Oleh: Yauma 
(Mahasiswi Pascasarjana UPI)

Mediaoposisi.com- Salah satu lembaga survei di Indonesia, Alvara Research melakukan riset kepada kaum milenial mengenai ketertarikannya tentang pemberitaan politik.

Hasil dari riset tersebut menyatakan bahwa hanya 22% milenial yang menyukai pemberitaan politik dan 70% lainnya milenial yang berusia 21-35 tahun lebih menyukai pemberitaan tentang lifestyle, musik, ilmu teknologi maupun film(tribunnews.com).

Indonesia sedang sangat mempersiapkan diri dalam menghadapi tahun politik 2019. Pada tahun tersebut akan berlangsung pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan dipilih langsung oleh rakyat yang diprediksikan 30-40% pemilihnya adalah kaum milenial.

Kaum milenial yang terkesan apatis berdasarkan riset bisa saja enggan berpartisipasi dalam perpolitikan Indonesia kali ini. Mereka kehilangan makna politik sebenarnya dan perlu adanya edukasi politik yang benar-benar mencerahkan pemikiran mereka yang terkesan memandang politik sebagai wadah yang kotor dengan hanya untuk memperebutkan kekuasaan.

Berbagai cara dilakukan untuk menarik perhatian kaum milenial yang terlanjur cerdas menyikapinya dengan berbagai sudut pandang. Hingga perilisan dua film dengan konten yang sangat jauh dari bahasan politik pun dikait-kaitkan dengan landasan adanya trik untuk menarik kaum milenial.

Kontroversi ini terjadi dengan adanya percepatan dari film Hanum dan Rangga yang tadinya akan dirilis tanggal 15 November 2018 menjadi tanggal 08 November 2018 bersamaan dengan film A Man Called Ahok. Hal ini menjadi acuan yang sangat rendah dalam menilai pemikiran politik milenial dari jumlah kursi penonton bioskop.

Film Hanum dan Rangga yang merupakan film lanjutan dari dua film sebelumnya yaitu Film 99 cahaya di langit Eropa dan Bulan terbelah di Langit Amerika merupakan film yang diangkat dari karya Hanum Rais yang sejatinya merupakan putri Amien Rais yang dikenal erat dengan Partai Amanat Nasional (PAN) yang berada di tim kemenangan capres nomor dua

Sedangkan film A Man Called Ahok yang menceritakan biografi seorang yang dikenal sukses bermasyarakat bagi para penggemarnya hingga terjebak kasus penistaan agama memang sosoknya lekat dan erat dengan capres nomor satu.

Pendidikan politik yang seharusnya merupakan tanggungjawab bagi para Elite Politik dalam partai politik untuk mengedukasi masyarakat agar bisa membatasi emosi yang tidak sesuai dengan adab berpolitik yaitu hanya dapat menimbulkan perpecahan tidak sesuai dengan Undang-Undang no 2 tahun 2011 bahwa parpol harus bisa mengarahkan pendidikan politik ke arah persatuan dan kesatuan.

Sehingga politik bukan ajang untuk sindir-menyindir atau melakukan rekayasa sosial untuk sebuah kemenangan pihak-pihak tertentu.

Politik juga tidak bisa disandarkan pada hal-hal yang dinilai tidak kompeten untuk dijadikan penilaian seperti jumlah penonton bioskop berdasarkan film atau tagar-tagar yang berbau saling menjatuhkan di media sosial. Maka jika output masyarakat masih terjebak ke dalam hal-hal yang bersifat rendah, ada yang salah dengan pendidikan politik yang terjadi saat ini.

Isu sara bahkan agama pun sering menjadi noda untuk perpolitikan saat ini. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan politik yang sangat haus untuk mendapatkan kekuasaan. Islam mendefinisikan politik sebagai sebuah ri’ayah atau pengurusan terhadap urusan masyarakat secara menyeluruh dan totalitas.

Pemikiran politik yang salah hanya mampu mengandalakan nafsu duniawi untuk mendapatkan kekuasaan, sehingga perlu dibenahi terlebih dahulu konsep berpikir tentang politik untuk mengedukasi masyarakat dengan pendidikan politik yang tidak serendah penilaian berdasarkan paparan fakta yang telah diungkapkan diatas.

Dan dengan pemikiran politik Islam yang sudah terbukti bisa bertahan selama kurang lebih 13 abad, Islam mampu mengangkat pemikiran manusia menjadi pemikiran yang tinggi untuk berubah dan mengubah masyarakat menjadi satu kesatuan dengan memiliki sudut pandang yang sama tentang perpolitikan.[MO/sr]


Posting Komentar