Oleh: Eka Putri
(Aktivis Mahasiswi)

Mediaoposisi.com-Tahun 2018 telah berlalu, setiap orang menyiapkan resolusi yang akan dilakukan pada tahun 2019. Namun, hal yang tak kalah pentingnya adalah melakukan refleksi mengenai apa saja yang telah terjadi pada tahun 2018 yang lalu. Masih belum kering dalam ingatan bagaimana setiap kesedihan, kedzaliman bahkan kedurhakaan terjadi di negeri tercinta ini hingga mengundang azab Allah.

Sepanjang tahun 2018, isu stratejik nasional  diwarnai berbagai peristiwa baik yang berdimensi sosial, ekonomi maupun politik. Dalam dimensi sosial tantangan yang terjadi dalam negeri adalah banyaknya bencana yang terjadi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mecatat selama tahun 2018 terjadi 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Dampak yang ditimbulkan pun sangat mencengangkan, tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 luka-luka, 3,06 juta mengungsi dan terdampak bencana.(Kompas.Com)

Dalam dimensi ekonomi isu divestasi PT Freeport Indonesia, ramainya komentar negatif atas kesepakatan awal antara PT Inalum, Freeport-McMoRan Inc. dan Rio Tinto yang telah melakukan negosiasi selama empat tahun terakhir telah mencapai kesepakatan terkait peningkatan kepemilikan saham dari 9,36 persen menjadi 51,2 persen. Seperti yang kita ketahui bahwa kepemilikan mayoritas entitas Indonesia di PTFI yang telah mengelola tambang emas dan tembaga di Kabupaten Mimika, Papua, sejak 51 tahun yang lalu, telah menjadi kenyataan.(Terkini.id)

Sedangkan dalam dimensi politik, isu proses pemilihan presiden 2019 menjadi ajang penilaian bagi masing-masing capres. Dalam pertarungan perebutan kekuasaan, masing-masing capres harus menggali isu-isu stratejik yang dapat menjadi unggulan dalam meyakinkan rakyat di tengah begitu banyaj problem yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Dari begitu banyaknya problema yang terjadi di tahun 2018, seharusnya dapat menjadi pembelajaran, hal ini terlebih agar kita tidak begitu mudahnya mengundang azab Allah. Selain itu Allah telah memberikan seperangkat aturan yang sempurna, yakni hukum-hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Quran yang jika diterapkan akan menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin dan berkah bagi semua makhluk.[MO/sr]

Posting Komentar