Oleh: Annisa 'Amalia Farouq
(Mahasiswi Manajemen Dakwah UIN SGD Bandung)

Mediaoposisi.com-Belum kering bencana yang berturut-turut menimpa negeri ini, ada satu kasus yang juga mengundang murka Sang Maha Pencipta Alam Semesta.

Pada hari Sabtu, tanggal 05 Januari 2019 dunia selebriti dikejutkan dengan kabar miris yang menimpa beberapa artis.
Artis berinisial VA dan AV terbukti telah terlibat dalam bisnis prostitusi online dengan tarif yang besar, yaitu puluhan juta rupiah dalam satu kali kencan.

Sejatinya, kehidupan artis memang sangat glamour. Barang-barang branded, rumah megah, serta kendaraan mewah menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi.

Tak heran, bila akhirnya para artis mencari pekerjaan sampingan selain jadi artis, yaitu berbisnis.
Sayangnya beberapa artis terlibat dalam bisnis haram namun berpenghasilan besar, salah satunya terlibat dalam bisnis prostitusi online. Na'uudzubillaahi mindzalik.

Parahnya, perilaku amoral ini tidak dijatuhi hukum sama sekali. Yang dijatuhi sanksi hukum hanya mucikari, namun pelaku dan pemakai jasanya hanya dimintai keterangan oleh polisi kemudian berlalu pergi.

Begitu bebasnya hidup dalam sistem Kapitalisme-Demokrasi, sebuah sistem yang menjamin kekebasan individu dalam bertingkah laku.

Kasus memalukan yang melibatkan artis ini tidak terjerat hukum sama sekali karena perbuatannya dianggap berdasarkan atas asas suka sama suka, sehingga tidak ada pihak manapun yang merasa dirugikan.

Padahal tindakan ini jelas banyak merugikan masyarakat, pasalnya pelaku adalah public figure yang perilakunya seringkali diikuti oleh para penggemarnya.

Jauh berbeda dengan sistem Islam. Islam menganggap bahwa perzinaan yang dihaluskan namanya menjadi prostitusi merupakan dosa besar yang mengundang murka Sang Pencipta Alam, sebagaimana sabda Rasuulullaah SAW,
"Jika Zina dan Riba sudah menyebar di suatu negeri, maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah pada diri mereka sendiri" (H.R. Al-Hakim, Al-Baihaqi, dan At-Thabrani).

Satu-satunya jalan untuk menyelesaikan problematika ini adalah dengan diterapkannya syari'at Islam secara keseluruhan dalam sebuah institusi syar'i, yaitu Al-Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.

Karena jika syari'at Islam diterapkan, para pelaku zina akan dijatuhkan sanksi yang sangat tegas, yaitu dengan rajam bagi yang sudah pernah menikah, dan cambuk 100 kali bagi yang belum pernah menikah.

Tentu sanksi ini akan membuat jera para pelakunya serta masyarakat yang menyaksikannya, sehingga perbuatan zina tidak marak lagi seperti saat ini.[MO/AD]

Posting Komentar