Oleh: Tri S,S.Si
(Penulis adalah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Ikatan Dai Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden RI untuk uji baca Alquran. Salah satu alasannya karena dua Capres sama-sama beragama Islam dan penting bagi umat Islam untuk tahu kualitas calon presidennya (Tribunnews.com/30/12/2018).

Menurut Ridlwan jika seorang beraga Non Muslim lalu dipaksa tes membaca Alquran barulah bisa disebut melanggar Pancasila dan asas demokrasi. Namun baik Joko Widodo dan Prabowo Subianto sama sama muslim. Membaca Alquran adalah ibadah harian yang sangat lazim dilakukan oleh jutaan muslim setiap hari di Indonesia.

Justru kemampuan membaca Alquran menambah trust atau rasa percaya dari masing-masing voter atau kelompok pemilih. “Misalnya pak Prabowo kan diusung oleh ijtima ulama, tentu sangat wajar kalau ummat ingin tahu dan ingin mendengar bacaan Alquran pak Prabowo”, katanya.

Lagipula, di Indonesia ada jutaan Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang setiap hari mendidik anak-anak untuk bisa membaca Alquran. Tes membaca Alquran akan sangat memotivasi anak-anak untuk bercita-cita tinggi. Apalagi kalau disiarkan live di televisi.

Soal lokasi, tidak harus di Aceh, bisa saja dilakukan di Jakarta dengan para penguji yang didatangkan dari Aceh. “Kalau alasan kesibukan dan teknis itu gampang sekali. Ada ribuan masjid di Jakarta yang bisa dipakai misalnya Istiqlal atau masjid Sunda Kelapa." 

Tes baca Alquran juga akan mengakhiri perdebatan soal kualitas beragama masing-masing calon. Ini justru kesempatan emas bagi masing-masing kubu untuk mendapatkan simpati dari kelompok pemilih Islam.

Di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini, tentu aneh jika dalam kehidupan bernegara hari ini justru semangat sekulerisme begitu dielu-elukan. Berulang muncul seruan dari politisi dan pejabat negara agar tidak memasukkan agama ke dalam ranah politik. Seorang politisi mengatakan agar umat jangan baper membawa agama ke ranah politik. Sebab, menurut dia, hari ini rakyat sedang memilih presiden, bukan memilih nabi, apalagi memilih tuhan.

Namun ironinya, para politisi sekuler itu justru kerap mengeksploitasi agama untuk kepentingan politik mereka. Misalnya, meminta dukungan ulama, memamerkan ibadah dan terakhir menantang kefasihan membaca Alquran. Tujuannya bukan untuk memuliakan Islam, apalagi menerapkan hukum Islam, tetapi sekedar demi menaikkan pamor kelompoknya dan untuk menjatuhkan kubu lawan.

Demikianlah tabiat politik kaum sekuler. Menjauhkan agama dari kehidupan berpolitik dan bernegara. Namun, lain waktu, tanpa malu sama sekali mereka mengeksploitasi agama untuk syahwat politik mereka.

Islam adalah agama paripurna. Alquran telah mengatur seluruh aspek kehidupan. Alquran adalah satu-satunya kitab suci yang membawa hukum-hukum terbaik dari Allah SWT. Hukum-hukum Alquran menjamin keberkahan dan kebaikan hidup bagi manusia di dunia dan akhirat.
 Allah SWT jelas menurunkan Alquran tidak hanya untuk dibaca ,tetapi untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia, yang hukum-hukumnya wajib diterapkan dalam kehidupan. Karena itu, jangan cuma tantangan untuk membaca Alquran. Yang lebih layak untuk dijadikan tantangan adalah beranikah para penguasa dan calon penguasa menerapkan hukum-hukum Alquran. 

Ide baca Alquran untuk capres cawapres dan respon terhadapnya merupakan salahsatu bukti bahwa dalam demokrasi Alquran hanya jadi alat permainan politik untuk memenangi persaingan di satu sisi dan keberadaannya dianggap tidak penting disisi yang lain.

Alquran adalah wahyu Allah sekaligus petunjuk hidup yang WAJIB atas seluruh kaum muslim untuk mengamalkan isinya dengan kaffah.                   

Saatnya umat mencampakkan sistem sekuler demokrasi yang menempatkan hukum Allah secara tak selayaknya.[MO/sr]

Posting Komentar