Oleh: Supiani
(Member Komunitas Remaja Islam Peduli Negeri)

Mediaoposisi.com- Abu Hurairahra; Dari Nabi Saw. beliau bersabda: seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama. (shahih Muslim. No. 5317).

Hanya keledailah yang bersedia terperosok ke dalam lubang yang sama. Begitulah ungkapan bagi orang yang dengan suka rela kembali terjerembab dalam kesalahan yang sama. Meski pada kenyataannya hal itu adalah hal yang salah.

Pacaran dan Patah Hati
Ibaratkan saja begini. Ada sepasang kekasih dalam ikatan pacaran. Sang pasangan mengetahui kalau pacarnya telah berselingkuh. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali. Ketika ketahuan, lantas berjanji takkan mengulangi. Bahkan mengiming-imingi bermacam hal. Lalu janji pun hanya tinggal janji. Iming-iming pun hanya tinggal illusi. Justru perasaan yang kian tersakiti. Duh, lelah hayati.

Jelas drama ini harus dihentikan. Namun patah hati bukan hanya tentang jatuh hati lantas disakiti. Namun juga tentang bagaimana cara seorang muslim memilih jalan untuk menjalin kasih. Jika kita telisik lebih mendalam, drama patah hati tak lantas berakhir ketika seseorang berhasil mencari pengganti. Sebab ketika akhirnya dengan mudah menyerahkan hati pada orang yang belum terjamin keamanahannya, maka hal yang sama dapat terulang kembali, bukan?

Namun saling selingkuh, telikung, dan umbar janji-janji palsu bukannya wajar dalam dunia pacaran? Toh, sejatinya pacaran sendiri bukanlah suatu perbuatan yang sehat. Bahkan banyak yang karena pacaran akhirnya justru menghianati kepercayaan orang tuanya. Pada awalnya, sampai akhirnya, aktifitas pacaran memang ajang untuk menjadi tak amanah. Telikung sana sini demi mendapatkan kesenangan. Ada yang tersakiti, siapa peduli?

Sejatinya, permasalahan mendasarnya ialah aktifitas pacaran itu sendiri. Bayangkan kalau seseorang tidak berpacaran, dan memilih mempersiapkan diri untuk jatuh hati pada yang siap menjaga hati. Pada yang siap menjadikan cinta kepada kekasih sebagai ajang untuk mengabdi pada Illahi. Bukan malah sibuk tebar pesona dan tebar janji kesana kemari tanpa ada komitmen yang pasti. Siapapun orangnya, jika hanya mau berpacaran, TTM-an, kakak-adikkan, atau status tidak jelas lainnya tanpa adanya komitmen pernikahan, kemungkinannya akan sama. Sebaik apapun dia.

2019; Saatnya Ganti Pemimpin?
Potret pacaran seolah mencerminkan kondisi yang ada pada saat ini. Pesta demokrasi yang akan digelar pada 17 April 2019 akan menyandingkan 2 pasangan calon presiden. Dimana salah salah satunya ialah penjabat presiden saat ini.

Seperti diketahui bersama, disaat Bapak Ir. Joko Widodo mencalonkon dirinya menjadi presiden di periode lalu, ia telah membuat 100 janji semasa ia kampanye. Seperti kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon saat meresmikan posko dukungan Prabowo menjadi Presiden RI 2019 di Solo, Selasa (22/5/2018),”saya sendiri mencatat janjinya bukan 66, tapi ada 100 janjinya. Saya catat semuanya di buku.”(detiknews, 22/5/18)

Seolah tak menyadari jika dirinya pernah berjanji, Beliau (Ir. Joko Widodo) kembali mencalonkan dirinya sebagai calon presiden periode selanjutnya. Lantas masihkkah Hayati bersedia melanjutkan hubungannya dengan Jainuddin meski nyatanya Jainuddin khianat ingkar janji?

Memilih pemimpin pun bak memilih pasangan hidup. Bukan hanya perihal orangnya, namun juga tentang sistem kerjanya. Jika sistem kerjanya menjadikan manusia justru mengingkari kebenaran hakiki, atau bahkan justru menjerumuskan kepada kemaksiatan jangka panjang (dosa investasi) maka ini jelas sebuah kemungkaran.

Pemilu bukan hanya sekali. Namun sekian kali pemilu, nyatanya negeri tetap tak jauh dari permasalahan, bahkan makin menjadi. Negeri dengan pendudukan Muslim terbanyak di dunia pun nyatanya tak mampu menghentikan penderitaan saudara sesama Muslim di negara lain. Bahkan Presiden pun tak mampu mengecam Pemerintahan Cina atas pelanggaran HAM atas Muslim Uyghur. Investasi yang digelontorkan Cina seolah membungkamnya. (cnnindonesia, 21/12/18)

Islam; Solusi Hakiki “Patah Hati”
Apa yang tengah dirasakan masyarakat Indonesia saat ini ibaratkan patah hati. Dihianati orang yang selama ini telah dipercayai janji-janjinya. Yang telah menyerahkan segala kepentingan kepadanya. Namun nyatanya kepentingan rakyat ditunggangi oleh kepentingan kapitalis-pemilik modal hingga membuat kesengsaraan rakyat semakin bertambah-tambah.

Perubahan negeri tak lantas diraih dengan pergantian pemimpin. Sebab kenyataannya adalah pergantian pemimpin hanyalah bak mengganti permasalahan. Atau bahkan justru menjadi estafet permasalahan yang ada. Sebab pemilu dengan dana tak sedikit ini agaknya hanyalah menjadi euforia semata. Untuk kemudian permasalahan kembali melingkupi.

Bayangkan jika bukan hanya perubahan pemimpin negeri, namun juga mengganti sistem kerja dengan sistem yang valid. Sehingga menjamin tidak terjadinya sistem error.

Islam adalah agama yang memiliki aturan bagi tiap aspek kehidupan. Ide dasar yang mampu memberikan solusi dan metode absah terhadap segala permasalahan. Dan melanjutkan kehidupan secara Islam adalah solusi dari permasalahan yang menimpa negeri ini.

Islam mengatur sebuah negeri untuk independen, tidak bergantung kepada negeri-negeri lain, apalagi negeri asing, kafir dan penjajah. Ketahanan negeri akan diupayakan melalui pengelolaan sumber daya alam dengan mempekerjakan sumber daya manusia dari negerinya sendiri, bukan negeri asing. Maka kemudian mustahil kesejahteraan rakyat sulit untuk terwujud.

Oleh karena itu, untuk menghentikan drama patah hati ini; pacaran dan sistem non valid negeri, maka mesti mewujudkan sistem valid. Sistem yang berasal dari sang khaliq, bukan sistem buatan manusia. Sebab hanya Allah-lah yang tahu yang terbaik untuk hambaNya. Ialah Khilafah ala minhajjin nubuwwah. Sebab dalam sistem khilafah segala urusan akan ditilik dari sisi syara’, bukan dari seberapa besar kemaslahatannya. Apalagi ditilik dengan mempertimbangkan keuntungan semata.

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” (TQS. Al-Maidah: 50).

2018 telah berlalu. 2019 telah menyambut. Sudah saatnya kita merefleksi segala kejadian tahun yang lalu. Kemudian menyusun resolusi hakiki bagi terwujudnya sistem yang menjamin kedaulatan rakyat. Dan mewujudkan solusi Islam kaffah bagi kebangkitan negeri yang sesungguhnya.

Hanya keledai yang rela terperosok di lubang yang sama. Dan dalam sistem kekhilafahan tak akan keledai terperosok ke dalam lubang, sebab khalifah akan menjamin sarana dan prasarana tersedia dengan layak. Sebab jika tak layak akan menjadi pertanggung jawabannya, bukan hanya di dunia, namun juga ke akhirat.[MO/sr]

Posting Komentar