Oleh: Siti Subaidah
( Pemerhati Lingkungan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Ajang pemilihan  umum atau yang biasa kita kenal dengan “Pemilu”, kini tinggal menghitung bulan.

Berbagai persiapan pun telah dilakukan oleh pihak-pihak terkait, baik itu kotak suara, surat suara dan tentu saja dana besar bagi caleg dan capres untuk mempromosikan diri dan visinya. Tak dipungkiri pemilu akan selalu menjadi pusat perhatian, perayaan 5 tahun sekali ini pun tak pelak memunculkan ruang diskusi antara kubu satu dengan kubu lain, dan bahkan sampai dilevel yang paling bawah yakni masyarakat.

Di Indonesia sendiri pemilu dalam alam demokrasi menjanjikan harapan-harapan untuk kesejahteraan yang lebih baik.

Harapan inilah yang selalu di pegang oleh masyarakat yang rindu akan perubahan baik itu. Walaupun kemudian dalam kenyataannya harapan hanya tinggal harapan, kesejahteraan dan perubahan kearah lebih baik tak kunjung dirasakan. Mimpi disiang bolong, begitulah demokrasi hanya tinggal janji-janji.

Satu hal yang menarik dalam pemilu adalah perebutan suara dari berbagai eleman masyarakat.

Kini yang disasar adalah kaum milenial karena secara kuantitas jumlah mereka besar dan memgun-tungkan jika dapat berpihak ke salah satu kubu. Maka hal apapun dilakukan untuk menggaet hati mereka demi kepentingan politik. Kaum mililenial diajak untuk paham dan melek politik dengan definisi politik ala demokrasi yakni uang dan kekuasaan.

Padahal sejatinya, sebagai seorang muslim maka wajib menyandarkan segala persepsi dan pemaham-an dengan dasar islam, begitu juga dalam memaknai arti kata “politik”.

Politik dalam islam dikenal dengan istilah siyasah. Menurut terminologi siyasah memiliki arti mengatur, memperbaiki dan mendidik. Sedangkan secara etimologi, siyasah memiliki makna yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan. Secara menyeluruh politik dalam islam adalah riayah suunil ummah (mengurusi urusan umat).

Islam dan politik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena islam adalah sebuah idiologi yang tak hanya mengatur ibadah ritual saja akan tetapi juga urusan masyarakat dan negara.

Islam juga mengajarkan bentuk kepedulian sesama muslim yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan bersama, mengetahui dan paham kebijakan yang diberlakukan atas umat dan mencegah segala bentuk kedzholiman yang diterapkan oleh penguasa. Maka umat islam harus berpolitik terlebih memikirkan urusan umat adalah sebuah kewajiban.

Sebagaimana Rasullulah SAW bersabda:
“Barangsiapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barangsiapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).“

Selain itu islam berpolitik pun telah di buktikan dalam sejarah peradaban islam yakni saat pengangkatan kepala negara atau khalifah, misalnya.

Para sahabat dimasa itu menetapkan bahwa siapa pun yang menjadi khalifah atau pemimpin harus menjalankan pemerintahan sesuai dengan Al-Qur’an dan As sunnah. Para sahabat tahu betul bahwa politik tak dapat dipisahkan dari islam hingga dalam perkara memilih pemimpin pun harus berlandaskan hukum syara untuk mendapatkan pemimpin yang dapat menanggung amanah dari umat dan menjalankan pemerintahan sesuai hukum Allah.

Politik islam inilah yang harus diketahui oleh masyarakat terutama kaum milenial saat ini agar kaum milenial dapat mengambil perannya yakni menjadi pengemban visi dakwah islam ditengah-tengah masyarakat dan bukan malah dimanfaatkan sebagai objek politik dalam pentas pemilu demokrasi demi meraih kekuasaan.[MO/ge]

Posting Komentar