Oleh: Devi Novianti
Seorang Pemerhati Generasi

Mediaoposisi.com- Imam Ibn Muflih al-Hanbali  menuturkan:
Bagaikan unta di padang pasir yang mati kehausandan air di atas punggungnya tersimpan.

Sungguh untaian bait nasihat ini,  relevan bagi negeri ini. Negeri yang dianugerahi limpahan sumber daya alam, tapi pengelolaannya tidak sesuai petunjuk Islam.

Sehingga tampaklah krisis kehidupan. Hal ini ditandai dengan sulitnya penghidupan dan sulitnya meraih keberkahan akibatkemungkaran dimana-mana. Tak ada yang bisa memungkiri, negeri ini negeri yang penuh limpahan karunia. Karunia ini bisa  berbuah pahala dan surga, atau sebaliknya berbalas malapetaka.

Namun sayang seribu kali sayang, limpahan karunia negeri ini dinodai oleh tangan-tangan kotor manusia yang kufur nikmat, membeli dunia dengan akhirat, menukar janji keberkahan dengan ancaman kemurkaan, menegakkan berbagai hal yang menyelisihi syari’at. Pengaturan hidup dengan sistem sekularismelah penyebabnya, dengan memarjinalkan peranan agama dalam pengaturan kehidupan publik, Islam hanya diposisikan sebagai agama ritual semata.

Sistem yang mengatur negeri ini, justru menuai banyak permasalahan dari mulai masalah politik pemerintahan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, permasalahan hukum dan HAM, hingga kepedulian pada umat Islam di belahan dunia lainnya.

A. Kilas Refleksi & Evaluasi Tahun 2018

1. Bidang Pemerintahan
Tahun 2018 ini layak disebut tahun politik, karena pada tahun ini digelar pilkada serentak untuk beberapa daerah, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga telah menetapkan partai-partai politik peserta pemilu serta pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan bersaing memperebutkan suara rakyat di 2019. Gonjang ganjing dan polarisasi kekuatan politikpun mulai nampak di tahun ini.

Sepanjang 2018 praktik korupsi banyak terjadi, bahkan menjadi-jadi. Baik di level pusat maupun daerah. Politik transaksional dan biaya politik yang tinggi ditengarai menjadi pemicu menjamurnya kasus-kasus korupsi yang dilakukan pejabat publik.

2. Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, hal yang selalu menjadi sorotan banyak pihak, terutama para ekonom, adalah masalah hutang yang jumlahnya kian menggunung. Bank Indonesia (BI) mencatat total utang luar negeri Indonesia hingga akhir September 2018 mencapai US$359,8 miliar atau sekitar Rp 5.371 triliun (kurs JISDOR akhir September 2018 Rp 14.929 per dollar AS (Sumber:https://cnnindonesia.com,19/10/2018).

Meski hutang ini dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur dan investasi jangka panjang namun hasilnya tidak otomatis berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan rakyat kecil. Yang ada malah beban ekonomi yang kian berat. Terlebih lagi hutang yang ditransaksikan dalam bentuk hutang ribawi.

Kemudian ditambah lagi dengan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Sejak awal hingga menjelang akhir Agustus 2018, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bergerak di kisaran Rp 14.400 hingga Rp 14.600. Belakangan posisi nilai tukar rupiah semakin melemah, hingga ada pada level Rp 14.655 pada Jum’at (24/8/2018) berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) (Sumber:https://ekonomi.kompas.com,27/8/2018).

Hal lain yang banyak jadi sorotan pada tahun
2018 adalah berkenaan dengan serbuan tenaga kerja China ke Indonesia. Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Dede Yusuf memperkirakan jumlah TKA yang terdaftar saat ini di kisaran 73 ribu orang. Sekitar 24 ribu di antaranya berasal dari Cina. Ia juga memperkirakan jumlah Tenaga Kerja
Asing (TKA) ilegal di Indonesia jauh lebih banyak dari yang sudah terdaftar (Sumber : https://bisnis.tempo.com, 26/4/2018).

3. Bidang Hukum dan HAM
Hukum tersandera oleh kepentingan politik, mungkin ini ungkapan yang tepat untuk menggambarkan penegakkan hukum oleh pemerintah. Publik melihat aparat begitu cepat memproses laporan kasus Ahmad Dhani, Habib Bahar, Jonru Ginting dan lainnya. Tapi aparat terkesan abai atas laporan kasus Viktor Laiskodat, Sukmawati, Denny Siregar, Guntur Romli, Permadi Arya dan lainnya. Terlebih lagi untuk kasus pembakaran bendera tauhid pun terkesan ada tarik ulur dan putusannya dilakukan lebih untuk sekedar meredam kemarahan umat Islam. Jauh dari rasa keadilan.

Dua orang pembakar bendera tauhid telah disidang dan dikenai tindak pidana ringan (Tipiring). Majelis hakim menjatuhkan hukuman 10 hari penjara dan denda Rp 2 ribu. (Sumber: https://news.detik.com, 05/11/2018).

Dengan putusan tersebut publik merasa kecewa, karena tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Ketua Presidium Alumni 212, Slamet Maarif, mengaku sangat kecewa dengan vonis tersebut. Seharusnya, kata Slamet, mereka dikenakan pasal penodaan agama. Beliau mengatakan itu adalah vonis abal-abal dan tidak adil. “Kami akan terus berjuang untuk kibarkan jutaan bendera tauhid panji Rasulullah di negeri ini,” tegasnya. (Sumber: www.hidayatullah.com,06/11/2018)

Di penghujung 2018, publik kembali terperangah atas kejadian penembakan 31 orang pekerja PT Istaka Karya oleh kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya di Papua. Kelompok ini mendapatkan senjata dari hasil rampasan saat menyerang pos-pos TNI dan POLRI beberapatahun terakhir (Sumber: https://nasional.tempo.co,5/12/208).

Meski kerap melakukan penyanderaan, pembunuhan, bahkan menyerang aparat, namun pemerintah tidak mengkategorikan kelompok ini sebagai teroris bahkan terkesan setengah hati untuk menumpasnya.

4. Bidang Hubungan Internasional
Kabar menyakitkan di akhir tahun 2018 adalah penindasan dan intimidasi terhadap saudara Muslim etnis Uighur di Xinjiang China. Publik mengecam tindakan biadab tersebut. Tetapi sikap Pemerintah Indonesia sebagai nagara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia terkesan setengah hati untuk sekedar menyampaikan kecaman keras. Pemerintah terkesan lambat merespon isu kemanusiaan ini.

Kasus-kasus di atas hanyalah sebagian kecil dari permasalahan pelik yang mendera negeri ini, disamping persoalan pelik lainnya terkait efek dominasi asing yang semakin menguat, semakin leluasa menguasai dan memiliki aset-aset di negeri ini di bidang properti, perbankan, perkebunan, pertambangan dan sektor strategis; termasuk sektor pelayanan publik, seperti kesehatan dan pendidikan.

Peringatan Allah & Rasul-Nya: Kemungkaran & Akibatnya
Berbagai fenomena kemungkaran dalam berbagai bidang tersebut, tidak membuahkan apa pun kecuali mengundang malapetaka, ditandai krisis penghidupan yang mengancam kehidupan umat di negeri ini, mengakibatkan kerusakan yang tampak di daratan dan di lautan, menjauhkan umat dari
keberkahan.

Realitasnya jika kita evaluasi, banyak bencana yang terjadi di tahun 2018 ini dan merenggut ribuan jiwa, dengan keragaman bentuknya; dari mulai gempa bumi, longsor, banjir, hingga gunung meletus dan lain sebagainya. Tercatat dari 1 Januari hingga 10 Desember 2018, 4.211 orang tewas dan dilaporkan hilang. Sedangkan 6.940 orang mengalami luka-luka, dan 9,95 juta jiwa mengungsi akibat terdampak langsung bencana. Kerugian ekonomi dari akibat bencana tersebut pun diperkirakan mencapai puluhan trilyun.

Itu semua sudah seharusnya mendorong orang beriman untuk muhâsabah. Maha Benar Allah Swt yang berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Itu semua bagian kecil dari merebaknya krisis penghidupan, sirnanya keberkahan hidup, terjerumus ke dalam kesesatan dan kebimbangan, apakah manusia pun lupa dengan peringatan Allah Swt dalam firman-Nya yang agung ini?

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ أَعْمٰى
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 124)

Berangkat dari pemahaman mendalam terhadap akar masalah di atas, maka sudah seharusnya kaum Muslim bangkit kembali meraih predikat khayr ummah. Dimana Allah SWT menganugerahi umat ini sebagai umat terbaik, berikut karakteristik yang harus melekat padanya dalam firman-Nya

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ  ۗ  وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ  ۚ  مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُونَ
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 110)

Kemuliaan umat ini bisa diraih kembali hanya dengan berpegang teguh pada Din Islam. Islam adalah sumber kemuliaan umat sekaligus ruhnya, Islam sebenar-benarnya yang digambarkan al Qur’an dan al-Sunnah, bukan Islam dengan label-label versi kaum liberal seperti “Islam liberal”, “Islam moderat”, “Islam Nusantara” dan lain sebagainya yang hakikatnya mereduksi ajaran Islam itu sendiri.

Hal ini sejalan dengan prinsip yang disebutkan dalam atsar Ibn Abbas r.a.:“Islam itu mulia, tiada yang lebih mulia darinya.

Kemuliaan tegaknya Islam dalam kehidupan, akan membuahkan rahmat bagi alam semesta, yang ditandai dengan kemakmuran dan keberkahan, yakni keberkahan yang turun dari langit dan tumbuh dari bumi, dimana manusia diamanahi sebagai khalîfah fi al-ardh, yang berkewajiban memakmurkan bumi dengan menegakkan aturan Ilahi, meneladani sang pembawa risalah, Al-Mushthafa Muhammad Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang tidak diutus kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.

Allah Swt pun menjanjikan turunnya keberkahan dari langit dan bumi, ketika tegaknya Din Islam dalam kehidupan diwujudkan oleh penduduk negeri yang beriman dan bertakwa:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرٰىٓ ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)

Maka tak ada jalan lain bagi kita yang mendambakan keberkahan hidup, dan meniti jalan mereka, kecuali berjuang merealisasikan kembali proyek agung kehidupan Islam, sebagai salah satu bagian dari pesan mendalam Rasulullah صلى الله عليه وسلم, dari Al-’Irbadh bin Sariyah ia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

Hendaklah kalian berdiri di atas sunnahku, dan sunnah para khalifah al-rasyidin al-mahdiyyin (khalifah empat yang mendapatkan petunjuk), gigitlah oleh kalian hal tersebut) dengan geraham yang kuat.” (HR. Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim,Al-Baihaqi).[MO/sr]



Posting Komentar