Oleh: Wida Aulia 

Mediaoposisi.com- Penyidik Polda Jawa Timur sudah menetapkan dua orang TN dan ES sebagai tersangka Prostitusi Online. Keduanya berprofesi sebagai Mucikari. Kepada polisi, kedua tersangka mucikari mengaku tidak hanya melibatkan artis peran VA dalam aktivitasnya, namun juga mencatut 45 nama artis tanah air. ( TRIBUN-TIMUR.COM )

Berbagai reaksi muncul terutama melalui media sosial dalam menanggapi pemberitaan tersebut. Alih-alih masyarakat segera menilai dari sudut pandang Islam, yang ramai diperbincangkan justru tarif dari sang artis yang dinilai fantastis dan mahal dengan bayaran kisaran 80 juta bahkan ratusan juta sekali kencan.

Dan yang cukup menyita perhatian dari kalangan pelaku medsos adalah sebuah tanggapan “nyeleneh” dari seorang anak remaja perempuan yang diunggah di akun medsosnya. Dia mengungkapkan bahwa artis tersebut justru bernilai mahal karna berani memasang tarif 80 juta hingga ratusan juta untuk satu kali kerja.

Tak tanggung -tanggung, dia membandingkan nilai nominal tersebut dengan nilai nominal uang yang diterima oleh seorang istri dari suaminya. Dia mengatakan seorang istri hanya mendapat uang tak lebih dari 10 juta untuk berbagai pekerjaannya. Seperti mencuci, memasak, bersih-bersih dan juga termasuk ketika dia sudah menjadi seorang ibu. Mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak dan suaminya namun hanya sedikit bayaran yang diterima.

Mungkin jika yang berkomentar itu tidak pakai kerudung atau jelas dia non muslim, maka wajar. Tapi ini yang berkomentar adalah remaja pakai kerudung yang jelas tampak bahwa dia adalah muslim. Mungkin Islam penampilannya saja tapi pemikirannya tidak, karna pemikirannya sudah terjangkit virus hubbud dunya ( cinta dunia ) yang lahir akibat sistem kapitalis sekuler demokrasi.

Produk kapitalis demokrasi yang mengagungkan kebebasan dan hanya berorientasi pada kesenangan dunia sehingga segala sesuatu diukur dari banyaknya materi yaitu uang, uang dan uang. Padahal kalau dia mau berpikir jernih menggunakan sedikit otaknya maka dia akan mendapati bahwa seorang istri apalagi seorang ibu tak akan dapat dinilai dengan nominal uang.

Siapa yang sanggup membayar dan membalas pengorbanan seorang istri yang ikhlas dan tulus melayani suami dan keluarganya?  Apakah cukup dengan 80 juta? 100 juta? Satu milyar atau 1000 triliyun? Tentu saja tidak, karna Allah akan membayarnya lebih dari dunia dan seisinya yaitu dengan surga.

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka" ( QS. ATTAUBAH 111) .

Kaum kapitalis menganggap bahwa 80 juta adalah jumlah yang sangat besar, padahal uang segitu bisa habis dalam semalam juga. Uang jutaan rupiah yang didapat untuk mengganti kesenangan dunia yang hanya sesaat saja, bahkan hanya semalam. Bukankah setelah itu pezina perempuan itu dibuang begitu saja oleh pezina laki-laki yang menzinainya.

Apakah itu yang dikatakan berharga? Ibarat sebuah barang meski dibeli dengan harga mahal namun hanya dipakai sekali kemudian dicampakkan, ditinggalkan dan dibuang  atau dijual ke tukang loak. Maka tukang loak menjualnya lagi ke orang lain, lama kelamaan barang itu turun harganya dan bahkan rusak sehingga akhirnya dibuang ke tempat sampah. Apakah ini yang dinamakan berharga oleh kaum kapitalis dan pejuang feminisme?

Disinilah perbedaan antara Islam dan Kapitalisme, Kapitalisme menganggap sesuatu itu bernilai jika dihargai dengan nilai nominal uang yang tinggi. Masih pantaskah berharap pada kapitalisme untuk memutus siklus prostitusi ini? Langkah-langkah negara dalam mengatasi kasus maraknya prostitusi nyatanya tidak mampu memutus siklus prostitusi.

Menutup tempat-tempat lokalisasi ternyata juga bukan langkah efektif ketika tidak dibarengi dengan penerapan aturan Islam yang lain. Bahkan sanksi hukum juga tidak membuat pelaku jera karna hukum negeri ini tidak dapat mempidanakan pelaku zina jika alasannya suka sama suka dan sama-sama mau. Sehingga para pekerja seks komersial bukan berhenti dari pekerjaanya namun hanya pindah ke tempat lain.

Berbeda dengan kapitalisme, bahwa Islam menilai seorang perempuan begitu mulia sehingga tak pantas hanya dinilai dengan uang. Namun Islam memuliakan perempuan dengan seperangkat aturan untuk melindunginya dari berbagai kerusakan. Aturan menutup aurat, larangan berhias berlebihan ( tabaruj ), larangan safar ( bepergian ) sehari semalam tanpa mahramnya, aturan pernikahan dan berbagai aturan lain yang semua aturan tersebut memberikan rahmat dan kemuliaan bagi seorang perempuan.

Namun seperangkat aturan tersebut tidak akan dapat dilaksanakan tanpa kuatnya akidah umat Islam dan peran negara. Dan saat ini ketika akidah umat merosot dan lemah akibat hanya memakai aturan Islam sebagian saja dan meninggalkan sebagian yang lain, maka kerusakan demi kerusakan telah nyata tampak terjadi. Banyaknya penjaja dan makelar syahwat yang kian marak, prostitusi transparan dan terang-terangan adalah bukti bahwa akidah umat telah tergadaikan, tercabik-cabik dan telah terkoyak hingga rusak tak terbekas.

Islam adalah agama sekaligus ideologi yang memiliki seperangkat aturan yang paripurna. Maka negara yang menerapkan Islam secara kaffah akan menuntaskan masalah prostitusi mulai dari akarnya. Dengan diterapkannya sistem Islam maka negara menjaga akidah umat dengan memberi pembinaan intensif, mengatur interaksi laki-laki dan perempuan dan menerapkan hukuman rajam sampai mati bagi pelaku zina yang sudah menikah dan jilid/cambuk 100 kali bagi pezina yang belum menikah.

Hukuman yang tegas akan membebaskan pelaku dari hukuman di akhirat dan membuat pelaku jera. Jadi, jika masih ada yang menolak aturan Islam secara kaffah maka mereka itu adalah para pelaku kemaksiatan yang telah menggadaikan akidahnya demi kesenangan dunia yang hanya sesaat.[MO/sr]

Posting Komentar