Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Luar biasa, Jokowi mampu menerjemahkan kisi-kisi dari torehan tinta pada kertas yang dibacanya dengan sangat luar biasa, nyaris sempurna.

Bahkan, mimik saat menunduk dan mengutip tulisan kemudian memandang audiens dengan tatapan tegas penuh wibawa, menyihir seluruh audiens yang hadir dan pemirsa se Indonesia yang menyimak debat Pilpres.

Ternyata, Jokowi rajin membaca itu bukan isu. Bahkan hingga debat Pilpres pun, tak melupakannya dari aktivitas membaca. Ini pertanda, masa depan bangsa ini akan menjadi generasi cerdas, generasi tangguh, generasi pintar karena kelak pemimpin akan memimpin rakyatnya untuk gemar 'membaca'.

setiap redaksi bacaan mampu diterjemahkan dalam bahasa agitasi yang begitu menginspirasi. Jutaan pasang mata tertegun, tak mampu berucap, untuk menggambarkan betapa 'memukau' pemaparan (baca: bacaan) yang disampaikan Jokowi.

Ini baru debat Pilpres sesi pertama, masih ada empat sesi dari total lima sesi yang direncanakan KPU. Saya yakin, dengan penampilan memukau ini, Jokowi mampu meraup elektabilitas yang luar biasa pada setiap acara sesi debat.

Jika sesi debat ini dilakukan sehari menjelang pemilihan, tentu bisa diprediksi berapa prosentasi elektabilitas yang mampu diunduh atas bacaan yang memukau. Setiap sesi debat, TKN Jokowi akan menghitung berapa benefit elektabilitas yang diperoleh Jokowi.

Hari-hari Kedepan, akan membuat jantung semakin dag dig dug der. Jutaan pasang mata akan memberi penilaian sekaligus membuat keputusan : memilih atau meninggalkan Jokowi.

Sayangnya, bacaan Jokowi hanya digemari kaum cebong. Para pendukung, apapun yang terjadi pada Jokowi, akan tetap meneruskan yel yel kebanggaan. Yel yel kecongkakan.

Sementara publik, akan melihat Pilpres sebagai agenda untuk menggerus dukungan publik. Setiap tampil, dengan model bacaan ini, akan menggerus suara publik untuk mendukung Jokowi.

Bisa dihitung, tingkat ketergerusan setiap sesi Pilpres. TKN Jokowi sedang sibuk membuat strategi antisipasi. Semakin melihat penampilan Jokowi, semakin mengkhawatirkan.

Ulasan netizen yang memberi penilaian pasca debat bukan menguntungkan tapi justru sangat merugikan. Debat Pilpres, memberi inspirasi bagi netizen untuk melihat lebih jauh, seberapa besar bacaan visi misi berpengaruh pada penurunan elektabilitas. Ini gawat ! Jokowi memberi inspirasi para netizen untuk mengkritik.

Ini baru pada tampilan debat, kemasan visi misi, belum lagi masuk substansi. Pasti, akan selalu ada 'yang menguliti' visi misi Jokowi termasuk gaya bacaannya. Ini gawat !

Erick Thohir wajib turun gunung, jika sebelumnya sudah turun gunung sekarang musti menyeberang ke kalut dan siapkan sekoci. Jika tidak, elektabilitas Jokowi akan semakin tenggelam karena acara debat Pilpres. Kalau bisa, Pilpres dipercepat tanpa agenda debat. [MO/ge]

Posting Komentar