Oleh: Rizka Agnia Ibrahim

Mediaoposisi.com- Kabar yang masih begitu hangat, terkait prostitusi online, melibatkan artis VA yang dibayar 80 juta, juga harga 25 juta menjadi banderol foto model berinisial AS, satu asisten, dan dua mucikari. Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus menetapkan dua tersangka mucikari yang berasal dari Jakarta Selatan, berinisial TN (28) dan ES (37). Direktur Kriminal Khusus Polda Jatim Kombes Pol. Ahmad Yusep Gunawan mengatakan, “Masih dalam pendalaman (terkait jumlah artis yang terlibat prostitusi online). Untuk (artis) yang terkait di dalam cukup banyak. Nanti kita sampaikan lebih lanjut,” kata Yusep ditemui di Mapolda Jatim, Surabaya, Ahad (6/1).

Yusep pun mengungkapkan, bagi pria hidung belang yang ingin menyewa jasa oknum artis dan selebgram tersebut harus terlebih dulu membayar uang sebesar 30 persen dari tarif yang ditetapkan melalui rekening mucikari. “Aturan main 30 persen dibayar di muka melalui rekening,” ujar Yusep. Ia pun mengatakan tengah melakukan pendalaman dan meminta bantuan PPATK terkait transaksi keuangan kedua mucikari.

Mungkin di benak kita muncul sebuah tanya, mengapa zina susah sekali diberantas hingga tuntas? Gaungnya senantiasa menjadi berita fenomenal di berbagai media. Bahkan menjadi ajang ghibah berjamaah. Bukan lagi rahasia jika sistem negara tak pernah mampu mencerabut dari akarnya.

Malah tetap tumbuh dan menggila. Sistem kapitalisme mengandung arti pemisahan agama dari kehidupan, tentu melahirkan individu-individu yang mengusung liberalisme atau kebebasan. Bahkan zina tidak dihukumi sebagai perbuatan kriminal. Sehingga bisa dipastikan, riwayatnya akan tetap ada bahkan semakin menggurita. Sungguh ironis dan bebal.

Menghapus prostitusi di ranah liberalisasi tentu harus siap gigit jari, karena negara temporal dalam menjalankan kebijakan, semata-mata agar kebebasan senantiasa punya performa prima untuk tetap menjadi sistem yang menguasai dunia. Prostitusi menjanjikan kemudahan sekejap mata, tak peduli moral tergadaikan demi gaya hidup yang tidak boleh meredup.

Lantas adakah solusi? Tentu ada, namun seberapa serius kita mau mengkaji dan berjuang mengganti sistem yang nyata tak mampu mengentaskan problematika? Satu jalan keluar agar semua kegelapan sistem kelar, kembali kepada aturan Islam secara kaffah. Islam mampu membentuk  individu agar selalu merasa terikat kepada aturan Allah, otomatis akan mencipta iklim di masyarakat yang bergerak memberantas kemungkaran, keberadaan negara berfungsi sebagai pelaksana hukum syara dan mengemban dakwah ke seluruh dunia.

Hukum yang ditegakkan pun tentu akan melahirkan efek jera yang kentara,  tentu menjadi jawabir (penebus siksa akhirat) bagi pelaku, dan jawazir (pencegah terjadinya tindak kriminal) bagi siapa pun yang menyaksikan.

Tentang hukum prostitusi sudah jelas di dalam Islam, terkait konsekuensi yang harus diterima pezina. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalanjkan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman." (an-Nur: 2)

Hanya Islam Kaffah yang mampu memanusiakan manusia, mengatur seluruh sendi kehidupan agar berjalan sesuai ketentuan Sang Khalik. Kemaksiatan terjadi, bukan karena betapa kokohnya kejahatan, akan tetapi karena aturan Sang Pemilik Kehidupan tidak lagi membumi. Ketiadaan yang menyengsarakan.[MO/sr]



Posting Komentar