Oleh: Kamila Amiluddin 
(Guru dan Pemerhati Anak, Member Akademi Menulis Kreativ)

Mediaoposisi.com- Dunia ini..penuh sandiwara” ya lirik lagu tersebut sepertinya pas untuk mengungkapkan isu yang belakangan ini merebak dipemberitaan, terkait uji tes baca al-quran untuk kedua kandidat calon presiden RI sebagaimana yang dilansir oleh laman Tribunnews.com “Membaca al-quran adalah ibadah harian yang sangat lazim dilakukan oleh jutaan muslim setiap hari di Indonesia. Saya yakin pak Jokowi dan pak Prabowo tidak ada masalah dengan itu,” Ujar Ridwan Habib peneliti radikalisme dan gerakan Islam di Jakarta.

Justru bila itu menjadi ibadah wajib dan harian semestinya uji tes yang dilaksanakan bukan uji bacaannya melainkan bagaimana penerapan isi dari al-quran tersebut sebagai seorang pemimpin. Karena sangat aneh saja setara calon pemimpin negara masih diuji tes untuk baca al-quran. Untuk apa bisa baca al-quran jika hanya sekedar untuk dipertontonkan.

Uji tes disini perlu banyak pertimbangan, mengapa? Apakah ini bertujuan untuk menguji bacaan al-quran yang baik dan benar atau hanya untuk persaingan politik semata. Menurut pernyataan juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga yang dikutip dari okezone.com “tes itu tidak perlu dilakukan karena kemampuan dalam membaca al-quran bukan syarat tapi hanya sebagai advantage saja” Ucap Sodik. (30/12/2018)

Dari masalah ini masyarakat mampu menilait bahwa dalam sistem demokrasi hanya menganggap al-quran hanya sebagai alat peperangan persaingan politik, dibutuhkan demi mendapatkan keuntungan, tidak dianggap penting keberadaannya sebagai aturan yang harus diterapkan..

Semakin tidak jelas saja negara saat ini dengan menganut sistem sekuler sehingga al-quran pun dijadikan bahan lelucon, apakah tidak ada yang memahami fungsi dari al-quran? Kitab suci seluruh umat muslim.

Manusia pada hakikatnya berada dalam kegelapan maka untuk bisa mengeluarkan manusia dari kegelapan perlu adanya cahaya yang masuk untuk menerangi yaitu dengan memahami serta menerapkan isi dari al-quran yang merupakan wahyu dari Allah.

Setiap muslim diperintahkan oleh Allah tidak hanya mampu membaca al-quran dengan baik dan benar, namun kita mampu memahami isi kandungannya serta mengamalkan apa yang sudah kita pahami. Karena al-quran merupakan petunjuk dalam kehidupan seorang muslim. Al-quran bukan hanya dipajang dan dibaca ketika bulan ramadhan, ketika ada yang meninggal, atau hanya untuk ajang perlombaan seperti MTQ. Al-quran diturunkan untuk diterapkan.

Umat Islam percaya dengan adanya kitab-kitab Allah yang telah turun sebelum al-quran, yaitu taurat, injil dan zabur. Namun tetap al-quran yang wajib dipelajari karena merupakan penyempurna dan digunakan sampai akhir zaman. Kitab-kitab Allah sebelumnya ditujukan hanya pada umat di masanya saja, berbeda dengan Alqur’an, Allah menjaga keaslian al-quran melalui para umat yang hafal al-quran dan mengamalkannya.

Untuk seorang calon pemimpin negara bukan hanya memiliki kemampuan dalam membaca al-quran tetapi bagaimana ia menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam urusan negara, politik maupun pemikirannya. Karena hukum yang harusnya diterapkan dari sejak manusia lahir hingga saat kita dipanggil oleh Allah tetap menggunakan hukum yang diturunkanNya yaitu hukum Islam. Pun dalam mengambil setiap keputusan sewajibnya berdasarkan hukum yang sesuai dengan syariatNya.

Maka dari itu tidak boleh sembarangan dalam memilih seorang pemimpin negara, karena didalam al-quran telah diperintahkan untuk mentaati pemimpin. Namun pemimpin yang diartikan disini adalah yang memiliki ruh ketaqwaan yang besar kepada Allah. Menerapkan aturan al-quran dalam bernegara sudah menjadi tugas pemimpin negara, karena itu merupakan kapasitasnya.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”. (Q.S. An-Nisa’ : 59)

Jangan menjadikan al-quran sebagai kepentingan sesaat maupun duniawi, karena ketika akhir zaman telah datang amalan dari ayat-ayat yang kita baca dalam al-quran akan menjadi saksi dan penolong bagi kita.

Yang perlu dinilai dari seorang pemimpin atau kepala negara seberapa cintanya kepada Islam. Bagaimana sikapnya sebagai pemimpin ketika al-quran dan tauhid dihina?Kemana ia saat banyak ulama dituduh radikal?

Jangan merasa hebat mampu membaca al-quran tetapi menyesal telah membela Alqur’an, jangan bangga menjadi barisan yang mendukung mereka yang telah menistakan ayat-ayat Allah.

Maka bagi setiap manusia wajib mempelajari al-quran agar memiliki keimanan yang benar, membaca dengan ikhlas amalkan dan dakwahkan isinya semata untuk mendapatkan ridha-Nya.
Kamu tidak mampu mengubah al-quran tapi isi alqur’an mampu mengubah hidupmu” Biidznillah. [MO/sr]

Posting Komentar