Oleh: Iim Ikfihayati
(Forum Muslimah Peduli Generasi (Formasi) Kediri)

Mediaoposisi.com- Saat ini, masyarakat sudah sangat berharap ada perubahan. Normalnya, adanya penguasa atau pemerintah adalah berfungsi sebagaimana penggembala yang akan bertanggung jawab mengurusi dan memastikan  segala kebutuhan gembalaannya terpenuhi. 

Penguasa juga  menjadi perisai/tameng untuk seluruh rakyat tanpa terkecuali. Kenyataan berkata lain. Terlihat dari tidak terpenuhinya berbagai hajat hidup mendasar, baik yang bersifat individu seperti pangan,sandang, dan papan. Juga hajat hidup mendasar yang bersifat komunal seperti pendidikan, kesehatan, energi, dan transportasi.

Adalah yang yang dirasakan rakyat, menurut staf lembaga FAO untuk Indonesia, sekitar 20 juta penduduk Indonesia masuk kategori rawan pangan dan satu diantara tiga anak Indonesia mengidap kekurangan gizi akut (stunting).

Adanya kelaparan serius. Masih teringat kuat tragedi yang terjadi di Papua pada Januari setahun silam, wabah kelaparan dan campak menelan korban hampir 100 orang, juga kisah dari desa Sarabau Cirebon yang harus rela berbagi 1,5 kg beras dalam sehari untuk 18 orang.

Sementara, di kabupaten Kediri Jawa Timur, angka kemiskinan terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasar data LKPJ 2017,  angka penduduk fakir miskin 2015 sebesar 52.955. Jumlah itu melonjak pada 2016 sebesar 483.349 dan bertambah lagi pada 2017 sebesar 575.293. (Kedirionline.com, 31 Mei 2018)

Tentang kebutuhan papan, semakin tidak terjangkau masyarakat. Harga rumah yang semakin mahal faktanya semakin menyulitkn masyarakat untuk bisa tinggal di rumah yang layak huni. Sebuah survey menunjukkan hanya 5% saja generasi milenial yang bisa memiliki rumah di Jakarta. Jutaan keluarga tinggal di rumah yang tidak layak huni. Program sejuta rumah tidak pernah mencapai target. Padahal, potensi sumber daya alam dan teknologi untuk perumahan begitu melimpah.

Terhadap kebutuhan mendasar yang bersifat komunal pun masyarakat sulit menjangkaunya. Harga pelayanan kesehatan terus melangit. Sementara itu akses public terhadap pelayanan kesehatan (jasa dokter, peralatan medis dan obat) dengan BPJS kesehatan tetap saja sulit. Belum lagi fsilitas kesehatan, dokter, serta insan kesehatan dalam tekanan keuangan dan terpasung logika bisnis BPJS Kesehatan.

Belum lagi biaya pendidikan yang semakin meangkak naik sebagaimana harga BBM juga demikian. Sempurnalah segala kesulitan yang dialami masyarakat di dunia kapitalis neo liberalis ini.
Berbagai persoalan masyarakat yang tak kunjung mendapatkan solusi tuntas, masihkah ingin bertahan tanpa perubahan yang signifikan? Masihkah pula berpikir memilih perubahan yang sekedarnya daripada tidak? Ganti orang dalam sistem kapitalis neo liberal ini adalah mimpi mengharapkan suatu perubahan yang betul-betul membawa penyelesaian terhadap semua persoalan masyarakat.

Semua fakta penderitaan dan kerusakan yang dialami masyarakat lebih dari cukup sebagai bukti bahwa penguasa yang hadir di tengah-tengah masyarakat saat ini adalah penguasa yang hadir hanya untuk menerapkan sistem sekuler kapitalis neo liberalis. Tanpa visi orisinil, jauh dari ketulusan, kasih sayang dan empati terhadap penderitaan masyarakat adalah karakter yang menonjol. Sedikitpun tidak menunjukkan fungsi sebagai raain (pemelihara urusan publik) dan junnah (perisai).

Masyarakat janganlah lupa dan menutup mata, khususnya ummat Islam.  Bahwa sesungguhnya ideologi Islam sudah penah pernah terbukti menghantarkan masyarakat menuju peradaban yang tinggi, bangkit dan maju serta memimpin dunia. Dalam sejarah,  kejayaan kepemimpinan Islam mampu memimpin dan menguasai 2/3 dunia termasuk negeri tercinta Indnesia ini.

Hamper tidak pernah ada keberatan atas kepemimpinan ideologi Islam ini karena yang terwujud adalah produktifitas, kesejahteraan dan kenikmatan yang meliputi seluruh masyarakat baik muslim maupun non muslim yang menjadi warga negara. Semua ini bisa dirasakan karena negara mengadopsi Syari’ah Islam dan meerapkannya dalam institusi Khilafah Islamiyah.

Dibawah naungan Khilafah Ilamiyah terjadi kesatuan pemikiran, perasaan dan aturan. Keamanan pun terjaga, keadilan hukum terwujud, kesejahteraan merata sebab aturan yang dianut menghendaki penguasa untuk menetapkan kebijakan yang tidak diskriminatif dan dzalim.

Ketaqwaan individu pemimpin dan rakyat,  keaktifan saling menasehati dalam kebaikan sesama masyarakatserta adanya penerapan aturan Syara’ oleh seluruh pihak utamanya negara, akan menjaga kondisi dalam suasana keadilan dan ketentraman. Jika pun ada warga masyarakat yang melakukan kesalahan, maka akan terselesaikan dengan kepekaan sosial dan penerapan sanksi.

Dan jika pemimpin yang melakukan kelalaian dan kedzaliman, maka meknisme hukum dan politik Islam akan dijalankan. Demikian pula, wakil rakyat dan partai politik Islam wajib melakukan pemantauan, koreksi dan pengaduan terhadap penguasa yang korup dan dzolim. Adanya mahkamah peradilan penguasa (mahkamah madzalim) lah yang akan menjadi solusi atas adanya penguasa yang dzalim tersebut.

Walhasil, semangat perubahan ummat di negeri ini, dan di negeri manapun sudah seharusnya mengarah pada perubahan yang benar. Semangat berubah semata untuk meraih ridho Ilahi, bukan sekedar perubahan tanpa arah. Sebab, syari’at  Allah SWT yang diterapkan di muka bumi, akan mewujudkan dua surga, surga di dunia dan surga abadi di akhirat. Sebagaimana harapan dari do’a kita : 
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ 
Yang artinya : "Ya Allah,berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka." (Al-Quran QS. Al‐Baqarah ayat 201)

 اَللهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى الدّيْنِ وَالدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ 

Artinya: Ya Allah, kami mohon ampunan kepadaMu dan limpahkanlah kesejahteraan agama dunia dan akhirat.[MO/sr]






Posting Komentar