(Muro’ah, S.Pd.I)

Mediaoposisi.com-Kisruh isu prostitusi online yang melibatkan artis memenuhi media massa. Kasus serupa yang melibatkan sejumlah artis ternama juga pernah terjadi pada tahun 2015 silam, dan berakhir dengan ditangkapnya mucikari.

Kenapa kasus ini timbul tenggelam? Padahal beberapa tempat prostitusi sudah ditutup dan pelakunya seringkali diamankan.

Ini karena paradigma berfikir yang dipakai berpijak pada ide kapitalisme yang mementingkan manfaat dan keuntungan. Teori ketika ada permintaan maka jasa senantiasa disediakan, akan melanggengkan prostitusi.

Selain itu, demokrasi yang menjadi kaki tangan kapitalisme mengakomodir kebebasan individu. Diantaranya kebebasan berperilaku. Keresahan masyarakat dan dibuatnya undang-undang prostitusi dibenturkan dengan adanya kebebasan individu ini.

Misalnya undang-undang tidak akan mempermasalahkan jika prostitusi dilakukan suka sama suka. Pihak yang akan dihukum hanya mucikari, sementara pelaku dan konsumen tidak terjerat hukum.

Kapitalisme mengabaikan kehormatan perempuan dan mengabaikan rusaknya tatanan sosial yang diakibatkan prostitusi. Sehingga akan sangat sulit melenyapkan prostitusi selagi berpijak pada kapitalisme.

Dalam islam, keharaman prostitusi sangat jelas. Dalam tulisan ustadz Bahtiar Nasir, setidaknya terdapat tujuh hikmah pengharaman tersebut.

Pertama, menjaga kehormatan perempuan agar tidak dijadikan barang yang diperjualbelikan karena Islam datang untuk memuliakan manusia, baik laki-laki dan perempuan.

Kedua, mencegah percampuran nasab karena dengan dibolehkan zina.

Ketiga, mencegah banyaknya anak yang ditelantarkan orang tua akibat malu anaknya lahir dari hasil perzinahan. Dan, melindungi bayi-bayi yang dibunuh ibunya sendiri ketika masih dalam kandungan (aborsi).

Keempat, menjaga keutuhan dan ketenteraman dalam rumah tangga.

Kelima, pengharaman zina sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki rasa ghirah/cemburu terhadap kehormatannya, di mana tidak mungkin seseorang bisa menerima dan rela melihat istri, anak, ibu, dan saudari nya menjadi barang yang diperjualbelikan dan dijadikan pemuas nafsu orang lain.

Keenam, mencegah menyebarnya kejahatan, khususnya pembunuhan, disebabkan rasa cemburu, di mana seorang suami bisa membunuh istrinya dan lelaki yang berzina dengannya karena rasa marah, cemburu ketika melihat istrinya berzina dengan lelaki lain, atau lelaki bisa membunuh suami wanita yang dizinahinya.

Ketujuh, mencegah penyebaran penyakit menular yang merupakan hukuman dari Allah atas menyebarnya perbuatan keji tersebut, seperti HIV/AIDS.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah tampak zina di suatu kaum, kemudian dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah, al-Hakim dan Abu Nu’aim). (www.republika.co.id)

Wajar islam menindak tegas bagi pelaku protitusi. Firman Allah swt :

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُم بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ ٢الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ ٣

Artinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.” (QS. An Nuur : 2-3)[MO/AD]

Posting Komentar