Oleh: Ulia Niati

(Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis)

Mediaoposisi.com-  Tinggal menghitung bulan, kian hari kian berlalu, hingga membuat alam bawah sadar mengetahui pesta demokrasi dalam waktu dekat akan diadakan yakni pemilihan calon pemimpin negeri ini, tentu dalam hal pemilihan calon pemimpin akan ada penyampaian visi dan misi untuk pandangan jangka pendek dan jangka panjang nantinya dalam masa jabatan kepemimpinannya.

Seperti kita ketahui visi misi suatu hal yang patut dipikirkan untuk keberlansungan hidup layaknya sebuah organisasi baik himpunan ataupun organisasi lainnnya yang ada dikampus sebelum dipilih, calon ketua organisasi akan menyampaikan visi misi mereka, berupa apa yang akan mereka lakukan dalam masa jabatannya.

Kerap sekali visi misinya disampaikan secara terbuka didepan anggota organisasi agar para anggota mengetahui calon pemimpin seperti apa yang akan mereka pilih melalui visi misi mereka juga dapat memprediksi kinerja pemimpin organisasi mereka. Begitupula dengan pemilihan calon pemimpin negeri ini nantinya yang diharapkan tentu pemimpin yang memiliki visi misi yang cemerlang untuk kesejahteraan rakyat.

Seperti yang kita ketahui visi merupakan suatu impian, cita-cita, bahkan tujuan goal yang ingin dicapai kedepan dan visi biasanya merupakan suatu olah pikiran dari pendirinya jika disini bisa diartikan pemikiran calon pemimpin organisasi ataupun calon pemimpin negeri ini. ingin dibawa kemana indonesia tercinta ini, mau dijadikan apa indonesia yang kaya raya ini.

Begitu pula dengan misi, misi merupakan suatu tahapan apa saja yang perlu dilalui untuk mencapai
visi tadi, dan upaya seperti apa yang dilakukan untuk mendapatkan keberhasilan visi yang telah dibuat.

Namun begitu sangat disayangkan ternyata pemilihan calon pemimpin negeri ini nantinya tidak difasilitasi oleh KPU untuk sosialisasi visi dan misi mereka, ini terlihat aneh sekelas pemilihan pemimpin di negeri yang kita cintai ini, tidak memperoleh fasilitas untuk mensosialisikan visi misi calon pemimpin.

Arief Budiman, pada sabtu (5/1/2018) di Jakarta Pusat dia mengatakan “Soal sosialisasi visi misi, tadi malam sudah diputuskan, silakan dilaksanakan sendiri-sendiri, tempat dan waktu yang mereka tentukan sendiri, jadi tidak lagi difasilitasi oleh KPU

KPU agak kerepotan kalau memfasilitasi keinginannya agak berbeda-beda, KPU memutuskan kalau sosialisasi bisa dilakukan oleh masing-masing paslon di tempat dan waktu yang mereka tentukan sendiri” (nusantaranews.co,05/01/2019)

Pengumuman pembatalan tersebut tentu menuai ragam respon dari rakyat yang peduli akan negeri ini. Sungguh tidak dapat masuk akal sekelas pemilihan calon pemimpin negeri ini tidak mendapatkan fasilitas untuk visi misi, dan bagaimana mungkin rakyat dapat menjatuhkan pilihan tanpa mengetahui visi dan misi mereka ?

Melihat keputusan ini dan dengan alasan yang disampaikan membuat sebuah presepsi bahwa alasan keputusan ini begitu lemah dimana alasan ini hanya perihal teknisi saja, mengapa demikian ? Iya, jika hanya perkaranya waktu, tempat dan pihak yang menyampaikan visi misi semestinya bisa terselesaikan dengan mudah.

Sebagai yang memiliki wewenang mengatur jalan pemilihan umum hanya tinggal menentukan waktu dan tempatnya kapan lalu beritahu media sehingga rakyat dapat mengetahui visi dan misi calon pemimpin tersebut sehingga rakyat tidak salah memilih.

Tapi jika untuk perkara siapa yang menyampaikan sudah semestinya para calon pemimpin tentunya, sebab melalui visi misi kita mengetahui skala pemikiran calon pemimpin dan akan kemana arah kepemimpinannya.

Meskipun keputusan sosialisasi tetap dilakukan seperti laman media kompas.com pada
05/01/2019 dikatakan “Keputusan tersebut diambil berdasar kesepakatan antara KPU dengan
tim kampanye pasangan calon melalui rapat bersama yang digelar pada Jumat (4/1/2019)
malam. Sosialisasi tetap akan dilakukan, tetapi oleh masing-masing tim kampanye.”

Bagaimana bisa tim kempaye yang melakukan sosialisasi mengenai visi misi sedangkan yang ingin mencalon bukan mereka seharusnya jelas yang mensosialisasikan adalah calon presiden itu sendiri. agar mudah bagi rakyat untuk muhasabah , mengoreksi, layaknya beramar ma’ruf nahi mungkar jika terjadi pengimpangan dari visi misi yang telah dibuat, dan dari visi dan misi tersebut terciptalah pandangan hidup untuk mensejahterahkan rakyat, tentu menjadikan pemimpin yang kelak terpilih menjadi pribadi yang memiliki pandangan yang jelas, amanah dan tentu bertanggung jawab dengan adanya visi misi.

Merenung hal ini teringat dalam sistem Islam yang mana pemimpin Islam tersebut haruslah tentu amanah dan bertanggung jawab terhadap apa yg akan ia lakukan dan dalam islam sudah menetapkan sifat ataupun karakter pemimpin itu sendiri, seperti apa ? yakni yang pertama, memiliki pribadi yang kuat, Kuat secara pemikiran, cerdas dan paham tentang tatalaksana kenegaraan dan hubungan internasional ,sensitifitas memimpin, berperilaku dan senantiasa terikat dengan hukum syara’.

Kedua, Taqwa dimana kesadaran ruhiyah tinggi, tidak egois, tidak rakus dan tidak zhalim, serta menjalankan amanah dan tanggung jawab kepemimpinan dengan tepat dan benar. Ketiga, Cinta rakyat, dimana pemimpin harus menyayangi rakyat dan mengutamakan mereka, pemberi berita gembira bukan menakut-nakuti rakyat serta memudahkan urusan rakyat bukan mempersulit keadaan mereka.

Begitu pula dalam tanggung jawab umum yang mesti dimiliki oleh pemimpin adalah seseorang yang memiliki nasihat taqwa pada rakyat yang bertanggung jawab untuk menjaga dan melindungi rakyat dari musuh dan hal buruk yang berasal  dari dalam maupun luar negeri, tidak menipu rakyat, dapat menjaga harta rakyat, tidak korupsi, mampu mengelola harta umum dan negara dengan amanah, dan terakhir, ia menerapkan syariah tidak menerapkan aturan UU lain selain syari’ah Islam.

Sehingga karakter pemimpin seperti ini, akan terwujudlah syariat Islam dalam mengatur kehidupan, jika hari ini tanpa visi misi suatu hal yang amat tidak bisa masuk akal bagaimana cara rakyat untuk memilih dan mengetahui pemimpinnya tapi berbeda dalam sistem islam yang memiliki kriteria yang harus ada dalam pemimpin islam sehingga mungkin jika tanpa visi misi rakyat pun sudah menyakini bahwa calon pemimpin dalam sistem islam tidak diragukan lagi, tapi jika tidak menerapkan sistem Islam siapa yang dapat menjamin calonpemimpin tersebut memiliki karakter seperti karakter pemimpin islam ? Tentu tidak ada.

Sungguh pemimpin berdasarkan kriteria Islam sudah sangat dirindukan oleh umat, mari kita
terapkan sistem Islam dibumi ini sehingga Islam sebagai rahmatan lil’alamin akan dirasakan
oleh seluruh umat manusia. Wallahua’lam Bishshowwab (MO/ra)

Posting Komentar