Oleh : Sulastri
( Pemerhati Muslimah dan Umat )

Mediaoposisi.com-Telah banyak peristiwa yang terjadi dan menimpa negeri ini, sepanjang tahun 2018. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya rezim berkuasa, kembali gagal mensejahterakan publik.

Terlihat dari tidak terpenuhinya berbagai hajat hidup umat, baik pangan, sandang, kesehatan, keamanan, pendidikan dan lain sebagainya. Berbagai program Neoliberal hanyalah menghasilkan kebaikan semu dan pada akhirnya kezaliman dan kesengsaraan melingkupi kehidupan publik.

Fakta berbicara menurut staff lembaga pangan dunia FAO (Food And Algriculture Organization) untuk Indonesia, sekitar 20 juta penduduk Indonesia masih kategori rawan pangan dan satu di antara tiga anak Indonesia mengidap kekurangan gizi akut.

Demikian pula dengan puluhan juta jiwa masyarakat Indonesia hidup dengan krisis air bersih, mahalnya harga hunian. sehingga ada puluhan juta jiwa yang hidup di hunian tak layak. Belum lagi pelayanan  kesehatan yang dilingkupi diskriminasi dan masih banyak lagi kegagalan di rezim ini.

Belum lagi maraknya kemaksiatan yang merajalela. Seperti perzinahan, LGBT yang mengakibatkan berbagai penyakit yang sulit diobati seperti HIV/AIDS. Begitupun dengan riba yang sudah menjadi hal biasa di tengah masyarakat.

Semua musibah itu disempurnakan dengan banyaknya bencana alam yang datang bertubi-tubi. Mulai  dari gempa Lombok, tsunami yang menerjang Palu, tsunami Banten, tanah longsor di Sukabumi dan masih banyak lagi bencana alam yang mengakibatkan ribuan nyawa melayang dan kerugian harta benda.

Pada hakekatnya musibah alam yang terjadi adalah karena faktor alam yang merupakan bagian dari sunnatullah dan ketentuan (qodho) dari Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak bisa ditolak sebagaimana firman-Nya dalam Quran Surah al-baqarah Ayat 155 yang artinya “ sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut dan kelaparan juga berkurangnya harta jiwa dan buah-buahan..”

Namun musibah juga bisa diakibatkan dari berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggaran mereka terhadap Syariah Allah. Terutama  yang dilakukan oleh para penguasa dalam wujud berbagai tindakan dzalim yang mereka lakukan.

Dalam hal ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Quran Surah Ar Rum ayat 41 yang artinya” Telah Nampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan kemaksiatan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagai akibat perbuatan mereka itu agar mereka kembali ke jalannya”.

Tak bisa dipungkiri bahwas Indonesia masih berada dalam cengkraman asing. Sekalipun rezim saat ini membantah tudingan banyak pihak sebagai antek asing, namun fakta-fakta  yang terjadi sepanjang tahun 2018 makin memperkuat tudingan tersebut.

Banyak Negara, teruama adikuasa, Amerika Serikat, tetap mencengkram Indonesia demi mencapai kepentingan mereka. Baik kepentingan dalam merampas kekayaan Indonesia maupun mengendalikan kodisi politik, serta menyebarluaskan nilai-nilai kufur seperti sekulerisme dan liberalisme.

Banyaknya berbagai kemaksiatan, keburukan, dan bencana yang terjadi, tentunya kita berharap bisa segera teratasi dan tidak terulang kembali di tahun ini. Tahun 2019 dikenal sebagai tahun politik di mana sebagian masyarakat menggantungkan harapannya di tahun ini karena Pilpres dan Pilleg dinilai bisa mengubah keadaan yang lebih baik.

Namun dari sejarah panjang negeri ini nampak jelas bahwa jika perubahan yang terjadi hanya pada wajah pemimpin dan tidak disertai dengan perubahan tatanan hukum dan aturan, maka akan tetap sama saja.

Karena itu perubahan mesti dimuali dengan mengubah Ideologi dan tatanan aturan yang dihasilkannya. Perubahan harus dilakukan pada sistem, kemudian aturan ini akan menetapkan siapa sosok pemimpin yang harus dipilih rakyat.

Jadi ketika kita mengharap perubahan dengan hanya mengganti rezim, tanpa mengganti sistem itu sama dengan mengulang kesalahan kembali. Tidak  cukup kah bagi kita fakta kegagalan rezim, bencana yang menimpa dan berbagai musibah sebagaimana pelajaran, betapa bahayanya keberadaan sistem kehidupan yang bersumber dari selain Allah.

Bila kita memasuki mesin waktu menuju masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. sebagai kepala Negara atau ketika Islam sebagai aturannya,  terlihat pengurusan berbagai persoalan kehidupan masyarakat begitu mensejahterakan. Kuncinya, visi kehadiran Negara sebagai pelaksana Syariat Islam.

Relasi yang mendasari hubungan penguasa dengan rakyat adalah Aqidah Islam, yang terpancar darinya aturan kehidupan yang begitu sempurna dan selaras dengan Fitrah Insania.

Hasilnya tidak saja mensejahterahkan secara fisik/materi bahkan juga menfasilitasi individu masyarakat pada kemuliaan dan kebahagian  yang hakiki, yakni pada Syariat Allah SWT. Ini berlangsung pada  keseluruhan kehidupan masyarakat.

Umat Islam tidak boleh lupa dan menutup mata, bahwa sesungguhnya Ideologi Islam telah menghantarkan umatnya hidup dengan pearadaban yang tinggi, bangkit dan maju memimpin dunia. Lihatlah sejarah kejayaan kepemimpinan Islam tampil memimpin dunia dengan menguasai hampir 2/3 dunia. Produktivitas gemilang, kesejahteraan.

Dan komentar positif dari non muslim tetapi menjadi warga Negara Khilafah Islam. Ini  semua terjadi karena negara mengadopsi Syariah Islam dan menerapkannya di bawah naungan kesatuan pemikiran, perasaan dan aturan. Keamanan pun terjaga, keadilan hukum terwujud,  kesejahteraan merata,  sebab aturan yang dianutnya menghendaki penguasa untuk menetapkan kebijakan yang tidak dzalim.

Olehnya itu,  marilah kita rapatkan barisan, kokohkan keyakinan, memperjuangkan islam tanpa ada sedikit pun keraguan agar kemuliaan hidup didunia dan akhirat senantiasa kita dapatkan.[MO/ge]

Posting Komentar