Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Aneh, ada meme unik dengan senyum simpul menafsirkan secara sepihak bahwa 'berfikir merdeka itu jika ia bebas memilih sikapnya terlepas akhirnya berlabuh di kubu politik manapun'.

Kemudian mempersoalkan pemikir, penulis, wartawan yang mengkritik Pemerintah itu berjiwa merdeka dan idealis, sementara yang pro Pemerintah tidak merdeka.

Agar tak salah memahami hakekat 'berfikir merdeka' atau istilah yang dipopulerkan oleh Dr. Syahganda Nainggolan sebagai 'orang-orang merdeka' maka saya akan membuat definisi dan batasan yang membuat semua orang bisa membuat klasifikasi dan penafsiran terhadap ide,

pemikiran, atau sebutan untuk tulisan itu merdeka atau 'terpenjara' baik terpenjara 'oleh ketakutan atas kezaliman rezim' atau terpenjara 'oleh godaan sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan.

Deny JA jelas keliru, ketika menyimpulkan berfikir merdeka itu merujuk pada sikap politik apakah pro rezim atau kontra rezim. Keliru pula, ketika menafsirkan bahwa 'pilihan politik tetap menopang rezim zalim' sebagai bentuk kemerdekaan berfikir 'meskipun suara mayoritas rakyat' menghakiminya sebagai penjilat, antek rezim, penopang kezaliman.

Saya akan coba membuat batasan, berfikir merdeka atau apa yang disebut sebagai 'orang-orang merdeka' adalah orang yang secara mandiri bertindak merdeka, memiliki otoritas penuh terhadap dirinya, untuk menyuarakan kebenaran dan meneruskan aspirasi kehendak rakyat, meskipun berseberangan dengan kebijakan penguasa zalim.

Jadi, yang layak disebut penulis, pemikir, orang mereka, adalah siapa saja yang berani lantang meneriakkan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan penguasa zalim, menyuarakan aspirasi dan kehendak rakyat, meskipun tindakan itu beresiko mendapat tindakan keji, ancaman, bahkan penindasan dari penguasa zalim yang merasa kepentingannya terganggu oleh pemikiran, tulisan dan kritik orang-orang merdeka.

Jadi, bagaimana mungkin Anda ingin disebut merdeka dalam berfikir dan menulis dengan berdalih 'survey dan analisis data' sementara tulisan itu memang sengaja didedikasikan untuk menopang kekuasaan zalim dan untuk menangguk remah-remah dari sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan ?

Anda ingin disebut penulis berjiwa merdeka, padahal pena Anda telah dialiri tinta kekuasaan, yang tidak mungkin menulis -satupun huruf pun- kecuali menebarkan puja-puja dan legitimasi pada setiap inchi kezaliman ?

Bagaimana mungkin Anda ingin mendapat maqam sebagai penulis-penulis merdeka, yang menulis dibalik 'ancaman tirani penguasa' sementara redaksi yang Anda tuliskan, tidak lebih dari kalimat yang meninabobokan rakyat ?

Kalimat yang menyihir 'kezaliman' sebagai sebuah prestasi politik dan Legacy keberhasilan mengelola negara ?

Siapapun Anda, yang menulis untuk menopang kekuasaan Jokowi, baik Anda berdalih teori-teori ndakik-ndakik, berdalih survey dan data-data, saya katakan kepada Anda, bahwa Anda bukan orang merdeka. Anda adalah budak kekuasaan yang tidak pernah bisa keluar dari dua penjara : tak berani melawan ancaman kezaliman dan tak sanggup menolak godaan lezatnya remah-remah dunia dari penguasa.

Bagaimana mungkin, siapapun Anda, yang bermodal meme, memoles citra penguasa, mendapat bayaran dari rezim, lantas ingin disebut 'penulis merdeka' yang berani mengambil jalan terjal dan perlawanan yang setiap saat selalu berhadapan dengan penguasa zalim ?

Sekali lagi, orang-orang merdeka, penulis-penulis merdeka, pemikir-pemikir merdeka itu ada diseberang penguasa zalim, bukan yang berkelindan mencari makan diantara remah-remah istana.
Anda boleh membuat tafsir sendiri, tapi ketahuilah sejarah akan mencatat dan mengabadikan siapa orang-orang merdeka, dan siapa barisan antek rezim.

Memang benar, Pilpres di negeri ini telah membuat polarisasi yang sangat luar biasa. Bukan hanya terhadap partai dan simpatisannya. Tetapi juga terhadap wartawan, penulis, pemikir, kaum cerdik pandai, kaum cendekiawan, bahkan hingga orang kebanyakan.

Saya menyatakan diri sebagai orang merdeka, berdiri diseberang kekuasaan zalim Jokowi, dan saya mengumumkan penentangan kepada siapapun yang mengambil posisi berdiri sebagai antek rezim.

Silahkan, keluarkan seluruh kemampuan yang kalian miliki untuk menopang rezim, tapi ingatlah ! Saya telah bersumpah untuk melawan rezim zalim, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama, baik secara sembunyi maupun terbuka dan terang-terangan, baik untuk kemenangan yang dekat hingga kemenangan yang mewakili hakekat.

Anda menerima tantangan saya ? Silahkan Anda menulis, dan saya akan siap melawan pada setiap paragrafnya, saya akan membongkar seluruh ujaran para penjilat yang menopang kekuasaan rezim zalim. Selamat datang dipertarungkan pemikiran dan politik terbuka, di era sosial media. [MO/ge]

Posting Komentar