Oleh: Indi Lestari

Mediaoposisi.com-Persoalan lama bukanlah hal baru melainkan persoalan yang diulang-ulang bahkan tidak pernah ada penyelesaian, ya seperti akhir-akhir ini publik kembali dikejutkan dengan berita prostitusi online yang menjangkit publik figur kembali muncul dipermukaan dan jelas berita itu bukan persoalan baru di negeri tercinta kita,  melainkan persoalan lama yang tidak pernah ada kata selesai. Kaum perempuan kembali menjadi adidaya perekonomian.

Sangat mengerikan berbagai perspektif bermunculan seolah prostitusi dianggap biasa bahkan wajar dan dijadikan sebagai propesi baru yang dianggap menggiurkan apalagi dengan price tag yang tidak kalah menggemparkan.

Bukankah ini menjadi bukti bahwa bobroknya pemikiran manusia di jaman sekarang, pemikiran kapitalis yang nampak pada diri-diri individu sudah sangat menguasai akal pemikiran manusia. Dalam sistem kapitalisme yang tidak mengenal halal-haram menjadikan seks sebagai komoditi yang diperdagangkan dan di ekploitasi.

Perzinahan yang jelas-jelas dilaknat Allah seperti mercusuar yang berhembus hanya meninggalkan asap, karena rezim saat ini terlihat melindungi tidak ada tindakan jelas dan nyata para pelaku maupun sang pembisnis prostitusi online bisa muncul ke publik dengan santai bak bocah yang tidak tau apa-apa.

Sangat berbanding terbalik persoalan yang dihalalkan syariat Islam, seperti menikah muda  justru dianggap tabu, bahkan dibumbui dengan berita yang seolah mencemooh menampakkan pada publik bahwa menikah muda dianggap penghalang/penghambat generasi  muda untuk berprestasi, sudah sangat nampak bahwasannya rezim saat ini begitu refresif anti islam.

Berbeda dengan sistem sanksi dalam Islam yang menetapkan hukuman berat bagi pezina. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (TQS. An-Nur : 2)

Para ulama berkata, “Hukuman jilid/dera dan diasingkan adalah hukuman bagi pezina perempuan dan laki-laki yang masih bujang, belum menikah di dunia. Jika sudah menikah walaupun baru sekali seumur hidup, maka hukuman bagi keduanya adalah dirajam dengan bebatuan sampai mati.
Dan bagi pelaku bisnis prostitusi yang tidak berbuat zina (misal muncikarinya), Islam menyerahkan kewenangan pada Khalifah (pemimpin Khilafah) untuk menjatuhkan sanksi yang berefek jera.
Ibnu Taimiyah berkata,
Penegakan hudud adalah kewajiban pemimpin, yaitu dengan menetapkan hukuman bagi siapa saja yang meninggalkan kewajiban atau melakukan perbuatan haram.” (Ibnu Taimiyah, Al-Hisbah, hal. 55)

Sungguh, hanya dengan penerapan Syariat Islam secara Kaffah dalam Institusi Khilafah, segala perkara dapat diselesaikan dengan tuntas dan adil, halal-haram menjadi jelas, baik-buruk tidak lagi relatif berdasarkan kepentingan manusia. Sebab dalam naungan Sistem Islam, semua perkara hanya disandarkan pada aturan pencipta semata Allah swt.[MO/sr]




Posting Komentar