Oleh: Sumiati 
Akademi Menulis Kreatif 

Mediaoposisi.com-Setiap orang ketika akan berjualan tentu harapan utamanya adalah mendapat untung berupa materi. Karena bagi umat Islam sudah ditetapkan qimah (nilai) dalam setiap aktivitas. Termasuk berjualan tujuan berjualan adalah mendapatkan materi.

Dan siapapun tidak ada pedagang yang ingin rugi dalam berjualan. Namun serba serbi berjualan untung rugi sudah lumrah terjadi.

Status media sosial Afi Nihaya Faradisa yang mengomentari apa yang dilakukan oleh artis yang terjerat kasus prostitusi yakni VA, menurutnya adalah sama dengan berjualan.

Ada permintaan, ada penawaran. Hukum pasar dalam bidang ekonomi pasti seperti itu. Menurut Afi, VA berhasil melampaui hukum pasar tersebut, dia menciptakan pasarnya sendiri.

Dia yang memegang kontrol dan otoritas atas harga, bukan konsumennya. Saya justru penasaran bagaimana VA membangun value/nilai dirinya, sehingga orang-orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. Seperti produk Apple Inc. atau tas Hermes-- kita bisa belajar dari sana.

Yang lebih parah Avi membandingkan dengan peran seorang istri (ibu rumah tangga). Menurutnya, padahal seorang istri saja diberi uang bulanan 10 juta sudah merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, babysitter, dan lain-lain. Lalu, yang sebenarnya murahan itu siapa? Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun.

Dia lupa kalau kemuliaan manusia terlalu rendah jika harus dibeli dengan materi walau sangat besar. Karena ada jual beli haqiqi yang tidak mengenal rugi. Jual beli yang tidak menghinakan diri. Dan kehormatan terjaga hingga mati.

Allaah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an.
Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." (Q.S.9:111)

Berjual beli dengan Allah yang haqiqi.

“Dari Jabir bin Abdullah RA, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam pernah masuk ke pasar melalui jalan yang tinggi dengan diikuti orang banyak di kanan kiri beliau. Kemudian beliau menemukan seekor anak kambing yang mati dengan kedua telinga yang kecil.

Setelah itu beliau mengangkat anak kambing itu dengan beliau pegang telinganya seraya bertanya, “Siapakah di antara kalian yang mau membeli kambing ini seharga satu dirham?” Orang-orang menjawab, “Tentu kami tidak ingin membelinya ya Rasulullah.

Untuk apa membeli kambing yang telah menjadi bangkai.” Beliau bertanya lagi, “Apakah ada di antara kalian yang ingin memilikinya tanpa harus membeli?” Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya kambing itu masih hidup, maka kambing tersebut cacat, yaitu telinganya yang kecil. Terlebih lagi kini ia telah menjadi bangkai.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Demi Allah, sungguh dunia itu di sisi Allah nilainya lebih hina daripada hinanya bangkai anak kambing ini di mata kalian.” (HR.Muslim 8/210-211)

Ya, nilai dunia itu lebih hina dari bangkai seekor kambing. Itu nilai seluruh dunia apalagi hanya 80 juta rupiah. Jelas tidak  akan dilirik oleh orang yang beriman. Terlalu menjijikan jika bandingkan pelacur 80 juta dengan istri shalihah yang diberi nafkah 10 juta.

Meski cuma diberi nafkah satu juta pun, bagi istri shalihah bukan itu bayaran atas semua letihnya kerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Namun, Surga bayaran yang pantas atas seluruh peluh yang menetes disebab taat pada suami juga mendidik buah hatinya.

Dalam perjalanan isra’ Rasululah SAW melihat kumpulan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang sangat dahsyat penyiksaannya dan azab yang ditimpakan kepada mereka. Mereka digantung dadanya dengan rantai api neraka.

Sedang farji mereka keluar nanah dan danur yang sangat busuk sehingga teramat busuknya. Ahli neraka sendiri meminta agar mereka-mereka ini dijauhkan dari mereka. Inilah manusia-manusia yang melakukan zina ketika di dunia. Rasululllah telah mengingatkan kita mengenai zina ini.

Rasulullah Saw bersabda, “Jauhilah oleh kamu akan zina karena kecelakaannya ada empat macam : Hilang kebagusan pada mukanya, disempitkan rezekinya dan kemurkaan Allah SWT atasnya dan menyebabkan kekalnya di neraka,” (HR. Thabrani).

Berbeda dengan wanita shalihah. “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini,

“Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan di dalam hadits–nya. Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Satu tempat di surga yang sebesar cambuk lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Bukhori).

Dalam sebuah hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

Demi Allâh! Dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti seseorang dari kalian yang mencelupkan salah satu jemarinya ke laut), maka lihatlah apa yang ada pada jarinya tersebut saat ia keluarkan dari laut! (HR. Muslim).

Semoga kita semua tidak tertipu dengan kehidupan dunia yang fana.

Posting Komentar