Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Kebijakan yang seolah-olah pro-rakyat diambil, padahal hanya pencitraan. Mulai divestasi saham freeport sampai turunnya harga BBM.
Donasi Save Muslim Uighur
Seolah kebijakan diambil karena ingin membela kepentingan rakyat, padahal itu dilakukan untuk mendapatkan simpati rakyat agar suaranya diberikan padanya pada pilpress 2019 nanti. Dulu, blusukan masuk ke pasar tradisional atau ke tempat dimana banyak rakyat kecil berkerumun ternyata bisa menarik simpati rakyat.

Sikap rendah hati dan karakter yang merakyat dan peduli pada rakyat dibangun dibenak rakyat sehingga banyak yang tertipu memberikan suara mereka. Ternyata, setelah duduk dikursi kekuasaannya banyak kebijakan yang tidak pro-rakyat. Kanaikan harga BBM memicu kenaikan harga kebutuhan pokok yang menyusahkan rakyat diambil di tengah kehidupan rakyat yang susah.

Pencitraan model blusukan ternyata sudah tidak laku. Rakyat sudah semakin cerdas dan tidak mau ditipu yang kedua kalinya. Wajah lugu sudah tidak laku terjual. Terbukti wajah yang sok lugu, ternyata sangat sadis dan tega.

Banyak ulama' yang dipersekusi dan dikriminalisasi. Rakyat sudah muak dengan wajah sok lugu tapi menipu. Hanya orang-orang yang bodoh yang mau ditipu kedua kalinya.

Rakyat butuh tindakan nyata berupa kebijakan yang pro-rakyat.Pencitraan model barupun dilakukan dengan mempublikasikan kebijakan yang seolah-olah pro-rakyat. Faktanya, semua itu dilakukan untuk pencitraan agar rakyat tertipu lagi untuk memberikan suaranya di pilpress 2019.

Pencitraan model lama atau baru sama-sama menipu. Divestasi saham freeport hanya menambah utang luar negeri yang semakin menggunung padahal penguasa bisa mengambil alih perusahan asing itu tanpa harus membeli saham 51% dari freeport jika kontrak kerja tidak diperpanjang.

Atau jika pemerintah  tidak berdaya terhadap freeport, tunggu saja sampai waktu kontrak kerja berakhir.

Harga BBM non subsidi turun. Seolah-olah ini adalah kebijakan pro-rakyat.  Turunnya hanya 200 Rupiah itupun pada jenis bahan bakar non-subsidi dengan alasan  harga minyak bumi dunia turun. Inilah jika negara memposisikan diri sebagai cooperation yang berbisnis dengan rakyatnya sendiri. Ibarat sebuah keluarga, seorang bapak berbisnis dengan anaknya sendiri.

Anaknya harus membayar makanan dan semua fasilitas yang sudah dinikmati dengan harga yang ditetapkan tanpa mau rugi. Sungguh terlalu pemerintah yang seharusnya menjadi orang tua dalam sebuah negara berbisnis dengan rakyatnya sendiri dan berfikir untung rugi.

Jangan sampai tertipu dengan kebijakan yang terkesan untuk membela dan melindungi rakyat, padahal semua itu  pencitraan yang menipu dengan tujuan agar rakyat terkesan dan simpati dengan calon presiden nomor 1 yang saat ini sedang memimpin negeri ini.[MO/ge]

Posting Komentar