Oleh Eriga Agustiningsasi, S.KM

Mediaoposisi.com-Perempuan era digital kini memiliki peran penuh di kehidupan luar rumah. Mereka semakin aktif mengambil bagian dalam mendukung perekonomian nasional.

kitabisa.combelamuslimuighur

Bahkan, kaum hawa kini memiliki kesempatan yang sama di bidang pekerjaan, layaknya laki laki. Hal tersebut dibuktikan dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2017, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pekerja perempuan meningkat sebesar 2,33 persen menjadi 55,04 persen dari sebelumnya yaitu, 52,71 persen pada Februari 2016 (Jawapos.com).

Riset dari Grant Thornton tahun 2017, menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai peningkatan terbaik dalam hal jumlah perempuan yang menduduki posisi senior di perusahaan dengan peningkatan dari 24 persen di tahun 2016 menjadi 28 persen di tahun 2017. Apakah ini sebuah prestasi yang patut dibanggakan?

Kapitalisme memandang perempuan sebagai mesin penopang ekonomi. Sehingga perempuan dipaksa bertugas ganda.

Di rumah mengurus rumah tangga, mendidik anak, di luar rumah menanggung ekonomi keluarga, bahkan negara.

Peran perempuan pun disamakan dengan laki-laki. Jika laki bisa berdaya secara ekonomi dengan bekerja, mengapa perempuan tidak? Jika laki laki bisa menjadi penguasa di negeri ini, mengapa perempuan tidak? Jika perempuan telah mandiri secara ekonomi, mengapa masih bergantung dengan laki-laki? Jika pemahaman ini terjadi, maka ide kesetaraaan gender yang diusung Barat kepada kaum muslimah berhasil diterapkan.

Mengapa? Sejatinya Islam tidak mengenal ide kesetaraan gender. Islam memandang bahwa laki laki dan perempuan mempunyai peran yang berbeda tetapi bukan berarti ini adalah suatu ketidakadilan, justru mereka mempunyai kesempatan yang sama dalam hal ketakwaan.

Allah berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 35 yang artinya :

 “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”

Namun karena kondisi mereka berbeda, maka Allah memberikan beberapa ketentuan yang berbeda antara keduanya. Islam menjamin kesejahteraan perempuan. Perempuan tidak dibebani untuk menyejahterakan dirinya, karena tugas perempuan adalah

rumah tangga dan sebagai ibu mendidik anaknya agar menjadi calon pengisi peradaban Islam nan gemilang di masa depan. Perempuan adalah tonggak peradaban, bukan mesin ekonomi sembarangan. Mereka akan ditanggung kesejahteraannya oleh beberapa pihak.

Pertama adalah walinya. Jika dia gadis, maka yang menanggung adalah ayahnya. Jika dia sudah menikah, yang menanggung nafkahnya adalah suaminya.

Jika dia menjadi janda, maka nafkahnya kembali ditanggung ayahnya. Jika tak ada ayah, tak ada suami, maka jalur wali yang menanggung nafkahnya. Yaitu ayahnya ayah, saudara laki-laki, anak laki-laki. Agar para laki-laki mampu bekerja maka khilafah menerapkan sistem ekonomi Islam yang menghasilkan ketersediaan lapangan kerja dan usaha.

Kedua, jika semua wali tidak mampu (fakir dan miskin) maka perempuan ditanggung kesejahteraannya oleh negara dengan ketentuan sebagai berikut:

Pertama, untuk kebutuhan dasar kolektif seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan maka negara menyediakan untuk semua warga negara secara gratis dan berkualitas termasuk kaum perempuan. Ketentuan ini didasarkan pada sabda Rasulullah,

“Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya” (HR al-Bukhari).

Kedua,  untuk kebutuhan dasar individual yaitu sandang, pangan dan papan maka negara mendata perempuan yang miskin dan memberi santunan berupa kebutuhan pokok tersebut.

Lalu, bagaimana dengan kiprah perempuan di ranah publik? Apakah dibiarkan bebas semaunya? Islam dengan aturan yang sempurna, mengaturnya dengan ketentuan sebagai berikut:

Pertama, baik laki laki maupun perempuan mempunyai hak untuk diurusi negara dan mempunyai kewajibanyang sama, yakni membaiat Khalifah. Allah berfirman,

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, sesungguhnya dia melanggar janjinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar” (QS. Al Fath: 10).

Kedua, perempuan memiliki hak memilih dan dipilih menjadi anggota Majelis Umat. Ketiga, mereka memiliki kewajiban menasehati dan mengoreksi Penguasa.

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)” (HR. Muslim)

Keempat, perempuan memiliki kewajiban menjadi anggota partai politik. Allah berfirman,
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al Imran: 104).

Dan Kelima, Islam melarang perempuan untuk tidak menduduki jabatan penguasa.
Begitulah cara Islam mengatur kehidupan manusia termasuk perempuan sebagai tonggak peradaban. Pencetak generasi yang berkuakitas pembangun peradaban mulia, Islam. Bukan menjadi mesin penopang ekonomi kapitalisme berkedok kesejahteraan perempuan.

Posting Komentar