menggembleng untuk bahkan lebih dari SPSW, itu ada, yaitu HTI (di internasional: HT).

Kitab-kitabnya itu loh !!! Juga arahnya jelas; Khilafah.

Wahyu-nya jelas, Al-Qur'an. Tetapi butuh jembatan untuk membawanya jadi sinisihan (terlekatkan) secara kolektif (wa'yul aam). Itulah makna kitab-kitab itu.

"Harokah adalah sekolahnya ummat. Kitab-kitab itu gurunya." (kitab At-Takattul Hizb)

Posting Komentar