Oleh: Shinta Putri S.Ek
(Pemerhati Perempuan dan Anak)
Mediaoposisi.com-Masih segar dalam ingatan kita atas munculnya aturan penyandang disabilitas mental bisa mengikuti pemilihan umum tahun 2019 mendatang. Merujuk pada putusan MK bernomor 135/PUU-XIII/2015, warga yang mengidap gangguan jiwa bisa menggunakan hak pilihnya dengan syarat tertentu. Dimana Jumlah disabilitas mental menurut data KPU sekitar 400 ribu orang.
Pengertian umum orang gila yaitu orang yang sakit ingatan karena gangguan pada syarafnya dan biasanya jika kita berbicara tentang orang gila maka yang terbayang oleh kita adalah orang yang dengan penampakan kusut masai, berpakaian sobek bahkan menampakkan auratnya secara tidak sadar. Emosinya yang berubah-ubah dimana kadang menangis, tertawa bahkan marah.
Secara hukum Islam, mereka yang termasuk ke dalam golongan orang-orang gila dibebaskan Allah dari taklid hukum Islam. Sama halnya terlepasnya kewajiban seperti sholat, puasa, zakat, dan sebagainya pada diri orang gila tersebut. Dengan kata lain tidak ada dosa atas mereka jika mereka melanggar aturan ataupun ketentuan Allah.
Lucunya, mereka yang masuk dalam tuna grahita diberi hak untuk dapat memilih pemimpin yang akan duduk disinggahsana kepresidenan. Sementara dalam akalnya, mereka tidak mampu menggunakannya untuk benar-benar memilih pemimpin yang akan membawa kepentingan umat 5 tahun kedepan.
Bathilnya demokrasi dapat kita lihat jelas saat ini. Keputusan tentang tuna grahita inipun semakin menambah jelas kegagalan demokrasi dalam memberikan pemimpin yang mengurusi urusan masyarakat. Segala cara dilakukan dengan menghalalkan sesuatu yang dimana Islam telah berlepas tangan dengan tidak adanya taklid hukum.
Inilah penampakan para penguasa cetakan sistem demokrasi kapitalisme hari ini. Menghalalkan apapun agar tetap berada di kursi nomor 1. Meski itu menyalahi aturan Islam ataupun logika akal manusia.
Justru Islam memuliakan mereka dengan tidak membebani para tuna grahita ini dengan urusan yang menyangkut kesejahteraan umat.
Berbanding terbalik jika hukum demokrasi kapitalisme yang digunakan oleh orang gila untuk meneror bahkan membunuh. Masih segar diingatan kita tentang penjaga masjid yang dibunuh dengan sadis dengan terduga orang gila. Serta teror dan ancaman nyata yang dilakukan oleh orang- orang disimpulkan memiliki gangguan kejiwaan. Lalu apa sanksi hukum bagi mereka?
Inilah bingkai sistem hari ini. Karena sistem hari ini membentuk orang-orang yang dapat membuat hukum tanpa merujuk pada Islam dan bagaimana Allah mengatur kehidupan manusia. Bahkan membuat hukum diluar dari nalar akal manusia. Demi memperoleh suara banyak untuk menduduki posisi pertama di negeri ini.
Pemimpin seperti inikah? Dan sistem inikah? Yang akan kita pilih untuk memimpin umat muslim di Negara tercinta kita. Dimana kesejahteraan dan kemaslahatan umat berada ditangan mereka. Dimana bangkit dan bobroknya negeri bergantung para penguasanya.
Islam telah memberikan tuntunan sempurna tentang kepemimpinan. Hadits Nabi  berikut ini sebagai salah satu bukti begitu seriusnya Islam memandang persoalan kepemimpinan ini. Nabi  Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ
Jika ada tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antara mereka menjadi pemimpinnya.” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah).
Pemimpin haruslah memiliki 4 sifat ini dalam kepemimpinannya ditengah-tengah umat.
1. Shidiq yaitu ketika pemimpin yang dalam menjalankan tugasnya dengan menjalankan keterbukaan tanpa kecurangan.
2. Amanah yaitu memiliki kemampuan untuk memjaga segala sesuatu yang telah dipercayakan umat kepadanya.
3. Fathanah yaitu cerdas dalam menghadapi persoalan yang timbul dimasyarakat. Bukan malah menjadi corong kerusakan ditengan masyarakat.
4. Tablig yaitu memiliki kemampuan untuk menyampaikan secara terbuka, jujur, sekaligus bertanggungjawab atas segala tindakan yang diambilnya.
Bisakah orang gila memahami keempat hal ini? Maka tentu jawabannya adalah tidak. Lalu bagaimana suara orang gila ini bisa bertanggungjawab, sementara mereka tidak memiliki akal untuk dapat memilih pemimpin yang benar-benar memiliki 4 sifat tadi. Akan mengarah ke pilihan nomor berapa suara orang gila ini sementara mereka tidak mengerti benar dan salah?
Maka sungguh benarlah Islam dalam mengatur kehidupan masyarakat. Bahwa memegang kepemimpinan tidaklah mudah dan menghalalkan segala cara. Begitu berat amanah yang dipikul oleh seorang pemimpin dan pertanggungjawabannya dihadapan Allah. Jika pemimpin hari ini begitu mudah membuat hukum yang bertentangan dengan Islam maka bagaimana nasib umat Islam 5 tahun lagi?
Inilah keberhasilan kapitalisme dalam menanamkan ide kufurnya. Dimana pemisahan agama dari kehidupan yang menjadi dasar penggerak. Dan telah terbukti munculnya banyak hukum yang bertentang dengan hukum Islam bahkan tidak sesuai nalar manusia.
Buang kapitalisme pada tong sampah peradaban!
Saatnya Islam kembali bangkit dan berjaya sebagaimana para sahabat dan khalifah memimpin peradaban hingga 1300 tahun dan mampu menguasai 2/3 dunia dengan kepemimpinan yang cemerlang dalam naungan Khilafah. Maka bangkitlah kaum muslim dan bergerakan menuju perubahan total dalam naungan Khilafah ala minhaj nubuwwah. Wallahu A'lam.

Posting Komentar