Oleh: Ika Mawarningtyas, S. Pd.

Mediaoposisi.com-Pengusaha berinisial R, pria hidung belang yang memesan dua artis VA dan AS di Surabaya, dipastikan lolos dari jeratan hukum.

Sebab, tidak ada peraturan perundang-undangan yang dianggap dapat menjerat pemakai atau pengguna jasa prostitusi. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, tidak ada pasal regulasi dalam undang-undang, ketika seseorang memakai jasa prostitusi.

Kasus prostitusi online artis telah membuat duka negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Hal yang sangat mengagetkan sampai-sampai mampu sedikit mengalihkan isu politik yang sedang memanas pula.

Murah sekali kehormatan seorang wanita dihargai 80 juta permalam. Yang paling membuat miris, pengusaha yang menyewa artis tersebut belum bisa dijerat hukum. Bukti bahwa hukum dinegeri ini lemah melawan perzinaan.

Kasus VA bagian dari banyak kasus yang viral, karena pelakunya artis papan atas. Masih banyak kasus prostitusi online artis maupun bukan artis yang tumbuh subur di alam demokrasi ini.

Bagaimana tidak, demokrasi telah berhasil melindungi kebebasan manusia dalam melakukan kemaksiyatan. Ketika ada yang berteriak lantang terapkan syariat Islam, maka demokrasi akan menjadi tameng.

Tameng yang menolak syariat Islam dengan dalil intoleran, kebebasan, dan HAM. Benar, syariat Islam memang tidak bisa mentoleransi kemaksiyatan. Karena segala bentuk kemaksiyatan pasti akan menimbulkan kerusakan.

Atas dasar itulah, demokrasi tidak akan pernah bisa membuat pelaku zina jera ataupun bertaubat. Yang terlihat perzinaan semakin ugal-ugalan, bahkan banyak yang terkena perilaku LGBT. Itulah sebagian dari akibat semakin sakuler dan liberalnya kondisi yang ada yang tumbuh semakin subur di alam demokrasi.

Fasilitias-fasilitaspun tersedia untuk menyuburkan perzinaan dan LGBT. Padahal perilaku zina sampai LGBT inilah yang membuat turun adzab dari mengundang bencana. Seharusnya kita mengambil pelajaran melalui hadist dibawah ini:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Tidak ada pilihan lain, kecuali kita segera mencampakkan demokrasi dan kembali menerapkan syariat Islam secara totalitas. Karena sumber dari berbagai masalah di negeri ini adalah diabaikannya syariat Islam.

Demokrasi tidak hanya sistem yang bathil, tetapi juga telah memproduksi manusia yang doyan & gemar bermaksiyat. Umat Islam wajib menolak sistem ini, dan bersegera kembali menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah.

Karena hanya Khilafah-lah sistem pemerintahan yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW yang lantang menolak kemaksiatan termasuk prostitusi perzinaan yang dapat mengundang azab.[MO/ge]

Posting Komentar