Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Umat Islam begitu lega dan bahagia mendengar kabar Ust Abu Bakar Ba'asyir (ABB), akan dibebaskan. Sebagaimana diketahui, Ust. ABB tidak melakukan tindakan kejahatan apapun, kecuali menyampaikan dakwah Islam.

Berbagai Kezaliman terus Istiqomah ditimpakan kepada beliau, dari rezim ke rezim sampai era Jokowi. Jokowi sendiri, sepanjang kekuasaannya memimpin NKRI, baru kali ini, diakhir masa jabatan, disaat masa kampanye, mengaku prihatin dan meminta membebaskan ABB atas alasan kemanusiaan.

Jokowi melalui kuasa hukumnya, mengklaim tindakan ini sebagai bentuk konfirmasi Jokowi menghormati ulama, dan tidak ingin ada ulama yang berlama-lama berada dalam lembaga pemasyarakatan. Satu statement yang tak pernah diucapkan, sejak awal menjabat sebagai Presiden R.I., hingga saat ini, kecuali setelah datang masa kampanye Pilpres.

Fenomena ini layak untuk dikaji, dari beberapa aspek :

Pertama, nampak sekali rezim Jokowi sangat ketakutan dan terjepit dengan label yang disematkan umat kepada Jokowi sebagai 'rezim yang represif dan anti Islam'. Banyaknya kriminalisasi ulama, habaib, bahkan hingga kriminalisasi terhadap simbol dan ajaran Islam, membuat umat marah dan pasti akan menghukum Jokowi dalam Pilpres.

Tindakan ini tentu sangat mengkhawatirkan Jokowi, sebab suara umat Islam adalah kunci kemenangan. Jokowi tidak akan menang jika hanya mengandalkan suara kader PDIP.

Bagi Jokowi, tanpa melakukan tindakan apapun, bahkan berkali kali dusta dan khianat, Jokowi tetap akan dipilih oleh pemilih basis PDIP. Namun, basis pemilih umat Islam ? Nanti dulu. Umat Islam adalah umat yang pantang terperosok pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Kedua, Jokowi perlu membuat terobosan tindakan -dengan memanfaatkan wewenang yang melekat sebagai Presiden- untuk menepis fakta rezim represif dan anti Islam, menepis fakta kriminalisasi ulama dan habaib, menepis fakta kriminalisasi terhadap simbol dan ajaran Islam, dengan membebaskan Ust. ABB.

Tindakan ini, pada masa kampanye Pilpres akan dikapitalisasi oleh rezim Jokowi untuk membangun wacana ditengah umat bahwa Jokowi adalah sosok yang dekat dan menghormati ulama.

Jokowi akhir-akhir ini memang mampu mengakuisisi beberapa tokoh dan gerakan ormas Islam untuk 'nyebong' berada di kubu rezim. Sepanjang dan sebatas pada ulama atau tokoh yang ada, yang mampu digiring rezim untuk nyebong, tindakan ini belum mampu menghapus kesimpulan umat yang melabeli Jokowi sebagai rezim yang represif dan anti Islam.

Karenanya, Jokowi butuh untuk berburu tokoh dan ulama umat Islam yang lebih kharismatik dan berpengaruh ditengah umat, untuk diajak nyebong. Kasus pembebasan Ust ABB adalah salah satu yang ditempuh, meski dengan modus berbeda.

Ketiga, tindakan rencana pembebasan Ust ABB yang dilakukan pada saat kampanye Pilpres, bukan pada saat Jokowi menjabat sejak awal, jelas mengkonfirmasi kebenaran analisis pertama dan kedua, sekaligus dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa : Jokowi itu cuma peduli pada elektabilitas, bukan pada Ust ABB.

Kenapa tidak sejak awal Ust ABB dibebaskan ? Ust ABB itu pengemban dakwah, kenapa dulu dikriminalisasi ? Lantas, apakah tindakan receh dan remeh temeh ini harus dibayar umat Islam dengan berdamai dan memilih Jokowi ? Tentu saja ogah.

Menilai sosok asli Jokowi itu bukan saat kampanye Pilpres, tetapi selama empat tahun lebih memimpin bangsa ini. Dan sepanjang itu, khususnya pasca aksi 212 tahun 2016, dalam era Jokowi kriminalisasi terhadap ulama dan habaib, kriminalisasi terhadap simbol dan ajaran Islam, marak terjadi. Karena itu, umat tidak akan lengah dan tetap akan melabeli rezim Jokowi sebagai rezim yang represif dan anti Islam.

Bagaimana sikap umat saat ini ? Wajib Bersyukur atas rencana pembebasan Ust ABB karena itu hak beliau, semoga bisa segera terealiasi. Tetapi jika diminta berdamai dengan Jokowi dan memilihnya saat pilpres, tentu saja tidak. Waktu Jokowi sudah habis.

Bagaimana jika karena tulisan ini Ust ABB batal bebas ? Karena Jokowi sadar motif dari rencana dibalik semua ini tidak akan menghasilkan elektabilitas ? Jawabnya mudah saja : ya, begitulah rezim yang represif dan anti Islam, terbiasa mengumbar dusta dan khianat. [MO/ge]

Posting Komentar