Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-HAM dan terorisme adalah tema yang dibahas dalam acara debat perdana capres dan cawapres 2019. Mampukah mereka menyelesaikan permasalahan pelanggaran HAM dan terorisme? Dalam sistem demokrasi penguasa adalah orang yang kebal hukum.

Hukum digunakan alat untuk mempertahankan kekuasaannya. Orang yang berani melawan penguasa akan mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Jadi penguasalah pelanggar HAM sejati.

Pelanggaran HAM ini sulit diusut karena menyangkut orang yang punya kekuasaan. Pelanggaran HAM didukung hukum saat penguasa sedang berkuasa. Pelanggaran hanya bisa diadili saat penguasa sudah lengser dari kekuasaannya.

Sementara, terorisme muncul karena kebuntuan saluran hukum saat rakyat ingin memperoleh keadilan. Mereka tidak tahu bagaimana memperoleh keadilan sementara hukum selalu berpihak pada penguasa.

Terorisme bisa juga sengaja diciptakan oleh musuh-musuh Islam yang ingin mendiskreditkan ajaran Islam yang mulia. Islam selalu yang dituduh sebagai terorisme sementara kelompok Gerakan Kriminal Bersenjata (GKB) yang ingin melepaskan diri dari Indonesia hanya dianggap kelompok kriminal bukan teroris yang harus diperangi bersama. 

Penguasa yang tidak lurus, bersih dari pekanggaran HAM, mana mungkin  akan menyelesaikan masalah pelanggaran HAM dan terorisme. Selama penguasa masih berpegang pada demokrasi, menyelesaikan permasalahan itu adalah ide utopis.

Kedua Calon Presiden di pilpres 2019 memiliki catatan buruk tentang pelanggaran HAM. Tidak bisa berharap banyak bahwa mereka menyelesaikan permasalahan pelanggaran HAM dan terorisme, kecuali mereka menyadari kesalahan mereka dan kembali pada aturan Islam.

Pak Prabowo di pada zaman order baru diindikasikan melakukan pelanggaran HAM dalam kasus penculikan aktivis mahasiswa yang kritis terhadap penguasa saat itu. Masih juga teringat kasus tanjung priok yang melibatkan penguasa di zaman itu.

Banyak korban, aktivis yang menolak diberlakukan asas tunggal, Pancasila. Penguasalah yang mempunyai peluang besar melakukan pelanggaran di sistem demokrasi karena hukum melindunginya saat kekuasaan ada pada genggamannya.

Apakah Pak Jokowi terbebas dari pelanggaran HAM? Memang tidak ada yang diculik atau dibunuh secara masal. Namun banyak aktifis kritis dari ulama' dibungkam dengan kekuasaannya. Mereka dikriminalkan dan bahkan berani mengkriminalkan ajaran Islam.

HTI yang merupakan ormas yang lurus menperjuangkan ajaran Islam Kaffah di cabut BAPnya tanpa melalui proses hukum yang berkeadilan. Ini adalah pelanggaran HAM. Namun selama Pak Jokowi berkuasa, tidak ada yang berani menyelesaikan kasus ini karena penegak hukum yang seharusnya berpihak pada rakyat, tersandra oleh penguasa sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.

Dalam Sistem Islam pemimpin sangat menghargai dan melindungi rakyatnya. Banyak kisah seorang khalifah dikalahkan didepan hukum oleh rakyat biasa.

Tentunya ini tidak pernah kita temukan dalam sistem demokrasi. Sebagai contoh khalifah al-Fatih dijatuhi hukuman potong tangan karena keputusannya yang salah telah menghilangkan tangan seeorang.

Atau karena pendapat seorang perempuan tentang mahar dalam pernikahan, seorang khalifah merubah keputusannya. Dan ada kisah yang saat masyhur bahwa seorang Yahudi mengalahkan atas kasus kepemilikan baju besi untuk perang.

Padahal lawannya adalah seorang khalifah, pemimpin sebuah negara yang besar. Keadilan hukum sungguh ditegakkan dalam sistem khilafah. Dan rakyat biasapun bisa menyampaikan kritik dan pendapatnya tanpa takut diancam dengan delik aduan ujaran kebencian.  Seorang pemimpin dalam Islam mau mendengarkan dan mempertimbangkannya masukan dari rakyatnya selama hujahnya kuat dari al-Qur'an dan as-Shunah.

Saat ini keadilan hukum adalah ilusi, tidak mungkin terjadi. Rakyat terpaksa harus turun ke jalan dan melakukan aksi untuk memperoleh keadilan hukum dan agar penguasa mau mendengarkan aspirasi rakyatnya.

Pemimpin sukanya menggunakan kamauannya sendiri dan memaksakan keinginannya sehingga rakyat menjadi korban. Jika ingin menyelesaikan masalah pelanggaran HAM dan terorisme, hanya ada satu jalan  yaitu  kembali pada Islam.[MO/ge]

Posting Komentar