Oleh: Ratni Ummu Jilan
(Pemerhati Sosial) 

Mediaoposisi.com- Publik dihebohkan kembali dengan kasus prostitusi online yang terjadi di kalangan artis. Setelah diamankannya VA di sebuah hotel di Surabaya ini seolah membuka tabir prostitusi online yang marak di kalangan selebriti. Sebelum VA diciduk, ada beberapa artis yang juga sempat terseret kasus prostitusi online.VA sendiri diciduk oleh pihak kepolisian pada Sabtu (05/01/2018) sekitar pukul 12.30 WIB (m.tribunnews.com). 

Kasus prostitusi online yang melibatkan para artis sudah lama terungkap. Hampir sepanjang tahun 2015 lalu, kasus pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan itu menjadi sorotan. Dimulai tertangkapnya model AA bersama muncikari RA di sebuah hotel di ibu kota pada bulan Mei, lalu, AS diciduk di Surabaya pada pertengahan tahun 2015 dan terakhir tepergoknya artis NM dan finalis kontes kecantikan PR di tempat menginap mewah di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada awal Desember 2015. (m.tribunnews.com)

Jerat Budaya Hedonisme
Sosiolog Imam Prasodjo menilai, praktik prostitusi yang dilakoni oleh selebriti tercipta sebagai dampak era kapitalisme global.
"Segalanya bisa jadi komoditi, bisa diperjualbelikan, termasuk imaji," ujar Imam kepada BBC News Indonesia, Minggu (06/01)

Menurut Imam, sosok selebriti yang tidak hanya berpenampilan menarik, tetapi juga punya ketenaran, berpendidikan, dan memiliki karier, memiliki nilai jual yang lebih di mata konsumen bisnis prostitusi. Mereka dianggap terbuai imaji dari sosok tersebut. (bbc.com)

Semakin maraknya prostitusi online baik yg dilakukan perempuan dari kalangan biasa maupun kalangan artis disebabkan beberapa faktor. Di antaranya adalah budaya hedonisme yang tumbuh subur di tengah masyarakat kita. Menurut Wikipedia, hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Jadi manusia akan bertindak dan bertingkah laku dengan tujuan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan hidup tanpa memandang apakah tindakannya itu bertentangan dengan norma agama atau tidak.

Gaya hidup hedonisme ini mendapat habitatnya yang cocok dalam sistem kapitalisme yang tengah diterapkan di negeri tercinta ini. Dalam sistem kapitalisme, ada empat kebebasan yg harus dijunjung tinggi. Salah satunya adalah kebebasan berperilaku termasuk aktivitas prostitusi online ini. Orang bebas berperilaku selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Bahkan dalam ranah hukum pun, pelakunya tidak bisa dijerat sanksi hukum.

Faktanya, VA setelah diperiksa, dibebaskan dan berstatus saksi, hanya dikenai wajib lapor. Sementara dua muncikari yang diciduk bersama VA ditahan dan akan dijerat pasal pelanggaran UU ITE. (makassar.tribunnews.com).

Islam, Solusi Tuntas
Dalam Islam, setiap muslim dalam menjalankan seluruh aktivitasnya harus menyesuaikan diri dengan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah subhanahu wata'ala. Kesenangan itu bukan sekedar memuaskan kebutuhan jasmani dan mencari kenikmatan, melainkan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wata'ala.

Dari segi tingkah laku, setiap muslim juga terikat dengan aturan Islam. Berdasarkan hal ini, perbuatan zina tergolong tindak pidana dan terhadap pelakunya berhak diberikan sanksi tanpa ada perasaan belas kasihan. Negara wajib menerapkan hudud (bentuk pelanggaran dan sanksinya ditetapkan Allah subhanahu wata'ala) dan uqubat (sanksi pidana) untuk melindungi masyarakat dan individu.

Kembalinya aturan Islam di tengah kehidupan masyarakatlah yang akan membebaskan perempuan dari tujuan hidup yang salah. Yaitu dengan tegaknya sistem Islam dalam kehidupan bernegara. Dan hal itu tidak dapat diraih kecuali kita mengambil Islam secara total.[MO/sr]


Posting Komentar