Mediaoposisi.com- Rentetan bencana mengguyur bumi pertiwi seakan tiada habisnya. Mulai dari tsunami, gempa, tanah longsor, likuifasi, angin puting beliung, banjir, dll.

Bahkan pada Desember saja tercatat beberapa bencana yang menelan banyak korban.

Misalnya, Sabtu (22/12/2018), sekitar pukul 21.30 WIB terjadi tsunami di Selat Sunda yang menerjang pantai di Kabupaten Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.

Dikutip dari Tribunnews.com, pada Senin, (31/12/2018), tercatat 437 orang meninggal dunia, 14.059 mengalami luka-luka dan 16 orang hilang.

Lalu, Pada Jumat (28/12/2018), gempa bumi mengguncang Kabupaten Manokwari Selatan, Papua pada pukul 10.03 WIB.

Angin puting beliung terjadi di Cirebon tepatnya di Desa Panguragan pada Minggu (30/12/2018) pukul 16.15 WIB.

Dan di tutup pada akhir tahun oleh Kampung Cigarehong, Dusun Cimapag, RT 05/04, Desa Sirnasari, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Senin (31/12/2018) dilanda bencana longsor sekitar pukul 17.00 WIB.

Dalam bencana itu, sebanyak 30 rumah yang dihuni 101 warga terkubur.

Selasa (1/1/2019) sore, sebanyak 16 jenazah korban tewas ditemukan dan 19 lainnya masih hilang, dikutip dari Kompas.com.

Hal tersebut masih bencana di  bulan Desember.

Jika kita mundur dari bulan tersebut, tak kalah menghebohkan. Bencana-bencana besar menimpa negeri ini. Ada gempa Lombok yang datang berkali-kali, ada tsunami di Palu beserta likuifasi yang mengerikan, dll.

Melihat bencana tersebut, ada baiknya umat islam mengambil pelajaran dengan melakukan muhasabah terhadap bencana, dan dapat mengambil hikmah.

Refleksi Musibah: "Sebuah Peringatan dari Allah..!!!"

Jika kita tinjau,  musibah itu ada tiga tipikal.
Yang pertama adalah 'ujian atau cobaan'. Ujian atau cobaan adalah musibah yang menimpa kondisi kaum muslim  tengah tinggi-tinggi nya ketaatan kepada Allah SWT.

Hal ini bisa kita lihat ketika nabi Ayyub diberikan musibah oleh Allah secara beruntun, mulai dari anaknya meninggal, hartanya  diambil, sampai pada cobaan paling tinggi, dirinya terkena penyakit parah dan istrinya meninggalkannya.

Musibah tipikal 'ujian dan cobaan' adalah musibah dalam rangka menaikkan derajat seorang hamba.

Tipikal musibah yang kedua adalah 'peringatan'. Musibah ini terjadi ketika umat Islam dalam kondisi bermaksiat kepada Allah.

Dan musibah tipikal ketiga adalah 'azab'. Musibah berupa Azab terjadi untuk membinasakan orang yang ingkar (kafir) kepada Allah seperti musibah yang diturunkan pada Fir'aun.


Allah menimpakan bencana kepada umat islam saat ini adalah bentuk peringatan, mengingat kondisi kaum muslim tengah bermaksiat kepada Allah secara nyata.

Sebagaimana firman Allah SWT:

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya)" (TQS: ar-Rum (30): 41).

Kemaksiatan umat islam hari ini adalah mengabaikan islam dalam aspek pengaturan kehidupannya.

Misalnya dalam hal ekonomi. Ekonomi kapitalisme sekuler telah menjadikan sumber daya alam dikuasai oleh korporat atau individu tertentu saja. Kemudian, dana APBN ditopang oleh hutang luar negeri yang berlandaskan riba.

Bayangkan saja, pembayaran bunga utang, pada periode Januari-Juli 2017 adalah Rp 130,891 triliun.

Padahal secara jelas Rasulullah SAW bersabda:

Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi).

Dalam hadist yang lain disampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Jika zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri" (HR. al. Hakim, Al-Mustadrak, 2/42).

Maka jelas, praktik riba adalah haram dan mengundang murka Allah. Hutang luar negeri  yang menggunakan riba adalah tidak sesuai ketentuan syariat.

Mekanisme riba ini akhirnya menyebabkan tumpukan hutang yang semakin membesar dan mengancam negara, serta kemiskinan. Ini juga merupakan bencana  riba  dalam perekonomian.

Pelegalan LGBT yang turut memperkeruh pergaulan hari ini,  semakin merusak moralitas generasi. Sungguh ini suatu bencana yang sangat menakutkan juga.

Jadi, saat ini umat Islam telah bermaksiat secara nyata karena mengabaikan hukum Allah di ranah sosial kemasyarakatan (habblu minannas). Kemaksiatan itu dilakukan oleh jamaah yang dilembagai dalam sebuah istilah negara. Negara yang berasaskan demokrasi-sekuler adalah sebuah kemaksiatan.

Hikmah dari Musibah

Adanya musibah ini menjadikan  umat harusnya mengambil hikmah. Mereka  harus kembali kepada syari'at Allah SWT, dan insyaAllah janji keberkahan yang diperoleh akan di dapatkan.

Allah SWT berfirman

"Jika sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa kepada-Ku. Niscaya akan Aku bukakan pintu berkah dari langit dan dari bumi. Tapi mereka mengingkari Ku, maka Aku timpakan (musibah)  atas apa apa yang mereka lakukan."(TQS: Al-Arof (7) : 96).

Negeri ini akan mendapatkan keberkahan jika  menerapkan Islam secara Kaffah.

Dan, musibah ini akan berbuah keberkahan jika umat Islam sadar akan pengabaian syari'at dan bertaubat. Musibah akan berbuah keberkahan jika umat Islam terdorong untuk mencampakkan hukum jahiliah dan mengambil hukum Allah secara kaffah.

Sikap menghadapi musibah
Ragam musibah yang datang menimpa agar berbuah berkah harus kita sikapi dengan yang pertama, adalah ridho dan sabar. Kesabaran akan berbuah pahala dari Allah SWT.

Kedua, bermuhasabah. Dengan itu, setiap muslim bisa mengukur sejauh mana ia telah betul-betul menaati seluruh perintah Allah SWT, dan sejauh mana ia benar-benar telah menjauhi larangannya. Hal tersebut akan menjadikan dirinya setiap saat untuk terus berupaya menjadi orang yang selalu taat kepada Allah SWT serta menjauhi maksiat dan dosa kepada-Nya. Ini adalah bentuk keberkahan yang lain.[MO/sr]

Posting Komentar