Oleh : Nabila Imani Yusrina

Mediaoposisi.com-Tahun 2018 telah berlalu. Banyak peristiwa yang terjadi di sepanjang tahun kemarin.

Tak henti-hentinya negeri ini diliputi masalah dalam berbagai bidang. Sepertinya Indonesia harus terus mengevaluasi diri. Mengapa justru rangkaian cerita pilu yang dialami oleh umat ini dari tahun ke tahun ketika hidup dalam sistem demokrasi-sekuler yang rusak.

Negeri dengan limpahan sumber daya alam yang luar biasa, namun  justru tidak dirasakan oleh rakyatnya. Krisis kehidupan kian menerpa rakyat Indonesia, buktinya begitu sulit meraih kesejahteraan hidup di negeri yang (katanya) kaya raya ini. 

Karena hanya segelintir rakyat yang memilik akses terhadap kekayaan tersebut. Fakta, betapa kondisi ekonomi terasa makin sulit. Kebutuhan hidup semakin mahal dan sulit dijangkau.

Ditambah lagi dengan adanya kebijakan zalim oleh pemerintah yang membuat beban makin berat. Misalnya saja, kebijakan pajak, asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan, biaya pendidikan yang kian mahal, kenaikan berkala harga BBM dan listrik, serta kebijakan-kebijakan liberal antirakyat lainnya.

Demikian juga bagi umat Islam khususnya, bisa jadi 2018 adalah tahun kesedihan. Pasalnya, kedzaliman makin nyata. Ketidakadilan hukum diberlakukan oleh penguasa.

Kezaliman demi kezaliman menimpa para ulama dan umat Islam. Terjadinya persekusi ulama dan kriminalisasi ajaran islam, terutama ide Khilafah.  Label radikal dan teroris mudah dilekatkan pada mereka yang kerap mengkritisi pemerintah dan lantang menyerukan perubahan ke arah Islam. Hukum hanya berlaku bagi umat dan tokoh umat yang memegang kebenaran.

Benar-benar sistem yang diterapkan sekarang menghasilkan benyak permasalahan. Tidak hanya persoalan ketidakadilan hukum bagi umat Islam, tapi juga telah mengakar di  persoalan politik pemerintahan, ekonomi, sosial kemasyarakatan.

Yang paling hit adalah nation state telah menyekat umat Islam sehingga berdampak pada kepedulian mereka pada umat Islam di belahan dunia lainnya yang sedang mengalami serangan fisik (baca : penjajahan), seperti bangsa Uyghur, Rohingya, Palestina, Suriah, dan kaum muslim yang senasib lainnya.

Fakta lain pun menunjukkan bahwa pemerintah kiat terperosok dalam jebakan skenario asing, yang membuat masa depan negeri ini makin tergadai. Hutang ataas nama investasi pun makin menumpuk.

Terbukanya impor dan investasi asing di sektor usaha strategis hingga mikro justru dibuka lebar. Kebijakan soal masuknya tenaga kerja asing juga kian mempersempit lapangan pekerjaan untuk rakyat. Wajar saja jika sebutan antek asing aseng begitu lekat pada rezim ini.

Di bidang sosial, kita melihat bahwa maraknya kasus pornografi pornoaksi, narkoba, dan miras, meluasnya komunitas LGBT, kriminalitas dan lain-lain semakin menunjukkan lemahnya kepedulian penguasa dalam menjaga generasi bangsa agar tetap pada jalan kebaikan. Miris. Belum lagi, bencana alam yang terus menghujani negeri ini.

Banjir, longsor, kecelakaan transportasi (kapal, pesawat dll), gempa bumi, gunung meletus, puting beliung, hingga tsunami telah memporakporandakan segalanya. Sangat terasa bahwa kehidupan di tahun 2018 ini jauh dari keberkahan.

Parahnya, umat makin dijauhkan dari ajaran Islam, lewat propaganda anti Islam. Rezim dan antek-anteknya tak bosan-bosan melempar wacana dan opini menentang ajaran Islam.

Yang sempat jadi perbincangan soal perda bernuansa syariah dan poligami.  Ditambahnya masuknya arus pemikiran sekuler liberal melalui berbagai program. Hukum Allah telah dicampakkan dari negeri ini.  Padahal Allah telah menyatakan dalam firmanNya:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al-A’raf: 96).

Sungguh tak ada alternatif lain bagi negri Muslim terbesar ini kecuali dengan menerapkan syariah dalam bingkai Khilafah.

Karena hanya dengan kembali berhukum kepada Syariah-Nya akan diturunkan keberkahan oleh Sang Pemilik alam semesta.  Bahkan Khilafah akan menyatukan umat islam seluruh dunia, termasuk dari bangsa Uyghur, Rohingya, Palestina, Suriah, dan kaum muslim lainnya.  Sekaligus solusi atas penderitaan bagi saudara se-iman yang ditimpa penderitaaan di belahan dunia sana.

Justru Indonesia berpeluang untuk menjadi negera adidaya, negara yang mampu menaungi dan melindungi rakyatnya sehingga mampu bangkit dalam percaturan politik internasional. Tidak seperti saat ini, sebagai negara pembebek dan hanya manut pada keinginan Big Bos (negara adidaya).  Maha Benar Allah dengan segala firmanNya:

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (TQS Ali ‘Imran: 110).

Sayang,  hari ini Islam malah dijadikan sebagai ancaman. Akibat islamofobia akut yang terus diopinikan saat ini.  Bagaimana kita berharap solusi terbaik bagi  bangsa Indonesia ? Bagaimana akan meraih berkah jika kebaikan (Islam)  dianggap sebagai sesuatu yang buruk? Maka wajar saja, keterpurukan kian dalam. 

Sebab penerapan aturan yang salah, yang bukan dari Rabb penciptanya yaitu sistem kapitalis-sekuler.

Tak bisa tidak, di tahun 2019 hingga kedepannya, keresahan dan kedzalimah yang dirasakan oleh rakyat ini tidak bisa dibiarkan. Harus berubah. Tapi perubahan yang dituju (wajib) bukan sekedar perubahan parsial berupa pergantian pemimpin saja, namun juga pada perubahan sistem dan aturan Negara. Yakni perubahan dari sistem sekuler demokrasi menuju sistem Islam.

Cukup sudah!  Saatnya sistem batil ini dicampakkan. Kita sebagai umat Islam wajib terikat dengan  Islam secara sempurna.

Karna itulah konsekuensi sebagai muslim dan mukmin. Islam memiliki konsep yang begitu sempurna, adil dan proporsional yang akan menjadikan kaum Muslim dan non-Muslim justru dapat hidup rukun penuh keamanan dan kesejahteraan. Dengan penerapan hukum-hukum Allah secara kaffah (Khilafah) bisa dipastikan akan membawa kebaikan dan keberkahan negeri ini.

Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersama para sahabatnya. Yakni tumbangnya sistem kufur jahiliyah dan tegaknya sistem politik Islam di Madinah al Munawwarah yang dipenuhi dengan keberkahan, dan mampu melindungi dan mengurusi seluruh rakyat (muslim dan non muslim.[MO/ge]

Posting Komentar