Oleh: Heni Andriani

Mediaoposisi.com- Pilpres tinggal beberapa bulan lagi dua kubu capres-cawapres sudah saling menyiapkan strateginya masing-masing untuk kemenangan pemilu berbagai tantangan dilemparkan untuk dikompetisikan.

Hal ini tentu saja  untuk mencari pencitraan di tengah masyarakat. Sebut wacana yang dilontarkan ketua Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh, Tengku Marsyuddin Ishak, "untuk mengakhiri polemik keislaman capres-cawapres kami mengusulkan tes baca Alquran kepada kedua pasang calon capres-cawapres"kata Tengku Marsyuddin Ishak di penghujung Desember 2018 lalu.

Sesungguhnya seorang muslim wajib mengimani Alquran dan tentunya diharuskan menghiasi lisannya dengan Alquran sebagaimana di jelaskan dalam Alqur'an qs. 35:29

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang senantiasa membaca kitab Allah dan selalu mendirikan shalat serta terbiasa menyisihkan (infak) dari sedikit rizki yang telah Kami anugerahkan kepada mereka, baik infak secara diam-diam ataupun terang-terangan, mereka itu sedang mengharapkan bisnis perdagangan yang tidak akan rugi."

Begitupun sabda Nabi Muhammad SAW " Bacalah Alquran karena sungguh pada Hari kiamat ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya ".

Harus di fahami juga bahwa Alquran bukan hanya sekedar dibaca tetapi tentunya diamalkan. Namun sayang di dalam sistem demokrasi Alqur'an hanya dijadikan alat untuk mendongkrak popularitas ataupun pencitraan.

Sebagaimana kita ketahui sistem demokrasi kapitalis sekuler agama hanya dipakai diranah pribadi dan senantiasa agama dianggap penghalang dalam setiap aktivitas manusia. Sehingga bagi para kapitalis agama hanya dijadikan alat pemuas hawa nafsu. Bahkan Rosulullah mewanti-wanti umatnya (shahih al jami hlmn 216)

"Aku mengkhawatirkan atas kalian enam perkara :kepemimpinan orang-orang bodoh,pertumpahan darah, jual beli hukum ,pemutusan silaturahmi, anak-anak muda yang menjadikan Alqurannya sebagai seruling (musik)dan banyaknya algojo (yang zalim)."

Dengan sistem kapitalisme yang bercokol di Indonesia saat ini tentunya banyak para politisi tidak mau menjadikan acuan dalam sistem politik jangan membawa agama.padahal jelas-jelas Alqurannya bukan hanya menerangkan tentang masalah akidah akan tetapi masalah hukum -hukum seputar ibadah, akhlak, ekonomi hingga pemerintahan dan militer.

Jadi kita sebagai seorang muslim wajib berhukum dengan Alquran bukan dengan hukum yang lain. Sebagaimana tercantum di surat Almaidah :47

وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"siapa saja yang tidak berhukum dengan wahyu yang telah Alloh turunkan, mereka itulah orang -orang fasik."

Karena itu,dinegeri yang mayoritas penduduknya muslim, sangat aneh masih saja menjunjung tinggi sistem sekulerisme. Bahkan para politisinya mengeksploitasi agama untuk kepentingan kelompok dan politik demi sebuah pencitraan ditengah-tengah masyarakat.

Tujuannya bukan untuk memuliakan islam ,apalagi menerapkan hukum islam tetapi hanya untuk menaikkan pamor dan menjatuhkan kubu lawan. Itulah tabiat politik sekuler menjauhkan agama dari kehidupan berpolitik dan bernegara. Akan tetapi di lain waktu kerap mengeksploitasi agama demi pencitraan.

Berbeda halnya dengan sistem islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan dengan berpedoman kepada Alquran dan menjadikan Alquran sebagai hukum dalam berbangsa dan bermasyarakat.
Dengan sistem islam akan melahirkan para pemimpin yang takut kepada Alloh swt dan amanah dalam menunaikan tanggung jawab sebagai penguasa.

Oleh karena itu, para calon penguasa sekarang jangan cuma hanya tantangan membaca Alquran tetapi beranikah untuk menerapkan Alquran?? Apabila tidak maka tunggulah saat penghisaban Alquran yang mendakwa kelak di akhirat.[MO/sr]


Posting Komentar