Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com- PSI menolak perda syariah bahkan  juga menolak perda yang berbau agama. Jadi partai ini bisa dikatakan partai sekular karena memisahkan agama dengan kehidupan. Islam mempunyai aturan yang lengkap tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya dan juga dengan dirinya sendiri  tetapi Islam juga mempunyai aturan lengkap yang mengatur hubungan manusia dengan manusia yang lain dan bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai umat Islam yang cerdas tentunya lebih memilih diatur dengan syariat Islam yang sesuai dengan keyakinannya dari pada diatur dengan hukum warisan penjajah dan negara kafir barat. Negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam tentunya wajar jika menginginkan syariat Islam.

Namun PSI menolak perda syariah karena dia partai sekular. Partai sekular tidak akan laku di tengah masyarakat yang mayoritas Islam.  yang juga sangat wajar jika rakyat yang mayoritas Muslim kemudian tidak simpati dan bahkan antipati dengan partai ini. Sehingga bisa dipastikan partai yang baru seumur jagung tidak akan berumur panjang karena kosombongannya menolak dan menyerang hukum syariah di sebuah negeri yang mayoritas Muslim.

Partai ini juga sering berkoar-koar akan melawan setiap tindakan intoleran. Faktanya, dia sendiri yang tidak toleran. Dengan memaksakan pada anggotanya yang beragama Islam untuk mengucapkan selamat Natal adalah bentuk intoleransi. Dalam Islam, mengucapkan selamat hari raya agama lain adalah haram.

Toleransi bukan berarti mengikuti atau membenarkan perayaan peribadatan agama lain. Islam menghormati dan tidak menghalang-halangan agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan mereka tapi kita tidak boleh mengikuti atau membenarkan mereka dengan mengucapkan selamat. Jika PSI memaksakan seluruh anggotanya untuk mengucapkan selamat Natal adalah bentuk pemaksaan dan bentuk intoleran  antar umat beragama.

PSI sebagai partai baru sudah berani menolak syariat Islam dan menyerang ajaran Islam. Ini adalah bentuk intoleransi mengingat Indonesia adalah mayoritas Islam. Umat yang mayoritas tidak dianggap.

Jika dia menolak hukum syariat Islam, berarti dia lebih memilih hukum sekular yang merupakan hukum warisan penjajah Belanda serta hukum kafir barat yang jelas tidak sesuai dengan keyakinan mayoritas rakyat yang beragama Islam. Sungguh, dia sangat tidak toleran untuk memaksakan hukum kufur yang tidak diinginkan mayoritas penduduk Indonesia.

PSI juga menyerang ajaran Islam. Dia tidak paham dengan poligami tapi berani mempermasalahkan poligami sebagai ajaran Islam dengan alasan poligami adalah bentuk diskriminasi terhadap kaum feminis. Partai sekular ini sungguh tidak toleran dengan mendeskreditkan ajaran Islam. Padahal, partai ini tinggal di negara yang mayoritas penduduknya Islam. Bisa dipastikan Partai ini akan lebih intoleran terhadap Islam jika dia berada pada negara yang mana Muslim adalah minoritas seperti di negara komunis, China.

Jika PSI ingin melawan segala bentuk intoleransi, mengapa dia diam saja atas kekejaman pemerintah China terhadap Muslim Uighur. PSI sangat toleran terhadap kelompoknya sendiri atau pihak yang sepaham dengan keyakinannya sebagai partai sekular  namun dia sangat tidak toleran pada umat beragama khususnya terhadap Islam. 

PSI rupanya perlu belajar dari Islam apa arti dari toleransi. Saat kita memaksakan kehendak kita, itu adalah bentuk intoleran terutama jika itu masalah keyakinan atau aqidah. Sebagai partai sekular yang tidak toleran tentunya tidak layak untuk mendapatkan suara dari umat Islam. Kalau dia terus menyerang ajaran Islam maka sebagai umat Islam, haram hukumnya memilih partai ini apalagi menjadi anggota partai sekular yang tidak toleran.[MO/sr]


Posting Komentar