Oleh : Mbak Pur
 (Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat)

Mediaoposisi.com-  Polisi Duga Banyak Artis dan Selebgram Terlibat Prostitusi. Kedua tersangka biasa mempromosikan artis dan selebgram melalui akun instagramnya Red: Esthi Maharani Rep: Dadang Kurnia 11 4 Republika/Dadang Kurnia

Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Ahmad Yusep Gunawan (kemeja putih) - Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jawa Timur menetapkan dua orang tersangka dalam kasus prostitusi online yang melibatkan artis. Kedua orang yang ditetapkan tersangka adalah mucikari yang berasal dari Jakarta Selatan, berinisial TN (28) dan ES (37). (REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -
Ahad, 06 Jan 2019 18:26 WIB).

Begitu viralnya kasus prostitusi online artis dengan bayaran yang fantastis, hingga seorang gadis
remaja menilai dari kacamata materialistis. Sungguh miris jika generasi muda malah memandang seolah kagum akan nilai yang tinggi dari sebuah perbuatan hina dan tak mengenal kata haram.

Kebebasan yang selalu saja jadi dalih agar bisa tetap melenggang demi kepentingan dengan nama
uang hingga menghalalkan maksiat seperti prostitusi online. Bahkan, seolah pembiaran hingga tumbuh subur karena selama masih ada penikmat yang mampu merogoh koceknya takkan perduli sekalipun mengakibatkan rusaknya moral secara massiv.

Dapatkah umat berharap banyak pada sistem demokrasi sekarang ? Adakah undang-undang yang
menjerat semua pelaku yang terlibat hingga jera dan bahkan mencegah maksiat berlanjut. Dalam Islam jelas hukuman bagi pelaku zina, sanksi itu adalah rajam (dilempar batu) bagi yang telah
menikah (al-Muhshân) dan dicambuk seratus kali bagi yang belum menikah (al-Bikr) dan ditambah
pengasingan setahun.

Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan
suatu jalan yang buruk”. [al-Isrâ/17:32].

Sudah jelas sanksi dari perbuatan haram itu tidak main-main dan akan mencegah maksiat itu
terulang. Masihkah kita berpikir dalam menerapkan syari’at islam? Bukankah dengan meninggalkannya menimbulkan akibat buruk di dunia dan akhirat.

Kaum muslimin jauh dari ajaran agama menyebabkan mereka kehilangan kejayaan dan kemuliaan.
Karena yang diterapkan untuk mengatur kehidupannya hukum buatan manusia. Diantara ajaran islam yang ditinggalkan dan dilupakan oleh kaum muslimin adalah hukuman bagi pezina (Hadduz-Zinâ). Sebuah ketetapan yang sangat efektif menghilangkan atau mengurangi masalah perzinahan.

Ketika hukuman ini tidak dilaksanakan, maka tentu akan menimbulkan dampak atau implikasi buruk bagi pribadi dan masyarakat. Mestinya sudah cukup menjadi pelajaran bagi kita untuk memahami dampak buruk ini.

Melihat realita ini, maka sangat perlu ada yang mengingatkan kaum muslimin terhadap hukuman ini.
Dimana dengan menerapkan hukuman bagi pezina yang sesuai syariat Islam maka akan terpikir lagi
betapa ngeri sanksinya bagi yang ingin melanggar.

Selain itu negara juga berkewajiban memelihara situasi dan kondisi masyarakat untuk selalu taat
pada syariat. Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kesadaran dan menguatkan keyakinan kita akan kemuliaan dan keindahan syari’at Islam. []MO/ra

Posting Komentar