Oleh : Novida Balqis Fitria Alfiani

Mediaoposisi.com-  Lucu tapi nyata. Begitulah keadaan pemimpin negeri saat ini. Bagaimana tidak, seorang presiden bereaksi kaget mengetahui gaji guru honorer. Bukankah ini sudah tidak menjadi
rahasia umum lagi? Bukankah sejak dari dulu gaji guru honorer memang rendah? Kok kaget? Lucu!

Dilansir dari m.liputan6.com (12/1/2019), Bapak Jokowi menemui 371 perwakilan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI), dan mendengarkan curhatan salah satu perwakilan guru honorer tersebut. Diantara curhatan perwakilan guru tersebut adalah pertama, mengenai gaji yang diperolehnya hanya Rp 50 ribu perbulan, namun tiga tahun belakangan gajinya naik menjadi Rp 150 ribu perbulan.

Kedua, sulitnya sertifikasi guru karena persyaratan batasan usia dan harus pendidikan S1. Ketiga, gaji guru yang belum tersertifikasi sebesar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu perbulan. Menurut laporan dari Ketua Dewan Pembina PGSI Abdul Kadir Kading, besar gaji guru yang belum tersertifikasi sebesar Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu perbulan.

Namun, Bapak Jokowi merasa tidak percaya dengan apa yang fakta yang disampaikan. Namun Jokowi memaksa untuk mempercayainya karena disampaikan langsung oleh ketua PGSI sendiri. (m.liputan6.com, 12/1/2019)

“Di dalam hati saya tidak percaya, tetapi kalau yang ngomong pak ketua ya saya harus
percaya bahwa memang masih ada,” ujar Bapak Jokowi. (m.liputan6.com, 12/1/2019) Terlihat lucu bukan, bagaimana respon pemimpin negeri ini saat mendengar keluhan dari guru honorer tersebut.

Ia memberi respon kaget saat mendengar rendahnya gaji guru honorer. Namun, sebenarnya rendahnya gaji guru honorer sudah bukan rahasia umum lagi. Sudah sejak lama, fakta ini terjadi. Dan terus terjadi. Ketika pemimpin negeri ini terlihat kaget, bukankah ini hal yang lucu tapi nyata? Kenapa? Karena bukan tidak mungkin, seorang pemimpin pasti punya data seluruh rakyat dan pastinya mengetahui info terkini mengenai rakyat.

Bukan tidak mungkin sebenarnya pemimpin negeri ini hanyalah pura-pura kaget saja atau jika pun kaget sungguhan, itu pun pertanda bahwa pemimpin negeri ini tidak pernah peduli pada rakyatnya. Bayangkan, jika seorang pemimpin tidak mengetahui nasib rakyat negeri ini, bagaimana ia bisa memimpin dan membantu rakyatnya ?

Hal ini berbeda jauh ketika sistem Islam diterapkan. Dalam sistem Islam, nasib guru benar- benar diperhatikan. Dari fasilitas pendidikan dan sekolah yaitu perpustakaan, buku-buku keilmuan, alat praktek, dan lain sebagainya benar-benar dipersiapkan oleh negara tanpa membayar biaya sekolah sama sekali (gratis). Hingga gaji guru pun diperhatikan. Gaji guru dalam sistem Islam berjumlah Rp 38.250.000.

Sangat besar bukan ? Inilah yang membuat sistem Islam berjaya pada masanya. Karena sangat menghargai para pendidik generasi. Dengan gaji guru yang sangat besar tersebut, tentu sang guru tidak perlu memikirkan keuangan dan biaya hidupnya sendiri. Ia hanya akan fokus pada bagaimana mengajar yang efektif bagi muridnya. Sehingga tidak diragukan lagi, sangat banyak ilmuwan Muslim yang ahli dalam berbagai bidang pengetahuan.

Bidang fiqih, mu’amalah/ekonomi, astronomi, sains, teknologi, arsitektur, dan lain-lain. Bahkan bagi penulis buku pun digaji emas, seberat buku yang ia tulis. Benar-benar luar biasa!
Langkah inilah yang seharusnya dilakukan oleh rezim ini. Meningkatkan gaji guru tanpa tes
PNS dan tanpa sertifikasi. Seluruhnya harus digaji besar secara rata.

Tidak ada ketimpangan antara PNS, sertifikasi, dan guru honorer. Semua guru sama, bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa. Namun, tetap saja hal itu sulit dilakukan, jika tanpa sistem ekonomi yang tepat dan sesuai syari’at Islam.

Dalam syari’at Islam, pengelolaan sumber daya alam tidak akan diberikan oleh asing dan dikelola sendiri oleh negara. Kekayaan alam yang melimpah dan dikelola sendiri, bukan tidak mungkin akan membuat negeri sejahtera. Karena hasil pengelolaan yang dikelola sendiri, akan menghasilkan keuangan yang melimpah. Sehingga mudah bagi negara untuk menggaji guru dengan jumlah gaji yang besar.

Padahal sangat banyak guru, pada masa kekhilafahan. Namun, negara pun mampu menggaji guru sebanyak itu, dengan jumlah gaji yang besar. Masya Allah...

Sudah saatnya, negeri ini menerapkan Islam secara keseluruhan sesuai syari’at Islam. Dengan mengganti demokrasi dengan sistem Islam, In syaa Allah negeri ini akan sejahtera dan Allah SWT memberikan keberkahan pada negeri ini. Mari, terapkan syari’at Islam, dan buang sistem demokrasi dari negeri tercinta ini. Wallahu A’lam [MO/ra]

Posting Komentar